10 Fakta Menarik tentang Sate Bandeng Khas Banten - MerahPutih MerahPutih900 × 674Search by image 10 Fakta Menarik tentang Sate Bandeng Khas Banten

10 Fakta Menarik tentang Sate Bandeng Khas Banten – MerahPutih MerahPutih900 × 674Search by image 10 Fakta Menarik tentang Sate Bandeng Khas Banten

“Aku berjanji akan mencintai dirimu, selama hayatku, sampai detik terakhirku hidup, hanya kamu, dan tak ada lagi wanita lain yang ku cintai. Hanya kamu. Kamu. Dan kamu.”

Itulah ikrarku. Saat berjumpa kali pertama. Dengan tahun baru 2017. Kala itu dingin Puncak Gunung Pabeasan membalut kulit langsat aku dan dia. Beberapa sate bandeng, aku buat untuk menemani malam yang indah dijejali oleh hiasan ornamen kembang api yang diledakan dari pinggiran Pantai Anyer. Kami sungguh menikmati malam itu.

Tahun baru 2017 adalah tahun baru yang berbeda dari tahun-tahun baru sebelumnya bagiku. Hanya di tahun baru ini, aku memiliki rencana bagaimana cara melahap malam itu menjadi indah. Ya, memang indah karena rencana ini membawa aku dalam kebahagian yang luar biasa. Aku, kau dan sate bandeng di puncak Gunung Pabeasan. Moment yang tak akan aku lupakan sampai akhir hayatku.

Awal Desember, jam di dindingku menunjukan pukul 15.30 WIB. Ku line dia orang terdekatku, Inggrit Ifani.

“Tahun baru ada rencana?”

“Enggak ada, kenapa?”

“Ikut aku yuk? Kita tahun baruan bareng.” pintaku kepadanya.

Aku mengawali hubungan dengan dia dengan nama persahabatan. Kami dipertemukan dalam sebuah project yang diadakan oleh Universitas sebagai prasarat kelulusan bagi mahasiswanya. Dia menerimaku waktu itu sebagai manusia. Tidak seperti dengan perempuan lain, ketika ku sapa saja malah kebun binatang yang keluar.

“Hei, aku Faisal. Salam kenal.”

“APA MONYET!”

Ya begitulah pengalamanku bertemu dengan wanita. Kamu pasti mengerti posisiku sebagai laki-laki ketika itu. Setelah kejadian itu aku seperti trauma dan tak akan mengenal lagi dengan makhluk yang bernama wanita.

Inggrit Ifani sungguh berbeda. Setiap kali bersamanya, ingin selalu ku bingkaikan senyum di bibirnya. Hanya bahagia dan bahagia yang ingin selalu ku ukir saat bersamanya. Takan ada luka.

Jam 5.00 WIB, aku tiba di rumah Inggrit Ifani. Kala itu mentari masih malu menunjukan sinarnya. Bukan hanya mentari, Inggritpun masih sibuk dijejali mimpi-mimpi yang tersisa malam tadi. Ya, dia masih tidak percaya sepagi itu aku menjemputnya. Mengingat jarak dari rumahnya didaerah Masjid Kubah Emas depok dengan stasiun Kebayoran lama terbilang tidak dekat. Aku putuskan untuk menjemputnya pagi-pagi buta.

“Serius kita bakal naik?”

Kulihat dia masih mengenakan daster (Ini kali pertama aku melihatnya menggunakan daster, dia tampak berbeda, lebih cantik) dan masih menyakinkan dirinya bahwa aku sudah berada tepat di depan pintu gerbangnya.

“Kamu bawa apa ajah? Sebanyak itu?”

Diapun berlalu sambil memperiapkan dirinya.

Kami mengambil kereta jurusan Stasiun Krenceng. Jam 6.00 wib, kamipun berangkat menuju stasiun Kebayoran Lama dan tiba jam 7.00 WIB. Kami menggunakan kereta patas merak. Jadwal keberangkatan jam 8.00 WIB. Situasi stasiun ketika itu penuh sesak, mengingat tanggal 31 Desember banyak yang menggunakan transportasi ini untuk mudik dan berlibur menikmati malam tahun baru di Anyer. Saat kereta tiba kamipun berdesakan untuk masuk ke gerbong kereta. Aku kasihan melihat Inggrit. Dia tidak terbiasa dengan moda transportasi ini.

