Air Mata untuk Afghanistan: Bom Bunuh Diri ISIS Meledak di Pesta Pernikahan, 63 Tewas

Internasional
Share the knowledge

Kebahagiaan sontak menjadi duka ketika ISIS meledakkan sebuah pesta pernikahan yang menewaskan 63 tamu di area pria. Pesta perikahan seringakli menjadi sasaran empuk karena orang-orang dalam keadaan tidak awas. (Gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=166Cs6K1thM)
Kebahagiaan sontak menjadi duka ketika ISIS meledakkan sebuah pesta pernikahan yang menewaskan 63 tamu di area pria. Pesta perikahan seringakli menjadi sasaran empuk karena orang-orang dalam keadaan tidak awas. (Gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=166Cs6K1thM)

Kabar memilukan datang dari Kabul, Afghanistan. Di ujung rencana penarikan pasukan AS dari negeri yang tak henti bergolak ini, satu ledakkan mengguncang pesta pernikahan di Kabul; 63 meninggal dunia dalam serangan paling mematikan di Kabul pada 2019. ISIS bertanggung jawab.

Menurut para pejabat Afghanistan, setidaknya 63 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka dalam ledakan yang menarget suatu pesta pernikahan yang diselenggarakan di suatu lingkungan minoritas Syiah di Kota Dubai, Kabul barat. Bom bunuh diri ini meledak Sabtu (17/8/2019) malam di area resepsi pria.

Perempuan dan anak-anak termasuk di antara korban, kata Nasrat Rahimi, juru bicara kementerian dalam negeri. Kelompok Negara Islam ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan ini.

Ledakan itu terjadi ketika Taliban dan Amerika Serikat (AS) sedang mencoba untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai penarikan pasukan AS sebagai imbalan atas komitmen Taliban dalam pembicaraan keamanan dan perdamaian dengan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.

Taliban membantah terlibat, seraya menyebut serangan bom tersebut terlarang dan tidak dapat dibenarkan. Namun Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, mengatakan, kelompok itu (Taliban) tidak dapat lari dari tanggung jawab, karena mereka menyediakan platform untuk teroris.

Dalam serangkaian cuitan, Minggu, Ghani mengecam keras “serangan tidak manusiawi” ini dan menyerukan pertemuan keamanan luar biasa untuk meninjau dan mencegah penyimpangan keamanan seperti ini.

Postcomended   Rokok Vape Memicu Mutasi DNA Penyebab Kanker

Ledakan terjadi di dekat panggung tempat para musisi berada. “Semua pemuda, anak-anak, dan semua orang yang ada di sana terbunuh,” saksi Gul Mohammad mengatakan kepada kantor berita The Associated Press. Pengantin pria, Mirwais Elmi, mengatakan, serangan itu mengubah kebahagiaannya menjadi kesedihan.

“Pengantinku terus pingsan. Aku kehilangan saudaraku, aku kehilangan teman-temanku, aku kehilangan kerabatku. Aku tidak akan pernah melihat kebahagiaan dalam hidupku lagi,” kata Elmi kepada stasiun TV lokal, Tolo News.

Setelah serangan itu, gambar-gambar dari dalam aula menunjukkan tubuh-tubuh bernoda darah bergelimpangan dilantai bersama dengan “potongan-potongan daging” dan pakaian robek, topi, sandal dan botol air mineral.

Seorang saksi, Sahi, mengatakan dia berada di belakang aula pernikahan ketika ledakan terjadi. “Itu sangat besar,” katanya kepada Al Jazeera. “Aku jatuh di tempatku berada. Ketika aku berdiri aku melihat meja dan orang-orang berserakan di mana-mana. Situasinya mengerikan. Kakakku terluka. Sebagian besar temanku terbunuh.”

Kelompok-kelompok bersenjata Muslim Sunni, termasuk Taliban dan ISIL/ISIS, telah berulang kali menyerang minoritas Syiah Hazara di Afghanistan dan negara tetangga Pakistan selama bertahun-tahun. Para pejuang secara berkala menyerang pernikahan Afghanistan, yang dipandang sebagai sasaran empuk karena mereka sering kekurangan tindakan pencegahan keamanan yang ketat.

Postcomended   Tobarium: Parfum dari Sumatera Utara yang Mendunia

Pada 12 Juli, setidaknya enam orang terbunuh ketika seorang pembom bunuh diri menyerang upacara pernikahan di provinsi Afghanistan timur, Nangarhar. ISIS yang memiliki jejak yang berkembang di wilayah tersebut, mengklaim bertanggung jawab atas ledakan itu. Setidaknya 40 tewas dalam ledakan di sebuah aula pernikahan di Kabul pada November 2018.

Serangan terakhir ini menghancurkan lebih dari satu minggu ketenangan relatif di ibukota Afghanistan di tengah perundingan damai. Sebelumnya, pada 7 Agustus, sebuah bom mobil Taliban yang ditujukan untuk pasukan keamanan Afghanistan meledak di jalan yang sama, menewaskan 14 orang dan melukai 145; kebanyakan dari mereka adalah wanita, anak-anak dan warga sipil lainnya.

Mendorong Perdamaian

Kekerasan itu datang dengan latar belakang pembicaraan antara AS dan Taliban, yang telah mengadakan pertemuan rutin di Qatar sejak Oktober 2018 untuk mencoba mengakhiri konflik 18 tahun. Harapan meningkat untuk kesepakatan di mana AS akan mulai menarik sekitar 14.000 tentaranya dari Afghanistan setelah perang yang telah berubah menjadi jalan buntu.

Sebagai imbalannya, Taliban akan menjamin Afghanistan tidak akan menjadi tempat perlindungan bagi kelompok-kelompok kekerasan untuk memperluas dan merencanakan serangan baru, kata kedua belah pihak. Taliban juga diperkirakan akan membuat komitmen untuk membuka pembicaraan pembagian kekuasaan dengan pemerintah yang didukung AS dan menyetujui gencatan senjata.

Postcomended   Tak Gunakan Kakao Betulan Seperti yang Tercantum pada Kemasan, Produsen Oreo Di-class Action

Omar Zakhilwal, mantan penasihat Presiden Ghani yang juga Perwakilan Khusus Presiden dan duta besar Afghanistan untuk Pakistan, mengatakan, kesepakatan damai dengan Taliban akan menghilangkan lingkungan yang memudahkan mereka melakukan “kegiatan teroris”.

“Setiap kali pembicaraan damai menghangat, serangan seperti itu (juga) meningkat,” katanya kepada Al Jazeera dari ibukota Afghanistan. “Ini seharusnya tidak menghalangi pembicaraan damai,” tambah Zakhilwal.***


Share the knowledge

Leave a Reply