Slideshow: Vintage Coca-Cola Bottle Print Ads: The Coca-Cola Company The Coca-Cola Company 1928 Paper Sign

Slideshow: Vintage Coca-Cola Bottle Print Ads: The Coca-Cola Company The Coca-Cola Company 1928 Paper Sign

Dari sekian peristiwa yang terjadi pada tanggal ini, ada empat peristiwa yang paling menyita perhatian redaksi Dejournal. Pada 1967, petinju Muhammad Ali didakwa karena menolak wajib militer di Angkatan Darat AS. Tiga tahun kemudian di hari sama, grup band Inggris, The Beatles, merilis album “Let it Be”. Pada 2016, London mencatat sejarah dengan memilih walikota Muslim pertama kalinya, Sadiq Khan. Panasaran dengan sejarah Coca-cola? Saat dijual pertama kali pada hari ini, tahun 1886, Coca-Cola disebut mengandung kokain, meskipun itu dibantah produsen minuman berkarbonasi ini.

Pada 8 Mei 1886, apoteker John Stith Pemberton mengangkut guci obat paten terbarunya –berisi tonik yang disebutnya Coca-Cola– ke apotek Jacob di Peachtree Street, Atlanta, Amerika Serikat (AS). Tonik itu berupa sirup yang dicampur air soda dan dianggap enak, lalu dijual seharga satu sen per gelas. Coca-Cola waktu itu dianggap obat serba guna yang dapat menyembuhkan berbagai keluhan mulai gugup, sakit kepala, neuralgia, histeria, sedih alias melankolis, dll.

Selama tahun pertama berjualan, Pemberton menjualnya sekitar sembilan gelas sehari. Nama produk itu diciptakan oleh pemegang buku Pemberton, Frank Robinson, yang tulisan tangannya bertanggung jawab untuk logo perusahaan yang muncul pertama kali di iklan surat kabar Atlanta serta pada awning farmasi.

Postcomended   Virus Kuno Sepupu HIV Menjangkiti Australia

Ketika Pemberton meninggal pada Agustus 1888, nama Coca-Cola tidak disebutkan dalam kisah Konstitusi Atlanta tentang kematiannya. Yang disebutkan hanya hubungan antara penemu Coca-Cola ini dan rekan apoteker Asa Griggs Candler, yang memanggil ahli obat Atlanta ke tokonya sendiri untuk memberikan penghormatan kepada Pemberton.

“Profesi kami telah kehilangan anggota yang baik dan aktif,” kata Candler kepada surat kabar. Para apoteker menerbitkan sebuah resolusi untuk menghormati Pemberton, dan mereka memutuskan untuk menghadiri layanan pemakamannya secara massal; menutup semua toko obat Atlanta hari itu sebagai penghormatan kepada salah satu dari mereka itu. Candler pun menjadi salah satu pengusung jenazah Pemberton.

Dalam tiga tahun setelah kematian Pemberton, Candler terbukti lebih cerdik, dengan membeli semua kepentingan di Coca-Cola dengan total investasi 2.300 dolar AS.

Postcomended   Glorifikasi Fahri dan Romantisasi Seksisme

Dengan bakatnya dalam iklan dan pemasaran, Candler mengubah tonik kesehatan Pemberton menjadi merek global yang ikonik. Pada 1919, keluarga Candler menjual merek minuman itu seharga 25 juta dolar AS kepada sekelompok investor yang diorganisasi oleh Ernest Woodruff.

Asa Candler, yang juga menjabat sebagai walikota Atlanta, adalah seorang pemimpin sipil yang berpengaruh dan dermawan, membiayai pendirian Universitas Emory dan apa yang kemudian menjadi Rumah Sakit Emory dan membantu mengembangkan Druid Hills.

Rumus rahasia untuk ramuan Pemberton yang diwarnai mitos mengandung kokain di dalamnya, dimana Coca-Cola mengukuhkan klaim bahwa mereka tidak pernah membubuhkan kokain –atau setidaknya sekadar sejumlah kecil saja pada hari-hari pembuatan awalnya– telah disimpan di brankas bank SunTrust sejak 1925. Pada akhir 2011, formula itu dipindahkan ke lemari besi baru yang kini menjadi bagian dari museum World of Coca-Cola.(***/onthisday/atlantamagz)

Postcomended   Palembang, Haul dan ziarah kubra ulama dan auliya Palembang

 

Share the knowledge