Internasional

Anak-anak di Atas Tujuh Tahun Lebih Mungkin Dirusak Perceraian

Share the knowledge

 

https://www.youtube.com/watch?v=lbTFZ8cvHo4

Anak laki-laki lebih banyak terpengaruh secara emosional ketika orangtuanya bercerai (gambar dari: YouTube)

Perceraian berdampak buruk pada anak-anak, bukanlah isu baru. Namun satu penelitian besar makin mengonfirmasi hal itu, bahwa anak-anak korban perceraian terutama di atas 7 tahun, menderita lebih banyak masalah emosional daripada anak-anak lain; dengan perilaku anak laki-laki yang lebih sangat terpengaruh.

Penelitian terhadap lebih dari 6.000 anak muda berusia 3-14 tahun menemukan bahwa mereka yang orang tuanya berpisah ketika masih duduk  di sekolah dasar atau selama masa remaja awal, menunjukkan peningkatan intensitas masalah emosional rata-rata 16 persen. Anak laki-laki biasanya menunjukkan peningkatan perilaku buruk dan ketidakpatuhan hingga 8 persen.

Para peneliti mengatakan anak-anak di atas usia tujuh tahun lebih mungkin untuk dirusak oleh perceraian daripada yang lebih muda. Terdapat jauh lebih sedikit bukti kesusahan emosional di antara anak-anak berusia antara 3-7 tujuh pada saat perceraian.

Studi ini, yang diterbitkan oleh Institute of Education University College London (UCL), mengonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjuk pada penderitaan anak-anak dalam keluarga bercerai. Studi lain telah menemukan bahwa perceraian terkait dengan kesehatan yang buruk di kalangan remaja dan peningkatan risiko mereka akan beralih ke narkoba, kejahatan, pengangguran, atau kehamilan awal ketika mereka lebih tua.

Laporan baru tersebut muncul ketika reformasi perceraian tanpa kesalahan (no-fault divorce reforms) yang kontroversial direncanakan oleh pemerintah. Rencana ini didasarkan pada gagasan bahwa anak-anak dirugikan ketika orang tua membuat tuduhan hukum atas perzinaan atau perilaku yang tidak masuk akal.

Postcomended   Studi: Otak Monyet yang Suka "Minum" Tumbuh Lambat

Para kritikus mengatakan reformasi akan mengarah pada tingkat perceraian yang lebih tinggi. Rekan penulis studi UCL, Profesor Emla Fitzsimons mengatakan: “Perpecahan keluarga yang terjadi pada masa kanak-kanak akan merusak kesehatan mental remaja.”

“Salah satu alasan yang mungkin adalah bahwa anak-anak lebih sensitif terhadap dinamika hubungan pada usia ini. Perpisahan keluarga mungkin juga lebih mengganggu sekolah dan hubungan teman sebaya pada tahap masa kanak-kanak ini.”

Penelitian ini mencakup kehidupan 6.245 anak-anak yang keluarganya telah ambil bagian dalam Studi Millennium Cohort. Berulang kali memeriksa kehidupan ribuan anak yang lahir antara tahun 2000 dan 2002. Anak-anak yang orangtuanya berpisah sebelum anak laki-laki dan perempuan mencapai usia tiga tahun tidak termasuk dalam studi ini.

Postcomended   Membedah Arti Panel Lipid Anda: Mepereteli Makna Angka-angka Kolesterol (1)

Studi ini menemukan seperlima anak berada pada usia 3-14 ketika orang tua mereka berpisah. Mayoritas melihat ayah mereka meninggalkan rumah, sementara mereka tinggal bersama ibu mereka, yang menjadi orangtua tunggal.

Laporan itu mengatakan: “Di antara anak-anak yang lebih besar, peningkatan masalah emosional tampak jelas untuk anak laki-laki dan perempuan. Tetapi untuk masalah perilaku yang meningkat diamati hanya pada anak laki-laki.

“Anak-anak dari latar belakang yang lebih istimewa memiliki kemungkinan besar memiliki masalah kesehatan mental sebagaimana  rekan-rekan mereka yang kurang beruntung.” Para peneliti mengatakan ibu yang berpisah dari ayah ketika anak-anak mereka lebih tua memiliki lebih banyak masalah kesehatan mental daripada ibu dalam hubungan.

Namun, kesehatan mental para ibu yang putus ketika anak-anak mereka masih muda menunjukkan peningkatan seiring berlalunya waktu. Penulis studi mengakui temuan itu mungkin miring karena anak di bawah tiga tahun tidak dimasukkan. Faktor lain mungkin bahwa anak-anak yang lebih besar sudah mengalami peningkatan gejolak emosi remaja.

Postcomended   22 Mei dalam Sejarah: Copernicus Dimakamkan Kembali Setelah Jasadnya Teridentifikasi pada 2005

Penelitian sebelumnya telah berulang kali menunjukkan bahwa anak-anak cenderung melakukan yang lebih baik jika mereka dibesarkan oleh kedua orang tua kandung mereka.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top