41 Masjid “Pelat Merah” Terpapar Radikalisme

Nasional
Share the knowledge

 

Masjid (foto ilustrasi)

Sebuah survei terhadap kegiatan khutbah di masjid-masjid yang digelar lembaga milik Nahdlatul Ulama (NU), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), menyebutkan bahwa ada 41 masjid di lingkungan instansi pemerintah yang terpapar radikalisme. Survei ini menyusul laporan tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang juga terpapar radikalisme, dengan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi, tertarik pada paham radikal. 

Hasil survei ini, seperti diinformasikan Badan Intelijen Negara (BIN) Minggu (18/11/2018) melalui keterangan tertulis, dilaporkan P3M kepada mereka. Juru Bicara BIN, Wawan Hari Purwanto, menjelaskan, survei yang dimaksudkan untuk peringatan dini atau early warning ini ditindaklanjuti dengan penelitian lanjutan oleh BIN.

Dia mengatakan, keberadaan masjid di instansi pemerintah seperti di Kementrian dan BUMN perlu dijaga dari ceramah-ceramah yang berisi ujaran kebencian. Terkait hal itu kata Wawan, perlu dilakukan pemberdayaan para penceramah (da’i) agar mereka memberikan ceramah yang menyejukkan dan turut meng-counter paham radikal di masyarakat.

Postcomended   Menuju Divestasi Freeport 51%: Tambang Bawah Tanah 1000 Km di Grasberg Mangkrak

Pada kesempatan itu Wawan juga mengonfirmasi riset yang menyebutkan ada tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpapar radikalisme, dan 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi tertarik pada paham radikal. Namun Wawan menegaskan bahwa informasi mengenai PTN mana saja yang dimaksud hanya untuk diketahui PTN yang bersangkutan agar mereka melakukan evaluasi, deteksi dini dan cegah dini, bukan untuk konsumsi publik. Tujuannya adalah agar PTN yang bersangkutan tidak dirufikan.

Radikalisme Rendah sampai Tinggi

Pada Juli 2018, seperti dilansir laman VOA Indonesia, Rumah Kebangsaan dengan P3M NU melakukan survei di 100 masjid di kantor kementerian, lembaga negara, dan BUMN, di Jakarta (saja). Survei dilakukan dalam rentang waktu 29 September sampai 21 Oktober 2017.

Dalam jumpa pers di PBNU pada 8 Juli 2018, Ketua Dewan Pengaws P3M, Agus Muhammad, menjelaskan survei tersebut dilaksanakan di 35 masjid di kementerian, 28 masjid di lembaga negara, dan 37 masjid di BUMN. Agus menambahkan data yang dikumpulkan mencakup khotbah Jumat, buletin, brosur, kalender, dan majalah dinding. Sedangkan metode pengumpulan data dengan cara merekam audio dan video serta mengambil gambar. Namun karena kurang signifkan, akhirnya penelitian difokuskan hanya pada isi khotbah Jumat.

Postcomended   Pencak Silat Tak Membuat Pesinetron ini Jauhi Narkoba

Agus mengatakan tiap Jumat pihaknya menerjunkan seratus relawan ke seratus masjid yang menjadi obyek penelitian. Masing-masing harus merekam audio khotbah Jumat dan video khotbah untuk memastikan rekaman audio dan video sama.

“Dari seratus masjid yang kami survei, sebanyak 41 masjid terindikasi radikal. Radikal yang kami maksud adalah pemikiran atau gerakan yang menghendaki perubahan secara mendasar, secara fundamental, tanpa memedulikan kelompok-kelompok lain yang beda,” jelasnya. Dari 41 masjid terindikasi radikal tersebut, kata Agus, tujuh masjid terpapar radikal tingkat rendah, 17 masjid radikal tingkat sedang, dan 17 masjid lagi radikal tingkat tinggi.***

Postcomended   Pelaku usaha diminta tak hanya andalkan restrukturisasi pemerintah

 


Share the knowledge

Leave a Reply