Hasan Tiro (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/8/87/Hasan_Tiro.jpg/220px-Hasan_Tiro.jpg)

Hari ini, 1976, Hasan di Tiro, tokoh sentral gerakan separatis Aceh, mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sebuah gerakan untuk memerdekakan Aceh dari Indonesia. Keputusan ini diambil Hasan karena kekecewaannya pada pemerintah Indonesia, khususnya terkait operasi militer yang digelar di Tanah Rencong tersebut. Terlebih lagi kemudian kewarganegaraan Indonesianya dicabut.

Tidak seperti Ramos Horta, Hasan bukan sosok orang asing bagi Indonesia. Hasan seperti kebanyakan warga Indonesia, menghabiskan masa sekolah formalnya hingga perguruan tinggi di Indonesia.

Pada 1945 ia kuliah di jurusan hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan lulus pada 1949. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk melanjutkan sekolah di Universitas Columbia, Amerika Serikat (AS). Dia mengambil jurusan hukum internasional.

Di masa perkuliahan, Hasan terlibat aktif di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Ia juga pernah bekerja di Dinas Penerangan Delegasi Indonesia di PBB dan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

 

Hasan awalnya mencintai Indonesia, hingga kemudian jiwanya memberontak ketika militer Indonesia menindas rakyat Aceh yang memberontak dengan menerapkan Daerah Operasi Militer (DOM)

Postcomended   19, 20, 21 Agustus dalam Sejarah: Perbudakan di AS Dimulai

Pada 1954, dari AS Hasan melayangkan surat terbuka kepada Pemerintah Indonesia agar menghentikan penyerangan terhadap pasukan DI/TII Aceh yang dipimpin Daud Beureueh.

Dia mengancam akan membawa permasalahan itu ke sidang PBB jika permintaannya tidak dituruti. Alih-alih dikabulkan, surat yang menggambarkan niat baiknya malah dibalas dengan penarikan kewarganegaraannya oleh pemerintah Indonesia. Hasan terpaksa menetap di Amerika.

Pada 1974, Hasan menemui Gubernur Aceh Muzakir Walad. Hasan meminta dilibatkan dalam pembangunan tambang gas di Arun. Namun dia dikalahkan oleh Bechtel dalam proses tender. Hasan kembali kecewa ia merasa bahwa otonomi daerah serta hak mengelola kekayaan alam hanyalah isapan jempol belaka.

Pada 30 Oktober 1976, Hasan pulang ke Aceh dari AS. Saat itu di dalam kepalanya sudah dipenuhi ide separatisme. Bersama dengan sekelompok orang yang dipimpin M Daud Husin, Hasan melanjutkan perjalanan menuju Gunong Halimon, Pidie, dan bertahan di hutan untuk memulai menyusun strategi perang.

Postcomended   1 November dalam Sejarah: Mustafa Kemal Ataturk Mengakhiri Kekaisaran Ottoman

Pada 4 Desember 1976, Hasan mendeklarasikan GAM, sebuah gerakan separatis untuk memerdekakan Aceh dari Indonesia. Keputusan ini diambil Hasan karena kekecewaannya pada pemerintah Indonesia, khususnya terkait operasi militer yang digelar di Tanah Rencong tersebut.

 

Pemilihan 4 Desember sebagai hari deklarasi perjuangannya, menurut Hasan disebabkan pada 4 Desember 1911 Belanda menyatakan Aceh sudah kalah. Penyebabnya karena Belanda berhasil membunuh pimpinan perang Aceh Tengku Chik Mat dalam pertempuran di Alue Bhot, Tangse, Pidie pada 3 Desember 1911.

Namun tak adanya dukungan dari negara lain untuk kemerdekaan Aceh, membuat perjuangan Hasan mentok. Akhirnya melalui perundingan damai antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, GAM dan Pemerintah Republik Indonesia sepakat menghentikan perang yang telah berlangsung selama kurang lebih 29 tahun tersebut. Melalui perjanjian Helsinki, Aceh mendapat status otonomi yang lebih besar.

Postcomended   3 Desember dalam Sejarah: Awan Metil Isosianat Tewaskan Ribuan Warga Bhopal

Satu hari setelah mendapatkan status kewarganegaraannya kembali, Hasan meninggal dunia 3 Juni 2010 pada umur 84 tahun. Dia dimakamkan bersebelahan dengan makam buyutnya Teuku Cik di Tiro, di Meureu, Indrapuri, Aceh.(***/mediaaceh.co)

Share the knowledge