Internasional

7 September dalam Sejarah: Cina Dipaksa Tandatangani Protokol Boxer oleh Kekuatan Asing

Share the knowledge

Suasana penandatanganan Protokol Boxer yang merugikan pihak pemberontak Boxer. Duduk di kiri adalah perwakilan kekuatan asing termasuk Jepang (kedua), dan paling kanan adalah Yikuang (Prince Qing).(kredit foto via: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Signing_of_the_Boxer_Protocol_7_September_1901.jpg)

Suasana penandatanganan Protokol Boxer yang merugikan pihak pemberontak Boxer. Duduk berderet di kiri adalah perwakilan kekuatan asing termasuk Jepang (kedua), dan paling kanan adalah Yikuang (Prince Qing).(kredit foto via: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Signing_of_the_Boxer_Protocol_7_September_1901.jpg)

Pada tanggal ini, 1901, Protokol Boxer ditandatangani; menandai berakhirnya Pemberontakan Boxer yang dimulai sejak November 1899. Pemberontakan Boxer adalah pemberontakan di Cina terhadap pengaruh asing dalam agama, politik, dan perdagangan.

Dikutip dari laman Britannica, penandatanganan protokol ini tidak setara, yang merupakan perjanjian di mana Cina dipaksa mengakui banyak hak teritorial dan kedaulatannya atas tekanan asing, yang dinegosiasikan selama abad ke-19 dan awal ke-20 antara Cina dan kekuatan imperialis asing.

Kekuatan asing ini terutama Inggris, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang. Sebagian besar berpola pada ketentuan perjanjian tahun 1835 antara Cina dan khanate Kokand (di bagian Uzbekistan dan Kazakhstan saat ini). Perjanjian tak setara ini dipicu konflik bersenjata antara Inggris dan Cina yang dikenal sebagai Perang Candu pertama (1839).

Selama pemberontakan itu, para Boxer menyerang orang Kristen Cina, penduduk, tentara asing, dan berusaha menyerbu kedutaan asing di Beijing, laman Thoughtco melaporkan. Ribuan orang terbunuh.

Postcomended   Sejumlah Negara Sepakat Lindungi Selusin Lebih Spesies Hiu Terancam Punah

Setelah pengepungan 55 hari, kedutaan-kedutaan dibebaskan oleh 20.000 tantara Aliansi Delapan Negara termasuk di dalamnya Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Eropa.

Setelah pemberontakan ditumpas, beberapa ekspedisi hukuman diluncurkan dan pemerintah Cina dipaksa menandatangani “Protokol Boxer”. Protokol tersebut menyerukan agar para pemimpin pemberontakan dieksekusi dan membayar ganti rugi keuangan kepada negara-negara yang mengalami kerugian baik nyawa maupun materi.

Gerakan Boxer–juga dikenal sebagai Gerakan Masyarakat yang Adil dan Harmonis– dimulai di Provinsi Shandong, Cina timur, pada Maret 1898. Gerakan ini dibentuk sebagai tanggapan atas kegagalan inisiatif modernisasi pemerintah, Gerakan Penguatan Diri, juga sebagai reaksi atas pendudukan Jerman di wilayah Jiao Zhou serta penyitaan Weihai oleh Inggris.

Boxer menyerang orang asing yang membangun jalur kereta api dan juga orang Kristen yang dianggap bertanggung jawab untuk dominasi asing di Cina. Pada Juni 1900, Boxer menyerang Beijing dan membunuh 230 orang non-Cina, seraya meneriakan slogan “Dukung (Dinasti) Qing, hancurkan Barat”.

Pemberontakan Boxer pertama kali dipicu antara lain oleh kerusuhan di satu desa ketika pengadilan setempat memberikan kuil lokal kepada otoritas Katolik Roma untuk digunakan sebagai gereja. Kesal dengan keputusan itu, tulis Thoughtco, para penduduk desa, yang dipimpin oleh agitator Boxer, menyerang gereja.

Postcomended   Selayar Fishing Tournament 2017 Berakhir Manis, Ini Dia Juaranya

Boxer pada awalnya memiliki misi anti-pemerintah, namun mereka bergeser ke agenda anti-asing setelah dipukuli oleh pasukan Kekaisaran pada Oktober 1898. Mereka mulai menyasar pada misionaris Barat dan Kristen Cina yang mereka pandang sebagai agen asing yang mempengaruhi.

Di Beijing, pengadilan Kekaisaran dikendalikan oleh ultra-konservatif yang mendukung Boxers dan perjuangan mereka. Dari posisi kekuasaan mereka, mereka memaksa Janda Permaisuri Cixi mengeluarkan dekrit yang mendukung kegiatan Boxers, yang membuat marah para diplomat asing.

Pada Juni 1900, Boxers, bersama dengan bagian dari Tentara Kekaisaran, mulai menyerang kedutaan asing di Beijing dan Tianjin. Di Beijing, kedutaan besar Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Belgia, Belanda, Rusia, dan Jepang semuanya berlokasi di Kawasan Kedutaan dekat Kota Terlarang.

Mengantisipasi langkah seperti itu, pasukan campuran dari 435 marinir dari delapan negara telah dikirim untuk memperkuat penjagaan kedutaan. Ketika Boxers mendekat, kedutaan-kedutaan dengan cepat dihubungkan ke kompleks yang dibentengi. Kedutaan besar yang berada di luar kompleks dievakuasi, dengan stafnya berlindung di dalam.

Postcomended   3 Juli dalam Sejarah: Tembak Jatuh Pesawat Komersial Iran, AS Tak Pernah Mau Minta Maaf

Pada 20 Juni, kompleks itu dikepung dan serangan dimulai. Di seberang kota, utusan Jerman, Klemens von Ketteler, terbunuh ketika mencoba melarikan diri dari kota. Keesokan harinya, Cixi menyatakan perang terhadap semua kekuatan Barat, namun gubernur regionalnya menolak untuk patuh dan perang yang lebih besar dihindari.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top