Nasional

4 Juli dalam Sejarah: Sukarno dkk Mendirikan Partai Politik Pertama yang Membuat Belanda Kebakaran Janggut

Saat berorasi di Landraad, Sukarno menyebut Tjipto Mangunkusuma sebagai salah satu pendiri PNI (sumber foto: KITLV)

Pada tanggal ini tahun 1927, di tengah tentangan Tjipto Mangunkusumo, Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Paviliun rumah di Regentsweg nomor 22 (Jalan Dewi Sartika) Bandung, menjadi saksi. Mengapa Tjipto menentang? Padahal Sukarno tetap memasukannya ke dalam susunan pendiri PNI.

Dalam buku biografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, Sukarno mengatakan, bahwa dia mendirikan PNI dengan dukungan enam orang kawan dari Algemeene Studieclub.

Enam kawan yang dimaksud Sukarno adalah Soenario, Iskaq Tjokrohadisurjo, Sartono, Budyarto Martoatmojo, Samsi Sastrowidagdo, dan Tjipto Mangunkusumo.

Mereka kala itu masih berusia rata-rata dipertengahan 20-an. Tjipto –yang tertua di antara mereka– menentang pendirian partai politik karena menurutnya itu bakal mengundang reaksi keras pemerintah kolonial.

Postcomended   24 Juli dalam Sejarah: Situs Machu Picchu Ditemukan Arkeolog Amerika

Terlebih kata Tjipto, Belanda baru setahun sebelumnya menumpas perlawanan PKI, dimana Tjpto dituduh membantu anggota PKI yang memelopori pemberontakan pada 1926.

Para pendiri PNI sepakat memilih Sukarno sebagai ketuanya karena dianggap paling populer: pada setiap cangkir kopi tubruk, di setiap sudut di mana orang berkumpul, nama Bung Karno menjadi buah mulut orang, Iskaq mengatakan.

PNI sempat menyelenggarakan kongres dua kali. Kongres pertama diselenggarakan di Surabaya pada 28-30 Mei 1928 dan kongres kedua di Jakarta, 18-20 Mei 1929.

Materi pembicaraan kongres I dan II tak banyak jauh berbeda: tetap kritis terhadap pemerintah kolonial. Hanya saja pada kongres kedua, peserta kongres menyanyikan “Indonesia Raya” yang sekaligus dicanangkan sebagai lagu resmi partai.

Apa yang dicemaskan Tjipto menjadi kenyataan. Pemerintah Kolonial kebakaran janggut.

Postcomended   17 Januari dalam Sejarah: Ferdinand Marcos Nyatakan Diri sebagai Presiden Seumur Hidup

Merle Calvin Ricklefs (75), pengamat sejarah Indonesia periode 1600-1900-an
asal Australia mengatakan, “Pemerintah kolonial mulai melawan para pemimpin baru. Pada kurun waktu itu komunitas orang-orang Belanda juga semakin condong ke kanan serta merasa sangat cemas dan sakit dengan rapat-rapat umum yang besar, di mana Sukarno dan pemimpin-pemimpin lainnya dengan seenaknya mencerca penguasa kolonial.”

Kecemasan Belanda akhirnya berujung pada penangkapan para pemimpin PNI. Pada 29 Desember 1929, Sukarno beserta Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepradja, ditangkap di Yogyakarta usai menghadiri rapat umum, disusul penangkapan ratusan pemimpin PNI lainnya dari seluruh Indonesia.

Penangkapan besar-besaran ini kata Ricklefs, membuat kegiatan politik PNI lumpuh. “Tanpa Sukarno, PNI sangat lemah,” ujarnya.

Akan tetapi, kata Ricklefs, konsep nasionalisme Indonesia yang tidak mempunyai kaitan keagamaan maupun kedaerahan tertentu, mulai diterima secara luas di kalangan elit.(***/disarikan dari Historia.id)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top