Internasional

63 Jurnalis Tewas demi Pekerjaannya Sepanjang 2018

Share the knowledge

Viktoria Marinova, seorang wartawan Bulgaria, ditemukan diperkosa dan dibunuh pada 6 Oktober lalu. Sebelumnya, masih di bulan sama, jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul. Mereka adalah dua dari setidaknya 63 jurnalis yang tewas sepanjang 2018.

Organisasi Reporters Without Borders (RSF) mengungkapkan Selasa (18/12/2018) seperti dilansir Reuters, ke-63 jurnalis profesional itu tewas dalam melakukan pekerjaannya sepanjang 2018. Kematian Khashoggi merupakan penanda betapa kebencian terhadap media begitu menyala-nyala.

Jumlah korban jiwa para jurnalis tersebut mengalami peningkatan 15 persen ketimbang tahun 2017 yang “hanya” 46 orang. Angka menjadi bertambah 80 jiwa ketika mencakup semua pekerja media dan jurnalis warga.

“Kebencian (kepada) para wartawan yang disuarakan… oleh politisi yang tidak bermoral, pemimpin agama dan pengusaha, memiliki konsekuensi yang tragis di lapangan, dan telah tercermin dalam peningkatan yang mengganggu dalam pelanggaran terhadap jurnalis,” kata Sekretaris Jenderal RSF, Christophe Deloire, dalam sebuah pernyataan.

Badan yang bermarkas di Paris itu mengatakan bahwa tiga negara paling berbahaya bagi wartawan untuk bekerja adalah Afghanistan, Suriah, Irak, dan Meksiko. RSF mencontohkan setidaknya 12 wartawan telah tewas di Afghanistan tahun ini, dengan sembilan dari mereka dibunuh dalam serangan bom di Kabul pada April 2018.

Postcomended   Mendadak Banyak Tikus di Lingkungan Rumah? Bisa Jadi Pertanda Ini

Sementara itu, penembakan lima karyawan koran Capital Gazette mendorong AS ke dalam jajaran negara paling berbahaya. Organisasi kebebasan media mengatakan, 348 wartawan sedang ditahan di seluruh dunia, dibandingkan dengan 326 pada periode sama tahun 2017. Cina, Turki, Iran, Arab Saudi, dan Mesir menampung lebih dari separuh jurnalis yang dipenjara di dunia.

Jurnalis yang Tewas demi Tugas

Jamal Khashoggi, pembangkang Saudi dan orang dalam kerajaan sekaligus pengritik Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman (MBS) dan mulai menulis untuk The Washington Post setelah pindah ke Amerika Serikat (AS) pada 2017, tewas di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018.

Sedangkan Viktoria Marinova, seorang wartawan Bulgaria, ditemukan diperkosa dan dibunuh di sebuah taman pada 6 Oktober 2018. Tak lama sebelum kematiannnya, presenter televisi ini meliput kisah tentang dugaan penyalahgunaan dana Uni Eropa.

Postcomended   10 September dalam Sejarah: Habis Dipenggal, Mike Menolak Mati Hingga 18 Bulan

Wanita berusia 30 tahun ini menjadi wartawan ketiga yang dibunuh di Eropa dalam tahun-tahun terakhir ini menyusul serangan fatal lainnya pada wartawan investigatif di Malta dan Slovakia.

Dilansir The Independent, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Lembaga nirlaba AS, menyebutkan, pembunuhan-pembunuhan ini telah menyebabkan para juru kampanye memperingatkan bahwa kebebasan pers di benua ini adalah berbahaya, yakni ketika wartawan menghadapi ancaman, intimidasi dan kekerasan yang meningkat, di Eropa dan di seluruh dunia.

Konflik yang berkepanjangan di Afghanistan, Suriah dan Irak berarti bahwa wartawan di garis depan sering menghadapi penangkapan di garis tembak. Dari negara-negara yang tidak berperang, Meksiko adalah yang paling berbahaya bagi wartawan karena kartel narkoba yang kuat semakin menargetkan jurnalis yang mengekspos kejahatan terorganisasi mereka. Menurut CPJ, 47 wartawan di negara Amerika utara telah tewas sejak 1992, dengan empat dari pembunuhan ini terjadi tahun ini.***

Postcomended   AS Peringatkan Serangan Peretas Cina Melonjak untuk Curi Kekayaan Intelektual


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top