Nama Andi Arief kembali mencuat gara-gara cuitannya di akun Twitter-nya yang menyebut Prabowo Subianto sebagai “Jendral Kardus”. Istilah ini cukup sensitif karena mengait ke masalah politik transaksional senilai Rp 500 miliar. Nama Andi pertama dikenal ketika dia mewakili Tim Katastropik Purba di era Presiden SBY menggaungkan isu bahwa Gunung Sadahurip merupakan piramida. Dia juga diketahui sebagai korban penculikan 1998 yang melibatkan nama Prabowo.

Andi yang kala itu merupakan staf khusus Presiden SBY bidang Bencana dan Bantuan Sosial, begitu ngototnya bahwa Gunung Sadahurip di Garut merupakan piramida yang lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Namun ketika pihaknya sulit membuktikan hal tersebut, diduga isu digeser ke Gunung Padang dan menyebutnya menyimpang ruangan yang berasal dari masa lebih dari 10.000 Sebelum Masehi.

Setelah perut Gunung Padang diobrak-abrik, dan memancing perdebatan panjang dengan kalangan akademisi yang tidak setuju, akhirnya eksplorasi berhenti seiring selesainya masa kerja sang boss sebagai Presiden RI. Nama Andi pun kembali surut, hingga pada Kamis (9/8/2018), dia berhasil menarik perhatian lagi dengan mengeluarkan istilah “Jendral Kardus” yang ditujukan kepada Prabowo.

Postcomended   Indonesia Setuju Serahkan Yacht Terkait Korupsi 1MDB ke Malaysia

Andi yang juga merupakan Wasekjen Partai Demokrat, menjelaskan maksud dari Istilah “Jendral Kardus” terhadap mantan penculiknya itu. “Itu yang membuat saya menyebutnya jendral kardus. Jendral kardus itu jendral yang enggak mau mikir. Uang adalah segalanya,” ucapnya.kepada wartawan, Kamis (9/8/2018).

Andi secara gamblang menuding Prabowo menerima lobi-lobi politik di luar sepengetahuan Partai Demokrat. Karenanya, secara pribadi Andi merasa partainya telah diselingkuhi oleh sang jenderal. Ketika disinggung ihwal adanya aliran dana Rp 500 miliar dari Sandiaga Uno ke PAN dan PKS untuk membuat Sandi dijadikan calon wapres Prabowo, Andi tidak menyangkalnya.

Namun dalam cuitan susulan di Twitter, Andi memastikan partainya tetap mendukung dan bersama Prabowo. Prabowo tentu bukan sosok asing bagi Andi, karena pada 1998 Andi merupakan salah satu korban penculikan yang diduga merupakan besutan Prabowo yang kala itu merupakan Danjen Kopassus. Andi mengaku diculik saat berada di Rumah Susun Kelender, pada 13 Maret 1998.

Postcomended   Ombudsman Bilang Meikarta Langgar UU, CEO Lippo: Meikarta Terobosan yang Perlu Didukung

Di era menjelang kerusuhan 1998, Andi merupakan satu dari 9 aktivis yang diculik Tim Mawar, tim bentukan Kopassus. Kedelapan lainnya adalah Mugiyanto, Desmod J Mahesa, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Raharjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, dan Haryanto Taslam (alm). Mereka kemudian dilepaskan.

Andi diculik anggota Kopassus saat menjadi Ketua Umum Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) –Andi meralat istilah penculikan itu sebagai penangkapan. Menurutnya, penangkapan tersebut bukanlah inisiatif pribadi Prabowo sebagai Danjen Kopassus, karena seorang Danjen Kopassus memiliki atasan yakni Panglima TNI.

Untuk kasus penculikan tersebut, Tim Mawar disidang di Mahkamah Militer dan dinyatakan bersalah. Anehnya, sang bos malah tidak pernah menjalani sidang sekalipun. Prabowo hanya menjalani sidang di Dewan Kehormatan Perwira dan akhirnya diputuskan untuk diberhentikan secara hormat.(***/dariberbagaisumber)

Postcomended   Akibat Seekor Buaya Bunuh Seorang Warga, Matilah Buaya Sekandang

 

 

Share the knowledge