seumber: https://www.immunizationinfo.com/rubella-vaccine-side-effects/

sumber foto ilustrasi imunisasi: immunizationinfo.com

Terlahir dengan jantung bocor, otak kecil, buta, dan tuli, adalah beberapa kondisi yang akan menimpa bayi yang ibunya terpapar virus Rubella saat mengandung. Atas ancaman yang membahayakan kelangsungan generasi penerus ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pernah mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin MR haram pada Agustus lalu, kini bahkan mewajibkannya. Kekebalan kolektif atas Rubella harus dicapai, kecuali ekonomi Indonesia hancur.

Tertanggal 20 Agustus 2018, tanpa mempertimbangkan dengan saksama dampaknya, MUI mengelarkan pernyataan bahwa vaksin MR Haram. Meskipun ada tapinya yakni “jika terpaksa”, pernyataan itu bagai memperkuat kekeraskepalaan sejumlah kalangan yang anti vaksin, vaksin apapun, apalagi jika ditambah embel-embel haram.

Sebelumnya, Ketua IDAI pusat dan Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Piprim Basarah Yanuarso, di akun Twitter-nya, @dr_piprim, menulis: “Mohon doanya dari MUI agar tak lahir bayi-bayi cacat karena Sindrom Rubella kongenital: buta, tuli, jantung bocor, otak kecil. Btw kalo nanti banyak lahir bayi seperti itu siapa yg tanggung jawab biaya pengobatannya ya? Ratusan juta rupiah lho utk satu pasien saja…

Sementara itu, seusai pernyataan MUI, Ketua IDAI Bandar Lampung, Murdoyo Rahmanoe, menyayangkan sikap MUI karena telah memunculkan keraguan masyarakat terhadap vaksin MR justru pada hari H pelaksanaan; bukannya jauh-jauh hari sebelumnya. “Masalah ini diungkit terus sehingga masyarakat menjadi ragu. Tahun lalu di pulau Jawa vaksin ini tidak ada masalah,” kata Murdoyo awal Agustus silam.

Postcomended   Para Guru Besar dan Tokoh Lintas Agama Nyatakan Dukung KPK

Namun kemudian dalam diskusi tentang vaksin MR yang dihadiri Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, di Jakarta, Selasa (18/09/2018), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin, mengatakan bahwa imunisasi MR wajib dan ia menghimbau seluruh kelompok masyarakat yang selama ini masih menolak untuk segera melakukan vaksinasi untuk anaknya.

“MR justru diwajibkan, mengapa? Rubella sangat berbahaya, vaksinnya haram kami bolehkan, imunisasinya wajib,” kata Ma’ruf dalam diskusi tentang vaksin MR yang dihadiri Menteri Kesehatan Nila Moeloek di Jakarta, Selasa (18/09). Intinya, agama Islam tidak menyulitkan. “Kita tidak mau anak-anak kita terlahir cacat,” tambah Ma’aruf.

MUI bahkan menegaskan mereka akan ikut terjun dalam membantu sosialisasi imunisasi MR untuk eliminasi total virus tersebut, yang saking berbahayanya dapat menjadi “beban luar biasa” bagi Indonesia jika mewabah. Kerugian ekonomi akibat wabah ini diperkirakan mencapai Rp 1,09 triliun.

Kekebalan Kolektif

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan, capaian imunisasi MR tahun ini jauh dari target dan hanya mencapai sekitar 49% akibat tingkat penolakan sejumlah masyarakat. “Kalau cakupan kurang dari 95% kemungkinan (yang lain) akan terkena juga,” ujarnya.

Nila menjelaskan, gejala rubella tidak khas. Orang tidak mudah mengetahui seseorang terkena Rubella atau tidak. “Jadi kalau kebetulan (di sekitar orang yang terkena Rubella) ada ibu hamil muda, (bisa terkena juga), dampaknya seperti itu dan bebannya luar biasa,” kata Nila. Indonesia menargetkan pada 2020 sebanyak 20 juta anak sudah menjalani imunisasi MR dengan tujuan untuk kekebalan kolektif.

Postcomended   Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Makan Pisang Setiap Hari?

Pada 2015, terdapat 979 kasus CRS (Congenital Rubella Syndrome) dari 4,89 juta bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengidap Rubella pada awal kehamilan. Sang ibu tertular rubella dari anak-anak yang terjangkit (yang tidak diimunisasi MR); penularan Rrubella bisa melalui udara. Ibu hamil yang tertular Rubella akan mengalami dua “pilihan” yang sama menyedihkannya: mengalami keguguran, atau melahirkan anak cacat.

Halal Haram

Ada dua pandangan mengenai halal dan haramnya MR. MUI menyatakan haram karena dalam pembuatannya vaksin MR buatan Serum Institute of India (SII) ini menggunakan bahan yang berasal dari babi. Namun karena belum ada alternative lain, MUI –yang kini mewajibkan seperti dikatakan Ma’ruf Amin– menyatakan bahwa imunisasi MR hukumnya mubah (karena ada kondisi keterpaksaan/darurat syariah).

Sedangkan pandangan yang menyebut vaksin asal India tersebut tidak haram adalah karena saat diperiksa di laboratorium, unsur babi-nya telah hilang. Pandangan ini menyebutkan bahwa jika najis sudah menjadi abu, maka tidak dikatakan najis lagi. Garam (yang sudah berubah) tidak dikatakan najis lagi walaupun sebelumnya berasal dari keledai, babi atau selainnya yang najis.

Postcomended   Ditolak Bicara di Kampus Unla, Nurul Arifin: Ini Pelecehan Intelektual

Begitu pula dianggap suci jika najis jatuh ke sumur dan berubah jadi tanah. Khamr ketika berubah menjadi cuka baik dengan sendirinya atau dengan proses tertentu dari manusia atau cara lainnya, maka itu juga dikatakan suci. Hal ini semua dikarenakan zat yang tadi ada sudah berubah. Aturan Islam pun menetapkan bahwa sifat najis jika telah hilang, maka sudah dikatakan tidak najis lagi alias sudah suci.(***/dariberbagaisumber)

 

 

Share the knowledge