Warga Belanda yang terusir dari Indonesia pada 1957 sesampainya di Belanda (http://historia.id/img/foto_berita/77131023_repatriering.jpg)

Hari ini, 2013, pejuang hak asasi manusia dan mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, meninggal dunia dalam usia 95 tahun. Namun di negeri ini pada hari yang sama, 1957, ada peristiwa menarik dan heroik untuk dibahas dari presiden pertama Indonesia, Sukarno, yang melarang dirayakannya hari Sinterklas yang jatuh setiap 5 Desember. Apa alasan Sukarno melarang perayaan tradisi Belanda tersebut?

Tradisi pesta Sinterklas para orang Belanda yang masih bermukim di Indonesia pada 5 Desember 1957 yang seharusnya meriah, menjadi kelabu. Peristiwa ini pun kemudian dikenal dengan nama hari “Sinterklas Hitam”.

Tak ada lagi perayaan dengan mengundang anak-anak dan seorang sinterklas di istana negara seperti yang biasa dilakukan Sukarno. Warga Belanda pun dilarang merayakannya.

Mereka bahkan terpaksa meninggalkan Indonesia akibat ultimatum Sukarno. Kemarahan Bung Karno itu disebabkan oleh sikap Belanda yang tak mau hengkang dari Irian Barat.

Postcomended   Putra Bungsu Jokowi Jualan Kaos Bermerek "Kolektor Kecebong"

Adalah tradisi orang Belanda pada 20 hari sebelun 25 Desember, merayakan hari Sinterklas. Tradisi ini dibawa orang Belanda yang menetap di Indonesia sejak zaman penjajahan.

Kisah sinterklas memang berasal dari negeri kincir angin. Dalam tradisi mereka, Sinterklas –atau dalam bahasa mereka ditulis sinterklaas– datang dari Spanyol dengan mengendarai kuda, bukan kereta yang ditarik rusa. Namun bagi Belanda, Sinterklas datang setiap 5 Desember alih-alih 25 Desember seperti negara lainnya.

Dilansir situs Merdeka, seperti dikutip dari buku Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen karya Walentina Waluyanti de Jonge, kemarahan Sukarno semakin menjadi ketika PBB pada 29 November 1957 memutuskan Irian Barat berada di kekuasaan Belanda.

Tak hanya melarang perayaan sinterklas yang pastinya dirayakan orang Belanda, Sukarno juga memberi ultimatum kepada mereka dan keturunannya untuk hengkang dari Tanah Air. Sebenarnya Sukarno sudah “mengusir” mereka sejak Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia pada 1949.

Postcomended   Kesepakatan Freeport Lepas 51% Saham Kian Mengerucut, PT Inalum Disebut sebagai Pembelinya

Sikap Sukarno didukung warga Indonesia. Gerakan anti-Belanda menjalar di masyarakat. Puncaknya, pada Desember 1957, toko-toko dan kantor pos tak ada yang mau melayani mereka.

Warga Belanda pun akhirnya berduyun-duyun meninggalkan Indonesia menggunakan kapal laut yang disewakan oleh pemerintah Belanda. Rumah besar dan harta kekayaan ditinggalkan semua. Bahkan banyak yang pergi hanya dengan pakaian di badan.

Banyak dari mereka yang merupakan blasteran Belanda-Indonesia (indo) yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri Belanda. Mereka tidak punya bayangan akan melakukan apa di negeri leluhurnya itu.

Namun kerajaan Belanda bagai bertanggung jawab terhadap mereka. Kedatangan mereka disambut Ratu Juliana. Ratu berupaya membesarkan hati mereka dengan mengatakan “Selamat datang di negeri sendiri”.

Postcomended   Istri Munir Ogah Pilih Jokowi Lagi

Semula pemerintah membangunkan rumah untuk mereka. Namun lama-kelamaan jumlah mereka terus bertambah sehingga pemerintah mengimbau kepada warganya untuk memberi tumpangan.(***/merdeka)

Share the knowledge