Internasional

Amnesti Pajak Bikin Kekayaan Riil Para Taipan Terkuak

Majalah Forbes Rilis, Inilah Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia ... LINE Today 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes 2017 (KOMPAS.com). Amnesti pajak memberi kesempatan bagi para taipan dalam negeri untuk mengakui ...

Majalah Forbes Rilis, Inilah Daftar 10 Orang Terkaya di Indonesia … LINE Today 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes 2017 (KOMPAS.com). Amnesti pajak memberi kesempatan bagi para taipan dalam negeri untuk mengakui …

Seusai program amnesti pajak, media ramai-ramai memublikasikan sejumlah taipan yang kekayaannya meningkat pesat. Salah kaprah pun muncul di kalangan masyarakat: amnesti pajak membuat kekayaan para konglomerat tersebut melonjak. 

Padahal lebih tepatnya, amnesti pajak telah membuat jumlah kekayaan riil mereka terkuak, termasuk kekayaan yang boleh jadi selama ini mereka parkir di perusahaan-perusahaan offshore. Kakayaan inilah yang tidak dilaporkan kepada pemerintah demi menghindari pajak. Sebuah wacana muncul ketika lembaga anti-pencucian uang nyaris mem-blacklist Indonesia gara-gara program ini. Apa artinya?

Pada Maret 2017, Gubernur Bank Indonesia (BI) kala itu, Agus Martowardojo, mengungkapkan bahwa gara-gara program amnesti pajak, Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering, dimana Indonesia menjadi anggotanya, sempat akan memasukkan Indonesia dalam daftar hitam (blacklist) negara yang menyimpang dari visi misi FATF‎.

Logika awamnya, amnesti pajak artinya memberi pengampunan pajak kepada, katakanlah konglomerat atau siapapun; bisa jadi juga koruptor, yang selama ini tidak jujur mengungkap besaran kekayaannya, tak lain demi mengindari pajak dan menutupi asal muasal kekayaannya.

Kekayaan yang tak dicatatkan kepada negara ini antara lain disimpan di perusahaan offshore di negara-negara bebas pajak atau berpajak rendah seperti Panama. Ketika negara mengampuni pajak mereka, diharapkan mereka mau membawa pulang uangnya (repatriasi) dengan harapan uang itu bisa memutar roda pembangunan di dalam negeri daripada mengendap di luar negeri.

Tak heran jika FATF sempat akan mem-blacklist Indonesia karena dana-dana yang diparkir WNI di luar negeri tak semuanya dana halal. Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak uang hasil praktik pencucian uang (money laundering), yang antara lain juga berasal dari uang hasil korupsi, juga disimpan di negara-negara bebas pajak atau berpajak rendah tersebut. Menurut Agus, keberhasilan diplomat-diplomat di luar negeri menjelaskan tujuan program amnesti pajak yang membuat FATF batal mem-blacklist.

Sayangnya, program ini berakhir dengan kurang membahagiakan. Ada perbedaan tipis antara sukses, gagal, hingga memprihatinkan di dalamnya. Jika melihat jumlah dana yang berhasil direpatriasi (dibawa pulang dari luar negeri), menunjukkan hasil yang jeblok. Dari target bisa membawa pulang Rp 1.000 triliun, iming-iming pengampunan pajak hanya berhasil menarik Rp 147,1 triliun (14,7%).

Postcomended   Miss Universe 2015 Reuni di Indonesia, Medsos Ikutan Heboh

Kesuksesan hanya diperlihatkan dari deklarasi kekayaan saja yang ditargetkan Rp 4.000 triliun, surplus sebesar Rp 4.700 triliun, dengan rincian Rp 3. 687 triliun dari dalam negeri dan Rp 1. 032 trilun dari luar negeri. Namun ini hanya dana semu. Uangnya entah berada dimana. Faktanya, tak semua wajib pajak mau mengikuti program ini.

Dalam laporan berjudul “Show Me the Money” yang dilansir Sucorinvest, diketahui bahwa sebagian besar konglomerat menyambut baik amnesti pajak, bersedia mendeklarasikan jumlah riil kekayaan mereka, namun tetap memilih memarkirnya di perusahaan offshore di negara-negara bebas pajak. Alasannya, menyimpan aset di luar negeri lebih aman, fleksibel, dengan pajak yang rendah, selain juga untuk “melindungi” informasi finansial mereka.

Memprihatinkan bukan, bahwa ketika negeri ini memiliki potensi kekayaan sebesar itu, namun tak bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak perekonomian bangsa sendiri, terlebih jika diketahui bahwa .  dana tersebut berasal dari hasil kejahatan, semisal korupsi.

Seusai program amnesti pajak digelar, media ramai-ramai memublikasikan daftar orang-orang kaya termasuk para taipan, yang kekayaannya melonjak drastis. Salah satunya seperti dilaporkan majalah Globe Asia dan Forbes. Forbes mengeluarkan daftar wanita terkaya Indonesia dengan kekayaan melonjak. Mereka antara lain Kartini Muljadi dari Tempo Scan Group, Desi Sulistio Hidayat dari Sido Muncul, hingga Tutut Soeharto, serta satu nama baru, Arini Subianto.

Sementara di jajaran pria terkaya, muncul nama-nama lawas mulai Budi dan Michael Hartono dari Djarum, Eka Tjipta Widjaja dari Sinar Mas, dan Susilo Wonodjojo dari Sampoerna. Dilansir BBC Indonesia, jumlah kekayaan para konglomerat ini naik signifikan pada 2017, seusai program amnesti pajak yang digelar 1 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017. Kekayaan mereka jika digabung mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1359,4 triliun.

