Julian Assange bersama kucing peliharaannya di di Kedubes Ekuador di London (https://pbs.twimg.com/media/CjI8qrkWgAAXv_1.jpg)

Hari ini 11 tahun silam, segala rezim dan pemimpinnya di dunia, ketar-ketir. Satu situs pembocor rahasia telah didirikan. Nama situs ini mengambil dari kata “wiki” yang berarti “situs yang isinya bisa disumbang siapapun”, dengan “leaks” yang artinya bocor. Maka jadilah situs ini bernama “Wikileaks”. Akibat ulahnya, sang pendiri Wikileaks, Julian Assange, kini terpaksa ngumpet di kedutaan Ekuador di London, Inggris, karena Amerika Serikat (AS) dan juga sekutunya, Inggris, yang sering menjadi bulan-bulanan Wikileaks, berhasrat menangkapnya.

BBC menulis, setiap orang boleh mengirimkan informasi ke Wikileaks tanpa harus menyebutkan nama. Namun ada sebuah tim yang terdiri dari para sukarelawan berupa wartawan dan staf Wikileaks sendiri, yang memutuskan apakah dokumen itu layak dimuat atau tidak di situs mereka.

Kepada BBC, Assange pernah mengatakan, Wikileaks menggunakan teknik kriptografi yang canggih untuk melindungi sumber, selain juga melindungi secara hukum.

Wikileaks secara resmi beroperasi di bawah organisasi yang diberi nama Sunshine Press. Organisasi ini mengaku mendapat dana dari para pegiat hak asasi manusia, wartawan investigatif, ahli teknologi, dan khalayak umum.

Postcomended   Topan Harvey Mengubah Jalanan di Texas Menjadi Lautan

Ketika pertama kali muncul di dunia maya pada 2006, Wikileaks sudah memancing kontroversi dan terlibat dalam berbagai gugatan hukum. Bagaimana tidak, dokumen rahasia negara berisi strategi-strategi memalukan pemerintahan, diawur-awur di situs ini, dan menjadi santapan lezat media di seluruh dunia.

Assange menjadi incaran Washington lantaran merilis ribuan dokumen militer dan diplomatik AS yang didapat WikiLeaks dari tentara yang pernah bertugas di Timur Tengah bernama Bradley Manning.

Salah satunya kasus pembocoran 500 dokumen rahasia militer AS oleh WikiLeaks terkait perang di Afghanistan dan Irak beberapa waktu lalu. Manning misalnya mengabarkan via Wikileaks tentang helikopter tentara AS yang menembaki mobil yang berisi wartawan dan warga lokal.

Setelah lima tahun menjadi “warga” suaka kedubes Ekuador di Inggris untuk menghindari upaya ekstradisi ke Swedia, sempat berhembus kabar Assange terancam diusir dari kedubes tersebut jika calon presiden Guillermo Lasso terpilih jadi presiden.

Postcomended   "Genosida Intelektual" Telah Menjegal Rencana Besar Bung Karno untuk 1980-an

Dalam kampanyenya pada Februari 2017, pemimpin partai kanan Aliansi Creo-Suma ini mengatakan akan memberi waktu satu bulan bagi Assange untuk keluar dari kedutaan Ekuador, jika dia terpilih. Alasannya, biaya suaka Assange yang ditanggung pemerintah Ekuador, tidak murah.

“Warga Ekuador telah membayar biaya yang seharusnya tidak wajib mereka tanggung,” ujar Lasso dalam wawancara dengan The Guardian di Quito, 9 Februari 2017.

Namun rupanya kampanye Lasso itu tidak populer di mata rakyat Ekuador, hingga pada April, melalui mekanisme “hitung cepat” saja, Lasso sudah dinyatakan kalah. Assange melalui akun Twitter-nya berkicau, “Saya secara hormat meminta Lasso meninggalkan Ekuador dalam waktu 30 hari (dengan atau tanpa jutaan uang di negara surga pajaknya).”

Ekuador memberi suaka pada Assange dengan alasan solidaritas di tengah sejumlah kesulitan dan rasa frustasi yang dihadapi para diplomat di kedutaan tersebut. Dengan alasan itu, kedubes Ekuador tidak membiarkan Assange diekstradisi ke Swedia atau AS, yang akan membuat pria Australia ini mendapat penganiayaan seperti yang dialami whistleblower Bradley Manning.

Postcomended   Momen-momen Kocak Presiden AS yang Tertangkap Kamera

Terlebih, tuntutan pengadilan yang dilayangkan AS terhadap Assange tidak terkait aksi pembocoran dokumen saja melainkan juga dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual.

Polisi dan intelijen Inggris menjaga ketat kedubes ini sejak Ekuador memberikan Assange suaka pada Juni 2012 silam.(***/BBC/CNN)