“Demi apapun, ini apa gak ada antisipasi apa dari pemerintah? Ini kan mau tahun baru, pasti banyak yang mudik dan berlibur? Masa sampai bejubel (desak-desakan) gini? Harusnya gerbongnya ditambah lagi.” Keluhnya kepadaku. Ia mengeluhkan kepada pemerintah dalam hal ini kementrian perhubungan yang sama sekali tidak ada antisipasi dalam lunjakan penumpang kereta api menjelang tahun baru ini.

Postcomended   Hari Angklung Sedunia, Saung Udjo Gelar Angklung Pride ke-7

Apalagi sikap tak ramah PKD dan para security yang memaksakan masuk para penumpang yang tidak memiliki nomor tempat duduk ke dalam gerbong kereta. Padahal pintu masuk gerbong kereta sudah sesak dipenuhi penumpang yang berdiri.

Sekitar dua jam lebih aku dan Inggrit berdiri berdesakan dengan penumpang lain sampai akhirnya kami tiba di stasiun Rangkas Bitung. Banyak dari penumpang yang turun di stasiun ini. Dan kamipun mendapatkan duduk. Saat duduk aku lihat tawanya yang lepas menunjukan bahwa dia menikmati perjalanan ini.

Jam 12.00 wib, kami tiba di stasiun Krenceng. Seharusnya sudah ada yang menjemput kami di stasiun ini. Namun setelah kami cari-cari ternyata mereka tidak terlihat batang hidungnya.

“Mana Iceng? Kok enggak jemput?”

Ku periksa handphoneku di tas. Dan aku tidak mendapati hanphoneku disana.  Memang sengaja aku taruh dia disana karena ukurannya terbilang besar dan tidak masuk dalam saku celana. Aku mencoba bersikap tenang.

“Kita cari makan dulu yuk? Kamu laper kan?”

Kami menemukan sebuah pondok bakso. Kamipun makan bakso disana. Sambil menunggu bakso yang akan disajikan aku memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Inggrit tentang handphoneku yang hilang. Aku ingat ketika sedang mengantri tiket kereta di Kebayoran Lama, ada seorang laki-laki yang bersikap ramah antri dibelakangku. Namun, gerak-geriknya mencurigakan. Tas saya selalu dipegang-pegang. Mungkin memang dialah pelakunya. Pencuri handphoneku.

“Grit, hapeku ilang. Kayaknya orang yang ngantri di belakang aku deh yang nyuri, pas ngantri tiket di Kebayoran Lama” jelasku kepadanya.

“Kok bisa! Teledor banget sih jadi orang”

“Tenang, Git. Mungkin emang bukan rezeki aku.”

“Terus gimana ngehubungi Iceng dan kawan-kawan.”

“Tenang, sebelum kesini aku udah ada firasat. Hapeku bakal hilang. Jadi nomor Iceng udah aku catet. Nanti kita naik angkot ya ke Pabuaran. Sampai sana kita ke Alfamidi, terus nanti kita minjem hapekasirnya untuk hubungin Iceng, nanti aku ganti pulsanya. Gimana?” Jelasku kepadanya.

“Oke deh.”

Setelah selesai makan bakso, kami bergegas naik angkot. Dan turun di Alfamidi Pabuaran.

“Teh, aku minta tolong boleh?” pintaku kepada salah satu kasir Alfamidi.

Sementara itu Inggrit duduk menunggu di luar. Karena ada fasilitas tempat duduk di Alfamidi tersebut.

“Tolong apa yah, a?”

“Aku baru kehilangan hape di stasiun. Aku mau nelpon temen aku buat jemput. Boleh minjem hape teteh buat hubungin temen aku? Nanti aku ganti teh pulsanya.”

“Bisa-bisa, a. Ini, a.” diapun meminjamkan handphonenya.

Segera ku hubungi nomor Iceng.

“Ceng, gue udah di Alfamidi Pabuaran nih?”

“Oh Iya, Sal. Jadi dateng loe? Oke, oke tunggu ya”

Sepuluh menit kemudian Iceng datang.

“Sama Inggrit doang? Adeknya mana?” tanyanya.

Memang sebelumnya rencanaku ke Anyer berempat. Aku, Inggrit, adiknya dan pacar adiknya. Namun malam harinya sebelum hari H ternyata pacar adiknya punya rencana sendiri. Mungkin ini yang membuat ragu Inggrit pergi denganku tadi pagi.

