Ekonomi

Aku Selfie maka Aku Ada

How To Basic: Your Guide To Taking The Perfect Selfie | MTV mtv.com.au760 × 760Search by image We've got you covered...

How To Basic: Your Guide To Taking The Perfect Selfie | MTV mtv.com.au760 × 760Search by image We’ve got you covered…

Malam itu, secara tidak sengaja, saya berada di antara kerumunan manusia, anak muda, paruh baya, rakyat miskin kaya, desa dan kota. Ternyata jamaah ini berkumpul dalam rangka menantikan gala premiere serta meet and great dengan para pemain Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2.

Lebih dari lima ratusan manusia rela berjejer penuh antusias di atrium Jogja City Mall dua jam sebelum jadwal yang diagendakan. Beberapa di antaranya lengkap dengan kaos berlambang film tersebut. Entah doktrin nasionalisme apa yang menggerakkan mereka.

Merasa penasaran, saya pun ikut nimbrung menunggu di depan gedung bioskop. Satu jam berlalu, sang idola belum juga kelihatan batang hidung dan lehernya. Sebagian sudah mulai duduk lesehan di karpet yang lebih bagus dibandingkan dengan karpet di kontrakan saya. Sebagian sibuk dengan gadget-nya dan yang lain sekadar bercanda ria dengan gandengannya.

Setelah dua jam, entah dari mana sumbernya, ada yang mengabarkan jika Abimana Aryasatya, Vino G Bastian, Tora Sudiro, dan Indro Warkop telah tiba. Semua berdiri dan buru-buru menyalakan kamera handphonenya. Termasuk mulai ancang-ancang memanjangkan tongkat selfie-nya. Persis seperti prajurit yang mengeluarkan pedang dari sarungnya (dan ini lebay).

Seketika, mereka berhamburan keluar dan menuju pintu eskalator. Setelah beberapa menit tampak suasana tegang, yang ditunggu belum juga muncul. Sampai sekitar tiga puluh menit kemudian, rombongan para artis ini akhirnya datang dengan kawalan ketat security.

Tiba-tiba suasana menjadi gaduh. “Omaigat!” “Ya Tuhan” “Masyaallah Abimana!” “Ooi” “Vinooo” “Ih ganteng banget!” “Tora mana” “Kece banget” “Itu Indro” “Aduh”. Itu di antara suara-suara pekikan yang sempat saya dengar.

Detik-detik selanjutnya, saya ikut terdorong dan hampir terjatuh di tengah manusia yang berdesak. (Sadarlah, wahai manusia, ini bukan sedang wukuf di Arafah atau mengelilingi Kakbah). Ada yang unik, seorang cewek di dekat saya berlari mengejar sang idola sampai meninggalkan sang gebetan begitu saja. (Kasian deh lu).

Luar biasa sekali, pemirsa. (Saya meneteskan air mata) melihat usaha mereka untuk bisa mendekat kepada empat orang artis itu. Ternyata tujuan kerumunan ini hanya satu, berfoto bersama dan atau selfie dan atau wefie (istilah-istilah ini sebenarnya berbeda, tapi saya samakan atas dasar pasal 28-28J UUD 1945). Di hadapan selfie dan sejenisnya, semua manusia sama.

Postcomended   Tentang #GantiPresiden2019

Malam itu, tak lebih dari 7 persen yang bisa salaman, lebih sedikit lagi yang bisa berfoto sempurna. Sisanya hanya potongan foto security atau blur. Sementara empat manusia artis dengan wajah kelelahan ini memilih berjalan cepat dan bahkan berlari menghindar. “Omaigat.”

Tiba-tiba saya teringat dengan seorang ustaz yang punya akun twitter @felixsiauw. Di awal tahun 2015, beliau mentwit keprihatinan tentang selfie yang kemudian menuai belasan ribu balasan dan menjadi trending topic ketika itu.

Kata ustaz, “Saya sangat prihatin, banyaknya generasi muda yang tak lagi peduli rasa malu.” Twit yang lain, “Bukannya mengatakan bahwa foto atau #Selfie adalah haram dan dosa, yang saya garisbawahi adalah niat, dan amalan hati, agar berhati-hati.”

Ada juga, “Padahal Rasulullah bersabda ‘sungguh tiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah malu’ | dan ini yang digerus dari umat ini.” Masih ada, “Perilaku narsis yang bersumber pada ujub (bangga diri) | adalah sebab #Selfie kian menjamur.”

(Selain itu, “#Selfie tidak dicontohkan oleh Rasulullah, maka itu perbuatan bid’ah yang sesat | setiap kesesatan membawa kepada neraka | sebagai solusi, marilah kita kembali ke khalifah.” | eh, yang terakhir ini sungguh hanya kicauan imajinasi saya)

Kultwit ustaz Felix itu menuai beragam tanggapan dengan sangat meriah di dunia maya dan nyata. Kebanyakan adalah yang bereaksi dengan tagar #Selfie4Siauw sembari memposting foto selfie mereka. Tagar #Selfie4Siauw digunakan hampir 17.000 kali dalam waktu sepekan itu. Saya terlambat untuk mengajak massa meramaikan tagar #AksiBelaSelfie. “Omaigat.”

