Internasional

6 Juni dalam Sejarah: Azan dalam Bahasa Arab Kembali Disahkan di Turki

Pada tanggal ini tahun 1815, akibat letusan gunung Tambora di Indonesia pada 10 April, New England diguyur salju di musim panas dalam apa yang dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Di tanggal ini juga, 2012, terjadi fenomena astronomi “transit planet Venus”, terakhir di abad ke-21. Mundur ke 1950, kekalahan partai tunggal membuat azan dalam bahasa Arab kembali disahkan di Turki.

Kesultanan Utsmaniyah runtuh dan Republik Turki didirikan. Kader-kader pertama Turki yang dibentuk mencoba untuk menyatakan perang melawan Islam dan simbol-simbolnya, yang mereka yakini sebagai penghalang bagi identitas nasional. Serangan dimulai dengan penghapusan sistem khalifah hingga menarget azan.

Konstitusi yang ditetapkan oleh Pemerintah Ottoman menyatakan bahwa Islam adalah agama resmi negara Turki. Namun setelah penghapusan kekhalifahan dan pembentukan Republik, gagasan “sekularisme” mengambil alih.

Para kader pertama ini (termasuk di dalamnya Mustafa Kemal Ataturk) mengubah alfabet, menutup madrasah, dan berusaha mengubah bahasa ibadah untuk mengalihkan orang Turki dari Islam. Azan misalnya, mulai dilafazkan dalam bahasa Turki pada 1932. Persekusi ini berlangsung 18 tahun hingga 16 Juni 1950.

Pada Desember 1931, Sembilan hafiz (penghapal Alquran) di bawah presiden Mustafa Kemal Ataturk dan Perdana Menteri Ismet Inonu memulai pekerjaan mereka di Istana Dolmabahce untuk mengubah azan dan khotbah ke dalam bahasa Turki.

Azan berbahasa Turki pertama dibacakan pada 29 Januari 1932 oleh Hafiz Rifat di Masjid Fatih. Pada 3 Februari 1932, pada malam lailatul qadar, Quran dan takbir dinyanyikan dalam bahasa Turki di Masjid Hagia Sophia. Pada 18 Juli 1932 diputuskan oleh Kementerian Agama di bawah kendali rezim kepresidenan Kemalis, bahwa semua azan harus dibacakan dalam bahasa Turki.

Postcomended   1D ZIARAH JAKARTA-BANTEN

Pada hari-hari berikutnya, teks Turki untuk azan itu dikirim ke Direktorat Amal di semua wilayah negara. Pada tanggal 4 Februari 1933 sebuah surat edaran dikirim kepada mufti yang menggarisbawahi bahwa mereka yang menolak melafalkan azan dalam bahasa Turki akan menghadapi hukuman yang kejam dan mengerikan.

Ataturk secara pribadi tertarik untuk membuat perubahan ini dan mulai menyerang nilai-nilai Islam dengan terlebih dahulu membuat wajib militer Turki. Ataturk langsung campur tangan untuk memaksa agar ibadah dan azan dibuat dalam bahasa Turki, dengan menghadiri lembaga-lembaga yang diperlukan, hingga pada 1932 resmi mengikat semua orang.

Teks azan Turki yang terjemahannya dikirim ke Direktorat Amal, menghindari adanya kata Allah. Kata Allah diganti Tuhan, misalnya “Tuhan Maha Besar. Saya mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan”. Dari semua frasa bahasa Arab, hanya satu yang dipertahankan, yakni kata “falah” dalam “Hayya ʿala-falah”.

Postcomended   Wajib Coba! Nikmatnya Bersantap Nasi Pecel Dan Getuk Di Wisata Pereng

Reaksi besar pertama terhadap azan Turki terjadi di Bursa pada 1 Februari 1933. Topal Halil yang membacakan azan dalam bahasa Arab di Masjid Ulu di Bursa, ditangkap. Publik melakukan unjuk rasa atas penangkapannya.

Ataturk membatalkan perjalanannya ke Izmir dan berangkat ke Bursa, demi menegaskan pentingnya azan dibacakan dalam bahasa Turki. Mereka yang melafalkan dalam Arab tetap dihukum. Tentara dikerahkan ke masjid-masjid untuk membuat orang-orang menuruti aturan ini; yang membandel ditangkap.

Namun Muslim Turki tak peduli. Ini memaksa pemerintah pada 4 Februari 1933 mengeluarkan pernyataan lagi bahwa orang-orang yang membaca azan dalam bahasa Arab akan dihukum dengan cara keras.

Itupun rupanya masih tidak cukup, hingga pada 1941, Parlemen Turki mengesahkan undang-undang yang menyatakan bahwa “Membaca azan dalam bahasa Arab dapat dihukum hingga tiga bulan penjara atau didenda dari 10-200 TL (Turkish Lira)”. Mereka yang membaca azan dalam bahasa Arab diberi label “gila”.

Periode gelap ini berlangsung 18 tahun. Selama 18 tahun tersebut, para akademisi Islam terus membacanya dalam bahasa Arab di lokasi-lokasi kecil yang jauh dari pusat. Anak-anak dikader untuk terus menghafal azan dalam bahasa Arab untuk memastikan bahwa itu tidak akan dilupakan.

Hingga kemudian para sarjana ini mulai berani mengucapkan azan dalam Arab secara kolektif di stadion, gedung teater, termasuk gedung-gedung parlemen. Mereka menggunakan metode yang berbeda agar terus bisa membaca azan dalam Arab.

Postcomended   Pesona Ramadan 2018 Lomba Vlog

Berakhirnya masa kekuasaan partai tunggal dalam pemilihan umum 1950, adalah pintu bagi mulai dihapusnya pembatasan-pembatasan terhadap rakyat. Adnan Menderes membentuk pemerintahan mayoritas di Parlemen.

Dia berperan menghapus pembatasan-pembatasan yang dilakukan rezim Kemalis dengan merombak hukum yang berlaku sebelumnya. Pada 16 Juni 1950, melafalkan azan dalam bahasa Arab kembali dilegalkan.(***/ilkha)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top