“Adeknya pergi ke Cibodas, ikut pacarnya.” Jelasku kepadanya.

“Oh, yaudah naik.” Ku taruh barang-barang bawaanku di mobilnya.

“Ini mobil siapa, Ceng?” tanyaku heran karena aku tahu mobil ayah Iceng bukan yang tampak sekarang.

“Oh, ini mobil Badron?”

“Badron FISIP?” tanyaku heran.

Postcomended   Mengintip Isi Garasi Cristiano Ronaldo

“Iya.” jelasnya.

“Lah, dia kesini? Ama siapa ajah?” lanjutku.

“Ama anak-anak FISIP. Faruqi, Rickal, Abun dan pacarnya, Randi, ama Akim.”

Aku terdiam. Masih belum percaya bakal ketemu mereka di sini. Pasti akan ada suasana yang berbeda. Dan rencanaku pasti berubah.

“Git, gapapakan? Tanyaku kepadanya?”

“Iya gapapa.”

“Ceng, tapi kita jadi naik kan?”

“Wah, kayaknya gak bisa, Sal. Lusa ajah gimana? Anak-anak mau bakar-bakar di pantai soalnya.”

Benar saja. Tidak sesuai rencana. Menunggu lusa takan pernah bisa. Inggrit hanya bisa satu hari ini saja. Karena hari Seninnya dia harus kembali bekerja.

“Yaudah, Git. Kita tetep naik yah. Berdua ajah.” Jelasku kepada Inggrit.

“Ceng, nanti abis dari pantai, pas terbenamnya matahari anter kita ke kaki gunung ya?” pintaku kepada Iceng.

“Loe jadi naik, Sal?”

“Iya, Ceng. Harus sesuai rencana, Ceng. Gue gak mau Inggrit kecewa.”

“Gapapa kok ikut mereka ajah.” Jelas Inggrit.

“Enggak, Grit. Kita harus naik.”

Jam 13.00 WIB, kami tiba di rumah Iceng, di kampung Jaha. Letak rumah Iceng dekat dengan kaki gunung Pabeasan. Jaraknya sekitar 2 kilometer. Setelah sampai kami menemukan mereka sedang bersantai. Mereka baru saja selesai makan-makan. Memang biasanya jika kami bertamu ke rumah Iceng akan disuguhkan makanan-makanan yang banyak dan lezat. Aku yakin hari ini juga mereka disuguhkan hal yang sama.

Jam 3.30 WIB, aku dan Inggrit beserta rombongan FISIP ke Pantai Pasir Putih Florida Indah. Sebenarnya banyak pantai-pantai wisata di Anyer. Ada pantai yang paling terkenal yaitu pantai Carita. Terus ada pantai sambolo.Ada pantai yang banyak batu dan pohon kelapannya yaitu pantai Cibeureum.Ada pantai yang memiliki fasilitas main air lengkap yaitu pantai Marina.Ada juga pantai yang dikelilingi hotel Marbella, yaitu pantai Marbella.

Ada juga pantai yang belum banyak orang tahu katanya masih perawan, hehehe, namanya pantai Jambu. Dan yang kami pilih adalah pantai Pasir Putih Florida Indah. Pantai ini yang menurut Iceng adalah pantai yang tepat untuk menikmati sunset terakhir di penghujung tahun 2016.

Selain karena Indah, dan memiliki batu karang yang bagus yang bisa di jadikan tempat untuk selfie, serta pasir pantai yang cukup putih dan ombak-ombak yang menderu-deru,tempat ini juga tergolong tempat wisata yang murah meriah. Tiket masuk perorang hanya dibanderol sepuluh ribu rupiah saja.

Tapi karena kami memiliki putra mahkota Anyer asli (read: Iceng), tidak jadi masalah. Hanya menggunakan password Mang O’om, kamipun tidak dipungut biaya sepeserpun, dalam arti kata lain GRATIS! Hehehe.

Jam 18.19, sunsetpun tiba, benar kata Iceng, warna jingga dari matahari terbenam disini sungguh menakjubkan. Air lautpun menjadi jingga karena sinarnya. Gugusan gunung berapipun yang berjajar di depan mata menambah elok suasana waktu itu. Termasuk juga dia, wanita yang aku cintai membuat segalanya menjadi lebih manis.