Kejadian di malam itu baru saya pahami ketika keesokan harinya berbincang dengan senior di Suara Muhammadiyah; Muhammad Yuanda Zara PhD dan Kiai Mustofa W Hasyim. Kata Pak Mustofa, “Berfoto itu punya makna faktual dan simbolik.” Lengkap dengan penjelasannya yang panjang kali lebar sama dengan luas. Khas budayawan yang menjelaskan secara sederhana dengan contoh fenomena kemunculan foto di tahun-tahun 60-an.

Foto ketika itu termasuk hal mewah. Bahkan gaya berfoto selalu dalam kondisi tegang (mungkin karena kelamaan nunggu), bukan memamerkan gigi atau memonyongkan mulut seperti sekarang.

Postcomended   Kelas Prioritas di Argo Parahyangan Dibandrol Rp 200 Ribu per Orang

Sementara Yuanda Zara menyatakan, foto dan selfie punya banyak makna dilihat dari berbagai sisi. Ia menjelaskan teori arti penting foto bagi dunia media, yang bisa mengungkap fakta lebih dari sekedar berita, punya makna ganda, hingga bisa untuk propaganda.

Mulai dari contoh foto ketika komandan Batalion Marinir mengibarkan bendera Amerika Serikat di Istana Shuri dalam pertempuran Okinawa yang memiliki arti kemenangan Amerika Serikat atas Jepang sampai pada foto pesanan Presiden Soekarno yang memeluk Jenderal Sudirman. Semua foto iconic itu memiliki interpretasi yang tidak biasa dan punya pengaruh besar bagi sejarah umat manusia.

Sekarang saya mulai paham kenapa manusia milenial sibuk mengejar foto dan selfie dalam setiap momen. Bahkan katanya hampir 1 triliun foto dalam setahun. Karena bukankah foto punya arti penting, dan bahkan dicontohkan langsung oleh baginda Presiden Soekarno. Siapa yang berani melawan Soekarno yang memproklamasikan kemerdekaan, yang disegani dunia, yang pidatonya berapi-api itu, bapak bangsa dan bapak yang poligami itu, eh.

Justru mungkin ustaz yang gerah dengan fenomena selfie ini perlu istighfar lebih banyak, termasuk saya. Mengapa harus gerah. Bukankan ini fenomena bangkitnya kesadaran generasi muda untuk mencontoh para tokoh pendiri bangsa, merupakan fenomena yang sangat patut dihargai dan bahkan harus didukung penuh.

Terlebih di zaman yang katanya nasionalisme anak-anak muda mulai luntur. Keinginan mereka untuk meneladani Soekarno di zaman krisis keteladanan ini sungguh membanggakan bukan? “Omaigat.”

Lagi pula, melarang berfoto dan selfie justru sangat berbahaya bagi kesehatan dan umur panjang. Bukan tidak mungkin akan terjadi bunuh diri, tersebab tidak bisa selfie dengan sosok tertentu. Sekali lagi, biarkan mereka selfie. (Tolonglah). Karena dengan selfie, maka mereka ada. Kita harus khawatir, andaikata dengan melarang selfie akan mengulang kisah kematian Kevin Carter pada 27 Juli 1994.

Kevin Carter merupakan fotografer peraih penghargaan Pulitzer untuk kategori fotografi jurnalistik, Vulture and a Child. Gambar itu mendeskripsikan derita kelaparan balita kulit hitam kurus kering dengan latar belakang seekor burung pemakan bangkai.

Foto itu dipotret pada Maret 1993 dalam perjalanan ke Sudan. Di sebuah desa, ia mendapati seorang gadis yang kelaparan dan lunglai dengan tulang belulang yang menonjol, berusaha mencapai kamp bantuan kemanusiaan PBB.

Postcomended   11 Oktober dalam Sejarah: Samsung Menyetop Produksi Ponsel Seri "Bom"-nya

Gambar monumental itu diambil Kevin dengan sangat berhati-hati agar tidak menakuti burung sehingga tidak terbang. Bahkan Kevin rela menunggu selama dua puluh menit agar posisi burung cukup dekat dengan anak perempuan itu. Sehingga kedua objek bisa cukup fokus untuk dipotret dari sudut yang sempurna, dengan jarak sekitar 10 meter. Foto ini dijual ke New York Times yang dirilis perdana 26 Maret 1993.

Konon, peristiwa inilah penyebab Kevin bunuh diri, 14 bulan setelah meraih hadiah Pulitzer Prize. (Penyebab sesungguhnya hanya Allah yang tahu). Ia sangat menyesal dan merasa bersalah tidak menolong anak itu, tetapi malah mengambil momen untuk memotretnya. Bayang-bayang penyesalan ini membuat Kevin mengakhiri hidupnya. Dengan mengunci diri di dalam pikap-nya dan mengalirkan gas knalpot ke dalam mobil hingga ia tewas. “Omaigat.”

Membayangkan hal ini, sungguh sangat mengerikan. Peristiwa bunuh diri tersebab foto atau selfie jangan sampai terulang di masa sekarang. Para generasi milenial ini harus dikasih akses yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dunia maya. Merupakan tugas negara; memenuhi hajat hidup orang banyak untuk memajang foto di instagram, facebook, twitter, dan makhluk sejenisnya.

Fenomena ini bisa jadi bahwa seseorang merepresentasikan dirinya bukan berdasarkan pikirannya sendiri, tetapi berdasarkan pikiran bagaimana orang lain memandang dirinya. Dengan adanya foto dan selfie diharapkan akan menaikkan dan menguatkan penilaian tersebut.

Share the knowledge

Pages: 1 2

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top