Teknologi SIA] Perusahaan E-Commerce Raksasa dari Cina | Look and ... Look and Read My Blog - WordPress.com620 × 344Search by image 023129100_1411556393-jackma-kecil-alibaba

Teknologi SIA] Perusahaan E-Commerce Raksasa dari Cina | Look and … Look and Read My Blog – WordPress.com620 × 344Search by image 023129100_1411556393-jackma-kecil-alibaba

Dulu dia ditolak saat melamar menjadi polisi. Bahkan restoran cepat saji KFC tidak meliriknya sama sekali. Kini sejumlah negara, setidaknya Malaysia dan Indonesia  berebut menjadikan boss raksasa e-commerce Alibaba ini sebagai penasihat; meskipun kata Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Rudiantara, pemerintah Indonesia tak menggajinya. Lagipula, berapa pemerintah berani membayar pria yang sudah masuk jajaran orang terkaya sejagat ini?

Pria 52 tahun ini kini memang menjadi sangat dekat dengan Indonesia. Selain mengakuisisi Lazada senilai sekitar Rp 13 triliun, Agustus lalu Alibaba juga resmi menanam investasi hingga Rp 14 triliun di Tokopedia.

Bagaimana perjalanan hidup pria terkaya di Cina ini? Business Insider menulis, “Saya mau menjadi polisi, mereka bilang saya tidak pantas. Bahkan saya melamar ke KFC di kota saya, dari 24 orang yang melamar hanya saya yang tidak diterima.”

Begitulah curhatan Jack Ma yang kini bagai melegenda. Curhatan yang dikutip hampir semua media yang mengulas tentangnya.

Namun sebelum sukses dengan Alibaba-nya, “penolakan” bagai duri yang mengalir dalam darahnya. Bahkan bangku universitas seolah kompak menolaknya, hingga tiga kali.

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Replying to @hotradero Sejarah Alibaba dimulai dari kunjungan ke Great Wall tahun 1999. Bisa ditebak kan Jack Ma yang mana?

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Replying to @hotradero Sejarah Alibaba dimulai dari kunjungan ke Great Wall tahun 1999. Bisa ditebak kan Jack Ma yang mana?

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Replying to @hotradero Sama seperti start up lainnya. Ini foto saat Alibaba mulai berdiri.

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Replying to @hotradero Sama seperti start up lainnya. Ini foto saat Alibaba mulai berdiri.

Lulus kuliah pun tak membuat hidup Ma mulus begitu saja. Mengalami ditolak dunia kerja hingga 30 kali, bikin Ma sempat putus asa. Kemampuannya berbahasa Inggris, sesuatu yang pada 1980-an tergolong langka di Cina, rupanya bukan nilai tambah yang dianggap mumpuni di negeri Tirai Bambu tersebut.

Postcomended   ISIS Kalah di Mosul: Malaysia Siaga Satu, Indonesia Lebih Tenang

Bagaimanapun, memasuki abad Milenium, Ma mulai diperhitungkan. Panitia sebuah konferensi teknologi di Berlin, Jerman, mengundangnya menjadi pembicara. Kala itu Ma sedang mulai membangun Alibaba.

Apa yang terjadi? Di dalam ruangan berkapasitas 500 tempat duduk, hanya terlihat tiga orang. Itupun mungkin panitianya. Namun di akhir ceramahnya, ketiganya memberi tepuk tangan.

Namun bila membaca kisah hidupnya sejak kecil, Ma tampaknya sudah memiliki faktor diferensiasi. Pada usia 12 tahun saja, dengan menggenjot sepeda, dia mendatangi sebuah hotel di kotanya, Hangzhou, Cina, agar bisa mengasah bahasa Inggrisnya dengan turis-turis asing.

Dia bahkan menawarkan diri menjadi pemandu wisata gratisan. Ma juga tekun mendengarkan siaran radio berbahasa Inggris.

Saat berusia 16 di tahun pada 1980, Ma pun tak ragu bergaul dengan satu keluarga asal Australia yang sedang mengikuti program persahabatan antar pemerintah di kotanya. Motivasinya tetap, ingin mengasah bahasa Inggrisnya.

Ma bahkan akhirnya menjadi sangat dekat dengan keluarga ini. Dia menjadi berteman baik dengan David, anak Ken Morley. Morley dan keluarganya waktu itu tengah mengikuti program Australia-China Friendship Society.