Arini Subianto mendadak menjadi nama baru di jajaran orang-orang terkaya di Indonesia sejak ayahnya, Benny Subianto, meninggal. Benny adalah pengusaha sukses pendiri PT. Astra Agro Lestrari yang juga memiliki investasi di PT Adaro Energy. Kekayaan yang diwarisi Arini mencapai Rp 11 tiriliun.

Postcomended   Accor Take Off 2018 International Competition "Mobile Hospitality for Global Nomads"

Sementara itu majalah Globe Asia merilis 150 orang terkaya seusai program amnesti pajak. Nama wakil presiden Indonesia, wakil walikota Jakarta, dan pemilik Transcorp, masuk di jajaran orang-orang kaya tersebut. Berikut ini daftar 50 dari 150 orang terkaya Indonesia tersebut:

50. Osbert Lyman: Lyman Group: Property, plantations. Kekayaan: USD 898 juta.
49. Jusuf Kalla dan keluarga: Kalla Group. Kekayaan: USD 899 juta
48. Boenjamin Setiawan & keluarga: Kalbe Farma. Kekayaan: USD 899,3 juta
47. Sandiaga Uno: Saratoga, Recapital: Private equity, investment. USD 900 juta
46. Alexander Tedja & Melinda Tedja: Pakuwon Group. USD 902 juta
45. Benny Subianto/Arini Subianto: Persada Capital Group. USD 905 juta
44. Hashim Djojohadikusumo: Arsari Group. USD 1,030 miliar
43. Tomy Winata: Artha Graha Group. USD 1,1 miliar
42. Luntungan Honoris: Modern Group. USD 1,15 miliar
41. Johan Lensa: J Resources. USD 1,26 miliar
40. Gunawan Jusuf: Sugar Group Companies. USD 1,3 miliar
39. Handojo Santoso: Japfa Comfeed Group. USD 1,52 miliar
38. Sugianto Kusuma (Aguan): Agung Sedayu, Bank Artha Graha. USD 1,53 miliar
37. Martias & Tjiliandra Fangiono: First Resources. USD 1,55 miliar
36. Mu’min Ali Gunawan: Panin Group. USD 1,57 miliar
35. Husein Djojonegoro: ABC, Orang Tua Group. USD 1,61 miliar
34. Teddy Thohir dan Garibaldi Thohir: TNT Group. USD 1,642 miliar
33. Rusdi Kirana: Lion Air Group. USD 1,65 miliar
32. Dato Low Tuck Kwong: Bayan Resources. USD 1,68 miliar
31. Angkosubroto bersaudara: Gunung Sewu Group. USD 1,75 miliar
30. Murdaya Poo dan Siti Hartati Murdaya: Central Cipta Murdaya USD 1,78 miliar
29. Kartini Muljadi dan Handojo S Muljadi: Tempo Scan Group. USD 1,85 miliar
28. Suryadi Darmadi: Duta Palma Nusantara Group. USD 1,88 miliar
27. Jiaravanon bersaudara: Charoen Pokphand Indonesia. USD 1,92 miliar
26. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: Harita Group. USD 1,93 miliar
25. The Nin King: Argo Manunggal Group. USD 1.95 miliar
24. Djoko Susanto: Sumber Alfaria Trijaya. USD 1,985 miliar
23. Aksa Mahmud: Bosowa Corporation. USD 2,1 miliar
22. Ciputra: Ciputra Group. USD 2,2 miliar
21. Jakob Oetama dan Lilik Oetama: Kompas Gramedia Group. USD 2,3 miliar
20. Haryanto Adikoesoemo AKR Corporindo. USD 2,48 miliar
19. Hary Tanoesoedibjo: MNC Group. USD 2,56 miliar
18. Sariaatmadja bersaudara: Elang Mahkota Teknologi. USD 2,72 miliar
17. Edwin Soeryadjaya: Saratoga, Recapital, Plantation BB. USD 3,6 miliar
16. Martua Sitorus: Wilmar International. USD 3,8 miliar
15. Tahir: Mayapada Group. USD 3,85 miliar.
14. Peter Sondakh: Rajawali Group. USD 3,87 miliar
13. Sjamsul Nursalim: Gajah Tunggal Group. USD 3,88 miliar
12. Theodore P Rachmat: Triputra Group, Adaro. USD 3,9 miliar
11. Mochtar Riady: Lippo Group. USD 4,2 miliar
10. Sukanto Tanoto: Royal Golden Eagle. USD 4,8 miliar
9. Eddy William Katuari: Wings Group. USD 4,85 miliar
8. Aburizal Bakrie: Bakrie Group. USD 4,86 miliar
7. Putera Sampoerna: Sampoerna Strategic. USD 4,865 miliar
6. Sri Prakash Lohia: Indorama Group. USD 4,87 miliar
5. Chairul Tanjung: CT Corp. USD 5,7 miliar
4. Susilo Wonowidjojo: Gudang Garam. USD 7,3miliar
3. Eka Tjipta Widjaja: Sinar Mas Group. USD 8,6 miliar
2. Anthoni Salim: Salim Group, First Pacific. USD 10,2 miliar
1. Robert Hartono & Michael Hartono: Djarum Group, BCA. USD 10,5 miliar
(***/dari berbagai sumber)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top