Cinta Lingkungan, Pemuda Indonesia Buat Kresek Dari Singkong | KASKUS Kaskus Cinta Lingkungan, Pemuda Indonesia Buat Kresek Dari Singkong

Cinta Lingkungan, Pemuda Indonesia Buat Kresek Dari Singkong | KASKUS Kaskus Cinta Lingkungan, Pemuda Indonesia Buat Kresek Dari Singkong

Tujuh puluh tahun sejak plastik ditemukan, bahkan sampahnya dari produksi paling awal mungkin belum terurai hingga saat ini. Situs One Green Planet menulis, ketika plastik mulai ngetren pada 1940-1950-an, dia dipuji sebagai jenius manufaktur. Namun sekarang, dia terus tumbuh dan menolak terurai. Tak cukup upaya untuk menekan laju penggunaannya, namun sejumlah manusia tak tinggal diam. Ada yang meneliti ulat pemakan plastik, enzim pengurai botol plastik, hingga kreasi kantong kresek dari singkong; yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (AS), negeri ini menghasilkan 32 juta ton sampah plastik setiap tahun. Hanya sebagian kecil pernah didaur ulang. Sebagian besar, sekitar 8,8 juta ton per tahun, berakhir di lautan. Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia masuk peringkat kedua di dunia sebagai penyampah plastik ke Laut terbesar kedua setelah Cina. KLHK menyebutkan, dilansir situs Tirto, dari 100 toko anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) saja, dalam waktu satu tahun telah menyumbang limbah plastik hingga 10,95 juta lembar; setara 60 kali lapangan sepak bola.

Postcomended   Ini Dia Destinasi di Jabar yang Direkomendasikan Saat Asian Games

Hasilnya, manusia adalah pencipta utama dari “great Pacific garbage patch”, kumpulan sampah plastik berat yang membentang ratusan mil (dan terus bertambah) di lautan Pasifik, yang mengancam lebih dari 800 spesies laut: penyu, ikan, anjing laut, burung, dll.

Beberapa negara, termasuk negara bagian di AS seperti California, telah melarang penggunaan kresek secara meluas. Kenya juga diketahui sebagai negara yang cukup tegas melarang penggunaan kresek; di saat Indonesia gagal bahkan dalam masa percobaannya.

Banyak orang sulit mengubah habit atas kemudahan yang diberikan kresek, dan tampaknya kresek yang harus mengalah pada manusia untuk mengubah karakternya. Salah satunya adalah yang dilakukan Avani, produsen tas yang terbuat dari bahan dasar singkong.

Postcomended   Menjaga Keunikan Leuser

Tas kreasi Kevin Kumala yang usahanya berbasis di Bali, Indonesia, ini, bersifat biodegradable, dapat dibuat kompos, dapat didaur ulang, dan larut dalam air panas, sehingga hampir pasti tidak akan mengganggu biota laut, dapat dimakan kepiting hingga penyu alih-alih mencekik leher mereka.

Larutan cair bahan pembuat tas Avani Eco ini juga aman diminum. Ini Dibuktikan sendiri oleh Kevin dalam video profil perusahaannya. “Negara kami tenggelam dalam lautan sampah plastik,” kata Kevin dalam video tersebut, yang memotivasinya membuat tas Avani.

Padahal, lanjut dia, perlu waktu 200 tahun untuk plastik bisa terurai. Dalam video tersebut diperagakan betapa tas berbahan singkong tersebut sekuat kresek pada umumnya.

Kevin bukan yang pertama. Pada 2014, PT. Intan Aneka Lestari, bahkan sudah mulai memasarkan kresek singkong dengan nama envy plast, setelah sebelumnya dimanfaatkan dalam ajang SEA Games 2011 di Palembang. Envy plast bahkan sudah menyabet dua penghargaan sebagai produk rintisan teknologi pada 2012, dan penghargaan inovasi dari LIPI pada 2013.

Postcomended   Marvel Bakal Bikin Debut Film Superhero Muslim(ah)

Akan tetapi produk kresek singkong ini ada kelemahannya, yakni harganya yang dua kali lebih mahal dari kresek plastik biasa karena biaya produksinya yang juga lebih tinggi.