Ekonomi

Airbus Merasa dalam Kondisi Bakal Salip Boeing sebagai Pabrik Jet Terbesar Sejagat

Share the knowledge

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=jXX1wIIP6OE)

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=jXX1wIIP6OE)

Raksasa jet Eropa, Airbus, menyebutkan bahwa peningkatan pengiriman pesawatnya saat ini berada pada kecepatan yang dapat menyalip raksasa lainnya, Boeing, sebagai pembuat pesawat jet terbesar di dunia 2019. 

Peningkatan pengiriman tersebut, menurut Airbus, membuat laba yang disesuaikan pada kuartal pertama naik tajam menjadi 549 juta euro (sekitar Rp 8,6 triliun/kurs Rp 14 ribu) dibandingkan dengan 14 juta euro pada tahun sebelumnya. Namun, laba bersih turun 86% menjadi 40 juta euro.

Dalam laporannya Selasa (30/4/2019), laman MarketWatch menyebutkan, Airbus mengirimkan 162 pesawat pada kuartal pertama dibandingkan dengan 121 pada periode tahun sebelumnya, mendorong peningkatan 24% dalam penjualan menjadi 12,55 miliar euro. Airbus terpaku pada panduan pengiriman 880 hingga 890 pesawat tahun ini.

Boeing awalnya dijadwalkan untuk mengalahkan Airbus lagi tahun ini sebelum pembuat pesawat Amerika Serikat (AS) ini memotong rencana produksinya setelah seluruh dunia meng-grounded armada 737 MAX-nya pada bulan Maret, yang membuat perusahaan ini menurunkan produksi pesawat terlarisnya itu.

Postcomended   Surat Pembantai Christchurch Lolos Sensor Pemerintah, PM Ardern Marah Besar

Jika tidak terjadi perubahan lebih lanjut, Airbus akan menjadi pembuat pesawat terbesar untuk pertama kalinya sejak 2011.

Boeing pekan lalu menunda perkiraan pengiriman pesawat setahun penuh karena ketidakpastian kapan pengiriman 737 Max-nya bisa dilanjutkan. Sebelum krisis Max melanda, Boeing memproyeksikan antara 895-905 pengiriman pesawat komersialnya.

Tren Pesawat Hemat Bahan Bakar

Pertumbuhan kuat dalam perjalanan udara global telah mendorong selera maskapai untuk pesawat baru yang lebih hemat bahan bakar. Airbus meningkatkan produksi jet A320 lorong-tunggalnya menjadi 60 pesawat sebulan pada pertengahan tahun dan mengatakan produksi harus mencapai 63 pesawat tersebut pada 2021.

Boeing sebenarnya siap meningkatkan produksi 737, juga, sebelum berbalik arah akibat kecelakaan pada Maret yang menimpa salah satu pesawat buatannya di Ethiopia; kecelakaan fatal kedua yang melibatkan versi Max hanya dalam waktu kurang dari lima bulan sesudah insiden pesawat sejenis di Indonesia.

Postcomended   Disebut Konyol oleh Denmark, Trump Mutung dan Batalkan Kunjungan ke Negara Ini

Sementara itu Airbus mengatakan, mereka menderita 4,3 miliar euro dalam free cash outflow (arus kas bebas) sebelum merger, akuisisi, dan pembiayaan pelanggan. Angka tersebut mencerminkan tingkat persediaan yang lebih tinggi untuk membuka jalan bagi produksi yang lebih tinggi dan beberapa penyerahan pesawat yang tertunda.

Perusahaan yang berbasis di Toulouse, Prancis, ini, mengambil satu kali biaya 61 juta euro terkait keputusan yang diambil pada Februari lalu untuk menutup program superjumbo A380. Pesawat dua tingkat terakhirnya ini, akan dikirim pada 2021.

Airbus pada Maret mengatakan telah memulai pembicaraan dengan serikat pekerja tentang dampak penutupan program pesawat boros bahan bakar ini terhadap 3.500 pekerjaan yang terkait, sebagian besar di Perancis dan Jerman.

Perusahaan juga terpaksa dibebani 190 juta euro sebagai akibat dari penangguhan lisensi ekspor pertahanan ke Arab Saudi oleh pemerintah Jerman.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top