Pada 6 Mei 1626, dengan hanya 60 gulden, kolonialis Belanda, Peter Minuit, membeli Pulau Manhattan (New York) dari Indian lokal hanya seharga pernak-pernik. Hari ini juga di tahun 2014, pemimpin organisasi terror Boko Haram, Abubakar Shekau, merilis video 57 menit tentang penculikan siswi sekolah di Nigeria. Tiga tahun kemudian di hari sama, dunia lega. Ke-84 siswi yang diculik dibebaskan setelah barter dengan tawanan Boko Haram. Dan peristiwa yang terpatri dalam sejarah dunia di hari ini adalah ketika kapal hidrogen Hindenburg terekam kamera, terbakar, jatuh, menewaskan 36 penumpang, 81 tahun silam.

Ketika Hindenburg melakukan terbang debutnya, pesawat balon udara raksasa ini digembar-gemborkan sebagai masa depan perjalanan udara mewah. Namun impian itu musnah dilalap api pada 6 Mei 1937. Usai penerbangan trans-Atlantik, pesawat penumpang Jerman ini tiba-tiba terbakar dan jatuh saat berusaha mendarat di Stasiun Udara Angkatan Laut di Lakehurst, New Jersey, Amerika Serikat (AS). Sebanyak 35 orang tewas. Bencana ini menjadi simbol akhir era pesawat balon udara.

Sekarang, 81 tahun kemudian, spekulasi masih berputar-putar tentang apa yang terjadi pada malam naas itu. Apa yang menyebabkan Hindenburg jatuh? “Dari perspektif keamanan, selalu ada masalah dengan kapal udara (airships),” kata sejarahwan pesawat, Dan Grossman.

“Kapal-kapal udara berukuran besar, berat, dan sulit untuk dikendalikan. Mereka sangat terpengaruh oleh angin. Karena mereka harus ringan, mereka juga cukup rapuh. Sebagian besar kapal udara dipanaskan menggunakan hidrogen yang sangat berbahaya dan merupakan zat yang sangat mudah terbakar,” ujar Grossman.

Investigasi setelah bencana, serta upaya rekonstruksi di kemudian hari, menegaskan bahwa kecelakaan itu adalah akibat kombinasi hidrogen dengan cuaca buruk di Lakehurst.

Postcomended   Akun Facebook Anda "Log Out" Sendiri Beberapa Hari Ini? Mungkin Ini Penyebabnya!

“Bencana Hindenburg memiliki sedikit misteri di sekitarnya, tetapi sejujurnya, saya tidak berpikir ada alasan untuk itu,” kata Grossman kepada Live Science. Menurut Grossman, dia mengetahui informasi bahwa hidrogen dalam Hindenburg bocor, dan itu mungkin diakibatkan buangan elektrostatik yang disebabkan oleh cuaca; ada badai pada saat pendaratan.

Menurut Grossman, satu-satunya misteri nyata dari bencana Hindenburg adalah penyebab kebocoran hidrogen. Spekulasi muncul segera setelah kecelakaan bahwa pesawat mungkin telah dijatuhkan oleh penyabotase, musuh dari Nazi Jerman yang sedang moncer. Bagaimanapun, waktu itu adalah tahun 1937, hanya dua tahun sebelum dimulainya Perang Dunia II.

“Jauh lebih menarik untuk berpikir bahwa seseorang mencoba meledakkan pesawat udara Nazi daripada memikirkan debit listrik dari badai,” kata Grossman. Tapi, tambah dia, sepanjang umur tragedi Hindenburg, tidak ditemukan bukti adanya bom.

The Zeppelin Co, pemilik Hindenburg, adalah yang pertama berspekulasi bahwa ada kesengajaan dalam peristiwa jatuhnya kapal ini. Perusahaan mengaku telah menerima surat ancaman di masa lalu, tetapi hipotesis itu kemudian diabaikan dan lebih mendukung penjelasan adanya percikan statis sebagai penyebab terbakarnya kapal.

Namun, teori konspirasi tidak ada matinya. Kiamat Hindenburg terus mengaduk imajinasi publik. Beberapa buku yang mencoba mewacanakan adanya penyebab manusia di balik kecelakaan itu, terus diterbitkan selama bertahun-tahun. Salah satunya adalah buku yang berubah menjadi plot untuk film 1975, “The Hindenburg.”

Postcomended   INDUSTRI RUMAHAN MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN KAUM PEREMPUAN

Tapi tragedi Hindenburg bukanlah bencana kapal udara pertama, bahkan juga bukan yang paling mematikan. Faktanya, meskipun api membakar kapal Zeppelin ini di ketinggian 800 kaki (245 meter) hingga menjadi tumpukan abu dan puing-puing dalam waktu kurang dari 1 menit, 61 dari 97 orang di dalamnya selamat dari tabrakan, meskipun dengan cedera.

British R101, yang memegang gelar kapal udara terbesar di dunia sebelum Hindenburg, terlibat dalam kecelakaan yang mematikan, ketika jatuh di hutan di Perancis utara pada 1930, menewaskan 48 dari 54 orang di dalamnya. (Menariknya, beberapa sumber mengklaim bahwa orang Jerman menggunakan material yang diselamatkan dari reruntuhan pesawat R101 untuk membangun Hindenburg, menurut Bedford Borough Council.)

“Pada saat bencana Hindenburg, airships sudah menjadi teknologi usang dan akan diganti dengan pesawat yang jauh lebih cepat dan efisien,” kata Grossman. Namun, ada satu alasan mengapa kenangan akan Hindenburg tak terhapuskan dalam sejarah penerbangan dan terpendam dalam pikiran orang-orang, yakni: ujung kapal yang penuh api itu terekam dalam film.

Pada 1937, ujar Grossman, sebuah kecelakaan terekam kamera adalah sesuatu yang sangat luar biasa. “Hari ini, orang-orang terbiasa melihat hal-hal di TV atau di internet, tetapi pada 1937, orang-orang tidak terbiasa melihat bencana dengan mata kepala mereka sendiri,” tambahnya.

Saat tragedi terjadi, Hindenburg seharusnya melakukan debut pendaratan pertamanya di AS dari Jerman, yang merupakan musim kedua penerbangannya. Penasaran, penduduk setempat serta kru berita dan fotografer berkumpul untuk menyaksikan pendaratannya; ketika kemudian balon hydrogen raksasa tersebut berubah menjadi bola api ketika mendekati tiang tambat dalam cuaca badai, yang diiringi laporan radio saksi mata wartawan Herbert Morrison.

Postcomended   SUPER TRIP EXPLORE JAWA TIMUR

Semua ini membuat bencana Hindenburg jauh lebih menonjol di mata masyarakat daripada bencana pesawat lainnya yang pernah terjadi.

Hanya dua tahun setelah bencana Hindenburg, Pan American, kata Grossman, mulai mengoperasikan layanan penumpang trans-Atlantic pertama menggunakan pesawat Boeing 314; mengurangi biaya perjalanan udara serta waktu tempuh, dan mengantarkan revolusi transportasi udara yang sebenarnya.(***/livescience/onthisday)

Share the knowledge