Nasional

7 Agustus dalam Sejarah: Kartosuwiryo Memproklamasikan Darul Islam, Negara Islam Indonesia

Share the knowledge

 

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (gambar dari: https://ruangjuang.wordpress.com/2012/09/17/fadli-zon-kartosoewirjo-adalah-seorang-pejuang/)

Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (gambar dari: https://ruangjuang.wordpress.com/2012/09/17/fadli-zon-kartosoewirjo-adalah-seorang-pejuang/)

Pada tanggal ini tahun 1949, Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia bernama Darul Islam (DI), suatu bentuk pemberontakan pertama setelah Indonesia merdeka. Ini dilakukan karena Kartosuwiryo kecewa dengan hasil perjanjian Roem-Royen.

Kekecewaan atas hasil perjanjian Roem Royen yang membentuk pemerintahan skuler di Indonesia, dijadikan pembenaran oleh Kartosuwiryo untuk melakukan pemberontakan. Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di desa Cisampah, kecamatan Ciawiligar, kabupaten Tasikmalaya.

Proklamasi NII tersebut disertai 10 penjelasan termasuk penegasan bahwa NII meliputi seluruh wilayah Indonesia dan seluruh bangsa Indonesia. Dikutip darimlaman Tirto, Kartosuwiryo juga telah mempersiapkan konsep-konsep bentuk dan sistem pemerintahan serta susunan Dewan Imamah NII.

Dalam susunan tersebut, dia mengangkat dirinya sebagai Imam, panglima tertinggi, serta kuasa usaha. Sedangkan untuk Wakil Imam sekaligus sebagai komandan divisi dia mengangkat seseorang bernama Karman. Posisi menteri dalam negeri dan menteri penerangan masing-masing dipegang Sanusi Partawidjaja dan Thaha Arsyad.

Untuk menteri keuangan dipegang oleh Udin Kartasasmita, sedangkan menteri pertahanan dan kehakiman, masing-masing dipegang oleh Raden Oni dan Ghazali Thusi.

Dikutip dari laman Researchgate, sebelum mendirikan DI, Kartosuwiryo adalah anggota terkemuka dari partai Sarekat Islam (SI) yang anti-kolonialisme. Menurut Chiara Formichi dalam bukunya, “Indonesia in the Making: Kartosuwiryo and Political Islam in the 20th Century Indonesia” (2011), Kartosuwiryo awalnya merupakan sosok  yang cukup moderat.

Postcomended   Ingin Cairkan Kebekuan, Kim Jong Un Kirim Saudara Perempuannya ke Perbatasan

Dalam pamflet yang ditandatangani pada 1936, Kartosuwiryo menyebutkan: “perjuangan ‘positif’ adalah jihad lidah dan hati (jihad al-akbar yang dipimpin oleh imam), dan bukan pedang. Jihad al-asghar, didefinisikannya sebagai negatif dan destruktif “.

Pemikiran Kartosuwiryo, tulis Associate Professor pada Studi Asia Tenggara di Departemen Studi Asia di Universitas Cornell ini, secara dramatis berubah pada 1947. Dipicu oleh situasi politik Indonesia setelah kemerdekaan pada 1945, dia memanggil umat untuk melakukan jihad bersenjata melawan penjajah dan kemudian mendirikan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia pada tahun 1949.

Pada 1950, masih menurut Formichi, Kartosuwiryo mengirim surat kepada Presiden Sukarno dan M. Natsir sebagai Perdana Menteri, yang isinya untuk meyakinkan bahwa Islam politik adalah satu-satunya senjata untuk memerangi komunisme. Namun, usulan Kartosuwiryo diabaikan oleh pemerintah Indonesia.

Kartosuwiryo lahir di Jawa Timur pada 1905. Ayahnya adalah seorang ambtenaar, pegawai negeri di bawah pemerintahan penjajahan Hindia Beanda yang menjadikannya anggota elit adat yang membuat Kartosuwiryo memperoleh akses ke sekolah-sekolah Belanda.

Setelah pindah ke Sekolah Kedokteran Surabaya pada 1923, dia memulai aktivitas politiknya, berpartisipasi pertama kali di Sumpah Pemuda yang terkenal pada 1928, dan kemudian bergabung dengan Partai Sarekat Islam, atau PSI (pendahulu Partai Sarekat Islam Indonesia/PSII).

Postcomended   Moskow Ancam Beri Respon Militer Jika NATO Ganggu Program Rudal Siap-Nuklir-nya

Dikutip dari laman Inside Indonesia, Formichi meyebutkan, dengan dipimpin oleh Tjokroaminoto yang nasionalis Islam, organisasi politik ini memiliki lebih dari dua juta anggota. Namun, pada pertengahan 1920-an, partai itu terguncang oleh keretakan yang dalam antara sayap komunis dan sayap Islamisnya, yang menyebabkan berkurangnya keanggotaannya.

Ketika Islam politik pada waktu itu menjadi fenomena yang berkembang di dunia yang lebih luas, PSI menegaskan kembali dan meradikalisasi posisinya, mempromosikan Islam sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka di masa depan.

Kartosuwiryo telah mencapai peringkat tinggi di PSI pada pertengahan 1930-an. Tetapi sementara pandangannya tentang Islam politik menjadi semakin teradikalisasi, ruang politik untuk mengekspresikan pandangan ini berkurang, terutama ketika republik yang dipimpin orang yang pernah menjadi sahabat seperjuangannya, Sukarno, secara resmi menjadi pemerintah resmi Indonesia.

Intelektualis Muslim, Azyumardi Azra, dalam artikel yang dimuat di laman Pasific Affairs, menyebutkan, menurut dokumen SI, Kartosuwiryo menjadi sangat aktif sebagai penulis di surat kabar SI, Fadjar Asia.

“Menurut Formichi dalam artikelnya, Kartosuwiryo menunjukkan komitmennya terhadap ideologi Islam. Dalam artikelnya dia mengkritik kebijakan kolonial, ketidakadilan sosial-ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan oleh polisi, dan ‘netralitas’ agama dan politik Belanda,” tulis Azyumardi.

Selain itu, tulis Azyumardi mengutip Formichi, dia juga membahas dimensi internasional dari perjuangan nasionalis untuk merdeka (kemerdekaan). “Membaca artikelnya (Formichi), tidak mengherankan bahwa dia dianggap otoritas Belanda sebagai ‘fanatik agama’ yang lebih dari siap untuk menggunakan (dan menyalahgunakan) Islam untuk tujuan politiknya,” tulis Azyumardi.

Postcomended   1 Desember dalam Sejarah: Terowongan Kereta Api 40 Meter di Bawah Selat Inggris, Tembus

Kartosuwiryo terus berjuang untuk negara Islam yang diyakininya, yakni Darul Islam, yang bisa diterjemahkan sebagai Tempat Tinggal Islam. Prinsip ini dia pertahankan sejak 1948 hingga 1962, tahun dia ditangkap oleh tentara dan dieksekusi atas tanda tangan yang dengan berat hati dilakukan Sukarno.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top