Setelah keluarga Morley pulang ke Australia, Ma masih berhubungan erat lewat surat menyurat seraya David merevisi tata bahasa Inggris Ma. Morley bahkan kemudian mengundang Ma ke Australia pada 1985.

Terkesan akan kerasnya kemauan Ma, Morley tak ragu membantunya untuk bisa melanjutkan sekolah dengan memberi uang yang kala itu senilai Rp 1,8 juta. Ma pun lulus dari Hangzhou Normal University jurusan Sastra Inggris pada 1988.

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Alibaba dan benchmarking dengan Walmart. Offline versus Online.

Poltak Hotradero‏ @hotradero Sep 11 Alibaba dan benchmarking dengan Walmart. Offline versus Online.

Sesuai ketertarikannya pada bahasa Inggris, Ma pun sempat memulai karirnya sebagai guru bahasa Inggris, dengan gaji rendah. Namun kemampuannya dalam Inggris juga yang tampaknya meleluasakan dirinya menapaki pergaulan internasional.

Postcomended   Wayang Ajen Semarakkan Puncak Hari Jadi Kuningan ke-519

***

Jasa keluarga Morley yang dianggap Ma sangat besar, membuat Ma tak ragu membalas kebaikan mereka. Selain dalam bentuk materi yang langsung dihadiahkannya kepada keluarga ini, Ma juga mengucurkan beasiswa senilai 20 juta dolar AS (setara Rp 270 miliar) ke negeri asal keluarga Morley, Australia, tepatnya ke Universitas Newcastle.

“Saya sangat berterima kasih pada Australia. Budaya, pemandangan dan yang paling penting orangnya, memberi dampak positif pada perspektif saya waktu itu,” kata Ma saat pemberian beasiswa tersebut.

Mendirikan Alibaba

Berbekal kemampuan berbahasa Inggris, pada 1995 Ma menerima tawaran pekerjaan sebagai penerjemah di Seattle, Amerika Serikat (AS). Di sinilah Ma mulai mengenal internet. Kala itu, internet masih dikuasai mesin pencari Yahoo.

Seorang temannya mengatakan pada Ma bahwa semua hal bisa dicari di sana. Ma lalu mencoba mencari “Cina” namun dia tidak menemukan apapun tentang negerinya itu di internet.

Saat memutuskan pulang ke Cina, dia mulai mengutak-atik dunia siber. Cina Pages adalah debutnya membuat layanan berbasis internet di Cina. Meski tak berjalan sesuai harapan, namun Cina Pages adalah dialektika Ma hingga menemukan Alibaba.

Postcomended   Para Guru Besar dan Tokoh Lintas Agama Nyatakan Dukung KPK

Tahun 1999 menandai kelahiran Alibaba. Waktu itu, Ma bersama 18 orang kenalannya berkumpul di Hangzhou untuk membangun situs e-commerce. Pada akhir abad ke-20 tersebut, ketika negara lain seperti Indonesia baru sebatas sibuk memperbincangkan baik buruknya e-commerce, dengan modal 60 ribu dolar AS, Ma mulai merintis Alibaba.com.

Ma yang berwawasan internasional dibanding kebanyakan orang di negerinya, tidak memilih nama kecina-cinaan misalnya, melainkan sesuatu yang sudah dikenal dunia, yakni nama dari kisah 1001 Malam, Alibaba. Nama tokoh cerdik ini menginspirasinya ketika dia sedang minum teh di sebuah kedai di San Francisco.

Menarik bahwa seorang Ma yang berlatar belakang Sastra Inggris dan kemudian menjadi guru bahasa Inggris pula, mendirikan situs internet yang berorientasi bisnis. Dicuplik dari situs resminya, tertulis bahwa motivasi awal diluncurkannya Alibaba.com adalah untuk membantu eksportir, produsen, dan pengusaha kecil Cina melakukan ekspansi secara internasional.

Ma berkeyakinan bahwa Internet akan meningkatkan lapangan kerja dengan memungkinkan perusahaan kecil memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk tumbuh dan bersaing secara lebih efektif di ekonomi domestik dan global.

Ma pun berhasil membuktikannya. Dengan menggarap antara lain pasar grosir dan eceran online, bisnis berbasis cloud computing, media digital dan hiburan, serta inisiatif inovasi, dll, Alibaba kini berkembang menjadi salah satu pemimpin global dalam perdagangan online dan mobile. (***/dari berbagai sumber)