Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

Ancaman Kebangkitan ISIS Masih Melimpah

Share the knowledge

Kamp pengungsian, kamp tahanan,serta sel-sel tidur ISIS, masih menjadi ancaman besar (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=S6V4e0Mlcis)

Kamp pengungsian, kamp tahanan,serta sel-sel tidur ISIS, masih menjadi ancaman besar (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=S6V4e0Mlcis)

Pada 23 Maret 2019, Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang didukung AS mengumumkan kemenangan atas ISIS (IS). Namun mereka menyebutkan, bahaya masih berlimpah: sel-sel tidur, penjara yang dipenuhi “jihadis”, kamp dipenuhi istri dan anak-anak mereka.

Pertarungan masih jauh dari selesai, kata koalisi SDF dan AS itu. SDF adalah aliansi militer Suriah yang dipimpin etnis Kurdi. Seorang pakar gerakan “jihadis” di European University Institute, Tore Hamming, seperti dilansir AFP, ISIS masih dapat melakukan serangan reguler setiap minggu.

Bahkan setelah kehilangan sisa wilayah terakhir mereka di desa timur Baghuz, para “jihadis” tetap hadir di gurun luas Suriah dan tempat persembunyian lainnya di negara itu. Pekan lalu, militan ISIS masih sanggup menewaskan 35 pejuang yang setia kepada pemerintah Suriah dalam 48 jam, kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Sebelumnya, pada 9 April 2019, ISIS mengklaim pemboman ganda yang menewaskan 13 orang di kota Raqa yang dikuasai SDF. Gedung Putih mengatakan, pihaknya masih akan menjaga 400 tentaranya di Suriah setelah pada Desember sempat mengumumkan akan menarik 2.000 tentaranya.

Kontingen yang semakin berkurang ini, kata Hamming, akan dipaksa berjuang (sendiri) untuk menghadapi ancaman “jihadis” yang masih ada. “IS masih sangat aktif dan akan tetap demikian. Sejumlah kecil pasukan AS tidak akan menyelesaikan itu sepenuhnya,” katanya.

Senada, Nicholas Heras, seorang analis di Center for New American Security, memperingatkan bahwa ISIS masih memegang kendali yang cukup besar atas “jaringan dukungan lokal”. “Sebagian besar strategi ISIS untuk tumbuh kembali adalah memiliki ikatan kuat dengan beberapa suku lokal di Suriah timur dan Irak barat,” katanya, menggunakan akronim alternatif untuk kelompok jihadis.

Postcomended   Migran Honduras, dan Bom untuk Soros, Obama, dan Clinton

Ketika rezim dan pasukan yang didukung AS berusaha untuk memburu sel-sel ISIS yang tertidur dalam pelarian, pihak berwenang Kurdi di Suriah timur laut menghadapi tantangan besar lainnya. Ribuan tersangka pejuang jihad –termasuk ratusan orang (“jihadis”) asing– sekarang ditahan di penjara-penjara yang dikelola orang Kurdi, sementara kerabat mereka merana di kamp-kamp yang penuh sesak untuk para pengungsi.

Jumlah mereka yang besar telah membuat pemerintahan Kurdi yang semi-otonom, yang sekarang ingin mengadili para pelaku jihad itu, sakit kepala besar. “Kami telah menyerukan pembentukan pengadilan internasional untuk mengadili para teroris ini,” kata pejabat tinggi urusan luar negeri, Abdel Karim Omar, kepada AFP.

“Prioritas kami adalah mengadili para penjahat,” katanya. Sejak 2014, para pejuang ISIS telah dituduh melakukan pemenggalan kepala, eksekusi massal, pemerkosaan, penculikan, dan pembersihan etnis. Mereka dituduh merajam sampai mati wanita yang dicurigai berzina, dan memaksa kaum homoseksual keluar dari gedung-gedung tinggi.

Postcomended   Komunitas Mata Uang Kripto Ragukan Uang Virtual Facebook

Pusat Soufan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 12 April 2019 mengatakan, pusat-pusat penahanan ini menjadi tempat berkembang biak bagi radikalisasi. “Ada juga risiko besar dari upaya istirahat penjara yang direkayasa IS,” kata organisasi itu, yang berspesialisasi dalam analisis keamanan.

Hamming mengatakan. “Baik Suriah maupun Irak tidak memiliki sumber daya atau stabilitas politik untuk menangani dengan benar sejumlah besar tahanan ini.”

Otoritas Kurdi Menyeru Bantuan

Otoritas Kurdi menyerukan kepada masyarakat internasional untuk membantu mendirikan dan menjaga fasilitas penahanan (kamp) keamanan tinggi baru, setelah banyak negara Barat menolak untuk mengambil kembali warga negara mereka yang menjadi simpatisan ISIS, termasuk pengantin-pengantin ISIS.

Kamp-kamp yang ada, menurut Omar, telah menampung 12 ribu orang asing (4.000 wanita dan 8.000 anak-anak). Yang terbesar adalah kamp Al-Hol, yang populasinya membengkak menjadi lebih dari 73 ribu orang, dengan kondisi yang terus memburuk.

Komite Penyelamatan Internasional telah melaporkan malnutrisi akut, pneumonia, dan dehidrasi di antara anak-anak di kamp. PBB mengatakan 211 anak di bawah usia lima tahun telah meninggal dalam perjalanan mereka ke Al-Hol atau tak lama setelah kedatangan sejak Desember 2018.

Postcomended   Jajak Pendapat: Tiket Murah Lebih Penting daripada Mikirin Jenis Pesawat yang Jatuh

Pusat Soufan memperingatkan krisis kemanusiaan dapat digunakan sebagai alat rekrutmen. “Pejuang ISIS sedang mencari cara untuk memanfaatkan penderitaan di kamp-kamp ini untuk meremajakan organisasi mereka”, kata Omar. Sementara itu, tambah Omar, jika anak-anak keturunan “jihadis” ini tidak dipulangkan, dididik ulang, dan diintegrasikan kembali ke masyarakat, mereka akan menjadi teroris masa depan.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top