Pada tanggal ini tahun 1946, Sukarno menyerukan anti penindasan kolonial di Indonesia. Di tanggal sama, 1949, Siam mengubah namanya menjadi Thailand. Pada tanggal ini tahun 1974, dunia mencatat Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani sebuah kontrak militer-ekonomi berskala besar.

Perjanjian ini mungkin dapat menjawab pertanyaan saat ini terkait eratnya hubungan Saudi dengan AS, mengalahkan harapan dunia Islam pada keberpihakan Saudi kepada Palestina dan terhadap negara-negara Islam tertindas lainnya.

Menteri Luar Negeri Henry Kissinger dan Wakil Perdana Menteri Arab Saudi yang juga saudara setengah Raja Faisal, Pangeran Fahd bin Abdul Aziz, pada pagi waktu itu menandatangani perjanjian enam halaman di Gedung Blair di seberang Gedung Putih.

Kissinger, yang pada minggu depannya akan menemani Presiden Richard Nixon dalam tur ke Timur Tengah, termasuk bertandang ke Saudi, mengatakan saat itu bahwa AS menganggap perjanjian ini sebagai tonggak penting hubungan dengan Saudi dan negara-negara Arab pada umumnya.

Sedangkan Pangeran Fahd mengatakan, perjanjian ini adalah pembukaan yang sangat baik dalam bab baru dan mulia dalam hubungan antara Saudi dan AS.

Pada saat penandatanganan perjanjian tersebut, kedua negara menggembar-gemborkan era kerja sama yang semakin erat. Kala itu, Saudi masih sangat kaya minyak.

Namun diketahui bahwa dalam perjanjian tersebut kedua negara berupaya menghindari kata “minyak”. Mereka disebut ingin menghindari kesan bahwa ini adalah pembicaraan bilateral tentang minyak.

Postcomended   Genjot Wisman Tiongkok, Menpar Arief Yahya Tebar Pesona Indonesia di INAWEEK Shanghai 2018.

Meskipun demikian, AS tak membuang kesempatan untuk mendorong Saudi agar meningkatkan kapasitas produksi minyaknya. Pejabat AS mengatakan, mereka berharap perjanjian baru ini akan memberikan Saudi insentif untuk meningkatkan produksi minyaknya, sekaligus berfungsi sebagai model untuk kerjasama ekonomi antara Washington dan negara Arab lainnya.

Komisi Bersama
Kesepakatan ini membentuk dua komisi bersama, satu mengenai kerja sama ekonomi dan yang lainnya tentang kebutuhan militer Arab Saudi.

Komisi ekonomi beranggotakan perwakilan dari Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, National Science Foundation dan lembaga-lembaga AS lainnya, serta lembaga-lembaga setara dari pihak Pemerintah Saudi.

Empat kelompok kerjasama dibentuk untuk menyiapkan rekomendasi dan rencana untuk komisi ekonomi. Mereka antara lain adalah satu kelompok industrialisasi yang dijadwalkan bertemu di Arab Saudi pada 15 Juli untuk mempertimbangkan rencana pembangunan ekonomi Arab Saudi, yang memberi perhatian khusus pada penggunaan gas suar untuk memperluas produksi pupuk.

Kelompok kedua adalah yang membahas sumber daya manusia dan pendidikan yang akan mempertimbangkan proyek untuk pengembangan lebih lanjut keterampilan tenaga kerja teknis Saudi, perluasan lembaga pendidikan dan teknis, transfer keahlian teknologi, pembentukan program ilmu pengetahuan dan teknologi Arab Saudi yang komprehensif yang terkait dengan tujuan nasional kerajaan, dan perluasan hubungan universitas saudara.

Kelompok ketiga memberi fokus pada teknologi, penelitian dan pengembangan yang akan memeriksa proyek-proyek kerjasama tertentu di bidang-bidang seperti energi matahari dan desalinasi. Dan yang keempat adalah kelompok untuk memeriksa proposal pengembangan pertanian, khususnya pertanian padang pasir.

Postcomended   15 Mei dalam Sejarah: Rakyat Maluku Angkat Senjata, van den Berg Tewas

Kedua Pemerintah juga sepakat untuk mempertimbangkan pembentukan dewan ekonomi untuk mendorong kerjasama di sektor keuangan dan swasta.

Peralatan Militer
Selama lebih dari 20 tahun, AS telah memberikan bantuan teknis dan menjual peralatan militer kepada angkatan bersenjata Saudi. Komisi militer yang dibentuk menyatakan akan meninjau program yang sudah berjalan untuk memodernisasi angkatan bersenjata Arab Saudi dalam hal persyaratan pertahanan kerajaan.

Situasi keamanan di Semenanjung Arab juga diulas dalam perundingan yang diadakan Pangeran Fahd dengan Nixon, Kissinger, dan para pejabat AS lainnya dalam tiga hari itu. Dinyatakan dalam perundingan itu bahwa kerjasama yang erat di antara negara-negara kawasan diperlukan untuk keamanan.”

Pejabat Amerika juga melaporkan bahwa kedua pihak “menyatakan puas” atas kemajuan yang dibuat sejauh ini menuju solusi Arab-Israel.

Meskipun Arab Saudi memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, perjanjian itu tidak menyebutkan kata “minyak”. Kedua pihak disebutkan ingin menghindari kesan bahwa ini adalah pembicaraan bilateral tentang minyak.

Namun para pejabat AS, bagaimanapun, tidak merahasiakan harapan mereka bahwa Arab Saudi akan memimpin dalam peningkatan produksi minyak yang kala itu mencapai sekitar 8,6 juta barel per hari. Diharapkan dengan cara itu membantu membawa penurunan harga minyak dunia.

Postcomended   Mungkinkah Penyederhanaan Rupiah Dilakukan di Tahun Politik?

Logika yang muncul kala itu adalah, jika kapasitas produksi minyak meningkat, Saudi akan ingin menghabiskan lebih banyak uang yang diperoleh pada teknologi dan peralatan militer AS. Penjualan peralatan militer canggih, seperti jet tempur modern, mau tak mau akan menyerap sebagian dari uang hasil penjualan minyak. (***/diolah dari New York Times)

Sumber foto: Wikimedia
Kepsyen: Presiden Nixon bersalaman dengan Raja Faisal

Share the knowledge