Misnadi Abdullah alias Adi, tampaknya sudah sesat sejak dari pikiran. Setelah tiga bulan lalu dilaporkan anaknya karena memaksa sang anak mengikuti ajaran sesatnya, saat ini Adi masuk daftar pencarian orang (DPO) Polres Probolinggo, atas kasus pencurian dengan kekerasan (curas) dan kasus pengeroyokan. Ajaran sesat Adi menggabungkan kepercayaan kepada Allah Swt, namun seraya menyembah matahari. Ini bukan kasus pertama munculnya keyakinan menyembah matahari di era modern di Indonesia.

Polres Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), saat ini sedang mengejar Adi. Kapolres Probolinggo, AKBP Fadli Samad, Jumat (13/10/2017) di Surabaya, mengatakan, tersangka masih berstatus DPO. “Informasi terakhir (Adi) berada di luar Probolinggo,” kata Fadli, dilansir Antara.

Adi juga kata Fadli, seperti diberitakan Okezone, dilaporkan anaknya (ND) tiga bulan yang lalu karena dia dipaksa mengikuti ajaran sesat ayahnya, lalu diancam dibunuh jika tak mau. Ajaran sesat Adi meyakini Allah SWT, namun setiap pagi dan sore menyebut namaNya sambil menghadap matahari.

Menurut Fadli, selama dalam pelarian, tersangka sering memperbaharui status facebook-nya. Isinya terkait ajaran menyembah matahari tersebut. Dia menganggap matahari adalah wujud dari Tuhan dan sumber dari semua hal.

Dikutip dari Okezone, unggahan statusnya pada 22 September lalu tertulis: Aku tahu kalian semua orang-orang yang fanatik dan tak mau mengakui kebenaran yg kubawa ini walau kalian semua sudah tahu bahwa matahari tidak pernah tenggelam atau terbenam seperti perkiraan nabi ibrohim. Karena aku tahu kalian semua golongan orang-orang yang sudah ditutup mata dan telinganya oleh Alloh.

“Orang gila yang masih belum menemukan kewarasan itulah misnadi,” tulis pemilik akun Omaet, yang menulis di kolom komentar. Akun milik Misnadi ini sudah tidak bisa diakses pada Jumat, 13 Oktober 2017 sekitar pukul 19.00. padahal kata seorang netizen, akun ini masih ada pada pukul 17.00.

(Status Misnadi dalam akun Facebook-nya yang mengajak menyembah Allah dan matahari. kredit: Okezone)

MUI Kabupaten Probolinggo, melalui Sekretarisnya, H. Yasin, menyebut kegaduhan atas kasus Misnadi agar tak dibesar-besarkan. Terlebih karena kasusnya sudah ditangani kepolisian.

Kepercayaan yang menggabungkan Islam dengan dinamisme ini, juga pernah muncul Juli lalu di Kampung Bojong, Desa Cipacing, Sumedang, Jabar. Seorang perempuan bernama Elah, menyuruh pengikutnya untuk salat menghadap matahari.

Dari Detikcom, Ketua RW 15 Kampung Bojong, Engkus Kusman mengatakan, Elah adalah warga baru di Kampung Bojong pada 2012, pindahan dari Kampung Babakan Sukamulya yang dekat tempat suaminya bekerja. Konon Ela juga diusir dari sana karena menyebarkan ajaran sesat.

Sejak berdomisili di Kampung Bojong, Elah mulai menggelar pengajian untuk anak-anak dan ibu-ibu. Keanehan terendus sejak 2015. Jika mengadakan kegiatan di rumahnya, lampu dimatikan, kata Engkus. Namun Engkus sendiri mengaku hanya mendapatkan informasi ini dari warga. Informasi terakhir, polisi masih menyelidiki kasus ini.

Pengaruh animesme dan dinamisme di pulau Jawa sebenarnya sesuatu yang tak mengherankan bahkan menjadi semacam kekayaan budaya. Kejawen di tanah Jawa dan Sunda Wiwitan di tatar Sunda adalah warisan kepercayaan tersebut. Menjadi salah ketika kepercayaan terhadap kekuatan alam dan benda-benda itu digabungkan dengan ajaran agama resmi.***