“Kalo sering begini, gue pasti kena diabetes(joke: lebih manis) nih. Tapi gapapalah, yang pentingkan terus sama dia.” Aku berkata dalam hati menanggapi momentini yang tak pernah ku alami sebelumnya.

Jam 19.00, aku dan Inggrit pisah dari rombongan. Ya tujuan kami selanjutnya adalah gunung Pabeasan. Icengpun mengantar kami menuju kaki gunung Pabeasan.

“Sayang, Sal. Tadi gak sampai tahun baru. Padahal ada DJnya pas malam nanti.” Terang Iceng.

“DJ banyak Ceng di Jakarta. Kita mau yang lebih dari DJ, hahaha”

Postcomended   Pemerintah Tetapkan Libur Nasional dan Cuti Bersama 2018

Sebelum kami meninggalkan Pantai Florida Indah, kami memang melihat panggung yang lumayan besar. Dan sudah banyak khalayak yang mengerumuni panggung tersebut.

“Ceng, Maaf ya ngerepotin.”

“Emang seringkan, hahaha” kamipun tertawa.

Kami tiba di kaki gunung jam 19.30 WIB. Icengpun melepas kepergian kami dengan senyum hangatnya.

“Hati-hati, Sal. Jagain Inggrit.”

“Pasti, Ceng. Makasih, ya.”

Kesan pertama kali melihat track adalah pekat, ngeri dan dingin. Mungkin dua sampai tiga jam kedepan suasana mencekam akan terus menyertai perjalanan kami. Kamipun hanya mendaki dan mendaki saja. Beberapa suara ikut nimbrung dalam percakapan malam kami. Benar-benar mencekam malam ini.

Di tengah perjalanan aku teringat dengan cerita-cerita yang digambarkan oleh Iceng saat pengalamannya mendaki malam-malam bersama teman-temannya. Bagaimana mereka pernah menemukan babi-babi hutan dalam perjalanan ke puncak. Merekapun dikejar bahkan ada yang sampai naik ke pohon untuk menghindari babi hutan tersebut.

Selain itu ada juga yang menjumpai kuntilanak, bahkan diantara mereka ada yang kesurupan. Secara tidak langsung cerita yang tidak sengaja teringat itu membuat aku menjadi ngeri. Aku takan menceritakan cerita ini kepada Inggrit. Jika dia mendengar pasti ciut juga nyalinya sama sepertiku dan pasti akan memutuskan untuk kembali.

Jam 22.00 WIB, kami tiba di puncak. Setelah beberapa kali kami Istirahat di perjalanan. Kamipun mendirikan tenda untuk tempat berlingdung kami. Kami menyiapkan api unggun untuk menghangatkan malam. Sambil menunggu pergantian malam tiba, kami membuat sate bandeng sebagai teman untuk menikmati malam.

Aku sudah membawa bahan-bahannya dari rumah, tinggal dibakar saja. Sate bandeng jika dibakar secara langsung, maka akan tercium aroma daging ikan bandeng yang khas. Perutpun akan keroncongan jika menghirup aroma dari daging sate bandeng tersebut. Pasti gurih dan nikmat jika dimakan dalam keadaan hangat. Kami santap sate ikan bandeng itu panas-panas setelah matang. Lezat.

Sate bandeng adalah makanan khas daerah Banten. Banyak dijumpai di daerah Serang. Aku tahu resep ini dari salah satu rumah makan sate bandeng di daerah Lopang, Serang. Aku berkunjung kesana dua tahun lalu, ketika itu aku di ajak dosen yang akan presentasi di salah satu hotel di Anyer. Katanya dia ingin membawa oleh-oleh untuk istrinya. Dan sate bandeng adalah oleh-oleh yang tepat untuknya.

Pergantian tahun tiba. Bunga-bunga api merekah menghiasi langit-langit malam Anyer. Dari atas, ku saksikan letupan-letupan kembang api yang indah berasal dari bibir-bibir pantai Anyer. Ku saksikan juga gemerlap lampu disko dari pantai Florida Indah. Ditambah lagi lampu-lampu berkelip-kelip yang muncul dari pabrik Candra Asri membuat malam kami menjadi malam yang takan terlupakan. Ini adalah moment yang tepat untukku membuat ikrar kepadanya.

Share the knowledge