Terusan Suez (http://english.ahram.org.eg/Media/News/2015/8/6/2015-635744643873669384-366.jpg)

Hari ini, 61 tahun silam, Inggris dan Prancis membom Kairo. Mereka ingin memaksa Mesir membuka kembali Terusan Suez. Mesir melawan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Krisis Suez, krisis internasional di Timur Tengah yang menerus sejak Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, menasionalisasi kanal ini pada 26 Juli 1956. 

Nasionalisasi itu dilakukan Nasser untuk membalas apa yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang batal membiayai pembangunan bendungan Aswan. Pembatalan dilakukan sebagai tanggapan atas mesranya hubungan Mesir dengan Republik Cekoslovakia komunis dan Uni Soviet.

Terusan Suez semula dimiliki oleh Perusahaan Terusan Suez, yang dikendalikan oleh kepentingan Prancis dan Inggris.

Nasser lalu mengumumkan darurat militer di zona kanal, merebut kendali atas Perusahaan Terusan Suez, dengan asumsi laba yang terkumpul dari kapal yang melewati kanal tersebut bisa dipakai untuk membayar pembangunan bendungan tersebut dalam waktu lima tahun.

Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir saat terjadi Krisis Suez (https://2k8r3p1401as2e1q7k14dguu-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2014/11/Nasser_in_Mansoura_1960.jpg)

Inggris dan Prancis pun gerah. Pasalnya mereka menduga Nasser bisa saja menutup kanal dan memotong pengiriman minyak yang mengalir dari Teluk Persia ke Eropa barat.

Postcomended   21 November dalam Sejarah: Thomas Edison Temukan Alat Putar dan Rekam Suara Pertama

Ketika upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis tersebut gagal, Inggris dan Prancis diam-diam mempersiapkan tindakan militer untuk mendapatkan kembali kendali atas kanal tersebut. Jika mungkin, sekalian menyingkirkan Nasser.

Mereka menemukan sekutu mereka siap di Israel, yang permusuhannya terhadap Mesir diperburuk oleh penyerbuan Nasser ke Selat Tiran (di muara Teluk Aqaba) dan banyak serangan oleh pasukan komando yang didukung Mesir ke Israel selama 1955-1956.

Pada 29 Oktober 1956, 10 brigade Israel menyerang Mesir dan maju menuju kanal, menghadaoi pasukan Mesir. Sehari kemudian, lebih banyak lagi tentara didrop ke timur Mitla Pass. Tentara mulai menyeberangi batas negara di Qussaima.

Geram dengan kengototan Mesir, pada 31 Oktober, Inggris dan Prancis akhirnya membom Kairo dan bandara internasional Kairo untuk memaksa pembukaan Terusan Suez. Nasser meresponnya dengan menenggelamkan 40 kapal mereka.

Postcomended   29 November dalam Sejarah: PBB Setuju Palestina Dibelah Dua

Inggris dan Prancis –sesuai rencana mereka sendiri– lalu menuntut agar tentara Israel dan Mesir mundur dari kanal tersebut, dan mengumumkan bahwa mereka akan melakukan intervensi dengan memberlakukan gencatan senjata yang diperintahkan oleh PBB.

Pada 5-6 November 1956, pasukan Inggris dan Prancis mendarat di Port Said dan Port Fuad dan mulai menempati zona kanal. Langkah ini segera diikuti meningkatnya oposisi di dalam negeri Mesir dan oleh resolusi yang disponsori AS di PBB (sebagian dilakukan untuk melawan ancaman intervensi Soviet), yang segera menghentikan aksi Anglo-Prancis.

Pada 22 Desember tentara Inggris dan Prancis dievakuasi. Sementara pasukan Israel mundur pada Maret 1957.

Singkat cerita, Nasser muncul dari Krisis Suez sebagai pemenang dan pahlawan untuk kepentingan nasionalisme Arab dan Mesir. Israel tidak mendapatkan kebebasan menggunakan kanal tersebut, namun memperoleh kembali hak pengiriman di Selat Tiran.

Postcomended   3 Desember dalam Sejarah: Awan Metil Isosianat Tewaskan Ribuan Warga Bhopal

Inggris dan Prancis kurang beruntung. Mereka kehilangan sebagian besar pengaruhnya di Timur Tengah sebagai akibat dari episode tersebut.(***/britanica/bbc)

Share the knowledge