Orang-orang Jawa awal di Suriname (foto: internet)

Pada tanggal ini, 1945, Amerika Serikat beserta sekutunya, Inggris, dibawah kesepakatan Presiden Harry Truman dan Winston Chruchill, dengan darah dingin kembali menjatuhkan bom atom di Jepang; yang mengakhiri Perang Dunia II. Pada tanggal sama di akhir abad ke-19, Belanda memasok Suriname dengan 44 pekerja kontrak asal Jawa untuk bertanam tebu. Kini komunitas etnis Jawa bahkan penduduki kursi-kursi penting pemerintahan.

Karena Jepang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah pada sekutu setelah pembomatoman Hiroshima tiga hari sebelumnya, AS menyiapkan “Fat Man” untuk Nagasaki. Si “pria gendut” ini pun dijatuhkan oleh pesawat pembom B-29 “Bockscar” dari atas Nagasaki.

Dilansir laman Deutschewelle, penolakan para panglima perang Jepang untuk menyerah tanpa syarat diduga juga karena para pemimpin di Tokyo tidak menyadari sepenuhnya kerusakan yang diakibatkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Setelah sempat ditunda selama dua hari akibat cuaca buruk, pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom ke dua ini dijatuhkan di Nagasaki.

Jagal Nagasaki. (U.S. Air Force photo)

Kota Nagasaki pun hancur bersama 20.000 warganya yang tewas seketika. Dalam beberapa bulan kemudian, 40.000 orang menyusul tewas, 75.000 orang menderita luka parah. Pada 10 Agustus 1945, Kaisar Jepang Hirohito mengeluarkan perintah kepada panglima perangnya untuk menyerah kepada Sekutu, dengan satu syarat bahwa kedaulatan kekaisaran harus dipertahankan.

Postcomended   8 Juli dalam Sejarah: Erector Set Dipatenkan dan Menjadi Mainan Terpopuler Sepanjang Masa

Orang Jawa Pertama Tiba di Suriname

Pada tanggal ini pula, tahun 1890, sejarah mencatat bagaimana orang-orang etnis Jawa mulai mewarnai peradaban di Suriname, Afrika, yakni ketika sebanyak 44 orang Jawa dikirim ke negara tersebut sebagai pekerja kontrak.

Laman Revolvy melaporkan, setelah penghapusan perbudakan, perkebunan di Suriname membutuhkan sumber tenaga kerja baru. Pada 1890, Masyarakat Perdagangan Belanda yang berpengaruh, pemilik perkebunan Marienburg di Suriname, melakukan tes untuk menarik pekerja kontrak Jawa dari Hindia Belanda (kini Indonesia).

Sampai saat itu, selain yang berasal dari Jawa, juga ada pekerja kontrak Hindustani dari British-India (India) bekerja di perkebunan Suriname sebagai pekerja lapangan dan pabrik.

Pada 9 Agustus, orang Jawa pertama tiba di Paramaribo yang kini menjadi ibu kota Suriname. Tes dianggap berhasil dan pada 1894 pemerintah kolonial mengambil alih tugas merekrut orang Jawa.

Postcomended   20 November dalam Sejarah: SETI Didirikan untuk Menemukan Kecerdasan Lain di Luar Bumi

Imigran Jawa ini datang dalam kelompok-kelompok kecil dengan rute dari Hindia Belanda ke Belanda, dan dari Belanda ke Paramaribo. Transportasi imigran Jawa ini berlanjut sampai 1914 (kecuali 1894) dalam dua tahap melalui Amsterdam.

Para pekerja ini berasal dari desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Titik keberangkatannya adalah Batavia, Semarang, dan Tandjong Priok. Para pekerja yang direkrut dan keluarga mereka menunggu keberangkatan mereka di sebuah depot, di mana mereka diperiksa dan didaftarkan dan menandatangani kontrak kerja.

Para imigran ini direkrut untuk bekerja di perkebunan, kecuali kelompok yang datang pada 1904, ketika 77 orang Jawa direkrut secara khusus untuk bekerja di Perusahaan Kereta Api Kolonial. Sejak Perang Dunia I, orang Jawa juga bekerja di Perusahaan Bauksit Suriname di Moengo. Imigrasi berlanjut hingga 13 Desember 1939. Pecahnya Perang Dunia II mengakhiri skema industri perkebunan ini.

Secara keseluruhan, ada sebanyak 32.965 orang Jawa pergi ke Suriname. Pada 1954, sebanyak 8.684 kembali ke Indonesia, sisanya tetap tinggal di Suriname. Sensus 1972 menunjukkan, ada sebanyak 57.688 orang Jawa di Suriname, dan pada 2004 terdapat hingga 71.879. Pada  2004, lebih dari 60.000 orang blasteran dicatat, namun tidak diketahui secara spesifik yang mana saja yang memiliki darah Jawa.***

Postcomended   2 Desember dalam Sejarah: Napoleon Memakai Sendiri Mahkotanya sebagai Kaisar

 

Share the knowledge