Nasional

32 Tahun Lagi Seluruh Jakarta Bisa Terhisap Tanah

Future Cities

Apa kota yang paling cepat tenggelam di dunia menurut para peneliti? Jawabannya, Jakarta! Para peneliti bahkan mengatakan, kota bagian dari megacity dunia ini bisa tenggelam sepenuhnya pada 2050; tinggal 32 tahun lagi dari sekarang.

Kota berpenduduk 10 jutaan orang ini, BBC melaporkan, tumbuh di atas tanah berawa; digempur ombak Laut Jawa, dengan 13 sungai mengalir melaluinya. Tidak mengherankan jika banjir sering terjadi di ibukota Indonesia ini, yang menurut para pakar makin parah saja.

Tapi  lebih dari itu, megacity ini akan benar-benar ambles ke tanah. “Potensi Jakarta untuk tenggelam bukan bahan tertawaan,” kata Heri Andreas yang telah mempelajari penurunan tanah Jakarta selama 20 tahun terakhir, di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Jika melihat model yang kami miliki, pada 2050 sekitar 95% dari Jakarta Utara akan tenggelam.”

Ini sudah terjadi, Jakarta Utara telah tenggelam 2,5 m dalam 10 tahun dan terus tenggelam sebanyak 25 cm per tahun di beberapa bagian; ini lebih dari dua kali lipat rata-rata global untuk kota-kota besar pesisir.

Jakarta tenggelam dengan rata-rata 1-15 cm per tahun dan hampir separuh kota sekarang berada di bawah permukaan laut.  Di Jakarta Barat, tanah tenggelam 15 cm setiap tahun. Di Timur dilaporkan tenggelam 10 cm setiap tahun, 2 cm di Jakarta Pusat, dan 1 cm di Jakarta Selatan.

Di distrik Muara Baru, lantai dasar satu gedung perkantoran yang terbengkala, digenangi air. Tanah di sekitarnya lebih tinggi sehingga air tidak memiliki jalan untuk mengalir. Memperbaiki untuk jangka pendek bisa saja dilakukan, yang tidak bisa dilakukan adalah menghentikan tanah menghisapnya. “Tahun demi tahun, tanah terus tenggelam,” kata Ridwan, warga Muara Baru.

Postcomended   “Jurassic World: Fallen Kingdom” Belum Lagi Tayang, Spielberg Sudah Siapkan Sekuel Ketiga yang Bakal Dirilis 2021

Jakarta Utara secara historis adalah kota pelabuhan, bahkan saat ini Tanjung Priok menjadi salah satu pelabuhan laut tersibuk di Indonesia. Lokasinya yang strategis di mana sungai Ciliwung mengalir ke Laut Jawa, adalah salah satu alasan mengapa kolonialis Belanda memilih Jakarta sebagai pusat kesibukan mereka di abad ke-17.

Saat ini, tulis BBC, sebanyak 1,8 juta orang tinggal di kota; campuran yang aneh dari bisnis pelabuhan yang memudar, komunitas pesisir yang miskin, dan populasi besar orang Indonesia Tionghoa yang kaya.

Postcomended   Survei: Satu dari 10 Peneliti "Diundang Minum Teh" oleh Polisi Cina

Fortuna Sophia, yang tinggal di sebuah vila mewah dengan pemandangan laut, mengatakan, retakan muncul di dinding dan pilar setiap enam bulan. Para petugas pemeliharaan rumahnya itu mengatakan, retakan itu disebabkan pergeseran tanah. Tidak itu saja, banjir telah beberapa kali terjadi sejak empat tahun menghuni vila tersebut. Air laut mengalir masuk dan menutupi kolam renangnya.

Penduduk pesisir yang pernah memiliki pemandangan laut sekarang hanya melihat tanggul abu-abu kusam, yang terus diperbaiki agar air laut tidak masuk ke daratan yang lebih rendah dari permukaan laut.

Namun fakta lingkungan ini bagai tak dipedulikan para pengembang properti. Apartemen mewah kian banyak memenuhi langit Jakarta Utara, tanpa menghiraukan risikonya. Kepala Dewan penasehat Asosiasi Pengembangan Perumahan Indonesia, Eddy Ganefo, mengatakan telah mendesak pemerintah untuk menghentikan pengembangan lebih lanjut di Jakarta Utara. Namun kata dia, selama pengembang bisa menjual apartemen, pembangunan akan berlanjut.

Kota-kota pesisir di seluruh dunia dilaporkan telah terpengaruh oleh naiknya permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Peningkatan permukaan laut terjadi karena ekspansi termal; air yang mengembang karena panas ekstra, selain juga akibat mencairnya es di kutub. Jakarta merupakan kota yang percepatan tenggelamnya sangat mengkhawatirkan para ahli. Kisah selengkapnya, simak di sini.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top