save nusantara: SEPARATISME DI PAPUA save nusantara - blogger600 × 300Search by image SEPARATISME DI PAPUA

save nusantara: SEPARATISME DI PAPUA save nusantara – blogger600 × 300Search by image SEPARATISME DI PAPUA

Anggota dan para pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM), satu demi satu menyatakan bergabung dengan NKRI. Ada indikasi, sejak harga BBM di Papua sama dengan di Jawa, harga semen turun hampir 100%, dan jalan-jalan dibentangkan, anggota organisasi separatisme banyak yang memilih menyerahkan diri. Rakyat Papua misalnya mulai memelesetkan OPM menjadi Orang Papua Membangun.

Kabar terbaru bergabungnya pejabat OPM, datang dari Panglima Tentara Pembebasan Nasional (TPN) OPM wilayah Yapen Timur, Kris Nussy, alias Corinus Sireri, bersama anak buahnya. Mereka menyerahkan diri pada Selasa (15/8/2017),

Kris merasa mereka ditipu OPM. “Kami capek berjuang di hutan tetapi tidak ada yang kami dapatkan,” ujar Kris, seraya mengatakan bahwa 75 anak buahnya sudah menyerahkan diri lebih dulu.

Kris menyatakan itu usai menyerahkan 12 pucuk senjata kepada Kabinda Papua dan Tim Maleo, Kodam XVII Cenderawasih, di bukit Wadafi kampung Mamarimp, Distrik Wadamomi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Kris yang mengaku sudah bergerilya sejak 1997 mengatakan, perjuangannya selama 20 tahun terakhir ini malah menuai kebencian rakyat Papua. Selama itu juga bapak enam anak ini harus berada di hutan dan hanya sesekali bertemu dengan anak istrinya.

Postcomended   Astronom Amatir Bisa saja Temukan Supernova

Rakyat Papua tampaknya memang semakin lelah berkonflik dan menginginkan kondisi damai yang sama dengan wilayah lain. Sejak 2015, rakyat Papua memelesetkan OPM sebagai kependekan dari Orang Papua Membangun.

“Nanti saya akan ikut membantu aparat kampung untuk membangun. Anak saya laki-laki kalau bisa nanti masuk TNI, sekarang dia masih kelas 2 SMP,” ujarnya.

Agar anak buahnya bisa kembali hidup normal dan memiliki pekerjaan, Kris berharap pemerintah memberi mereka motor tempel dan gergaji mesin.

Sebulan sebelumnya, 15 orang militansi TPN OPM pimpinan Goliat Tabuni, menyatakan bergabung dengan NKRI, termasuk penasihat spritual Goliat Tabuni yakni Wanis Tabuni. Bersamaan dengan mereka, 200-an warga Tingginambut yang selama ini mendukung Papua Merdeka, menyatakan ikut NKRI. Deklarasi berlangsung, Sabtu (1/7/2017).

Bupati Puncak Jaya, Henock Ibo, meminta agar peperangan disetop. “Saya hitung-hitung sudah ada 100-an yang menjadi korban baik dari kelompok TNI, Polri, maupun sipil.”

Pada Maret 2017, sebanyak 155 orang simpatisan kelompok bersenjata di Sinak, Kabupaten Puncak, Papua, juga “turun gunung”. Mereka, termasuk salah seorang pimpinannya, Utaringgen Telenggen, mendatangi Markas Koramil Sinak pada 15 Maret pukul 14.30 WIT, didampingi Pendeta Zakarias Tabuni.

Postcomended   Pendiri Tesla dan DeepMind Desak PBB Cegah Pengembangan Robot Pembunuh

Mereka lalu menyampaikan aspirasi agar diberikan honai (rumah khas Papua) yang layak dan sehat. Mereka juga meminta jaminan keamanan dari TNI dan Polri akan ancaman kelompok bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen dan Gombanik Telenggen.

Sebulan kemudian setelah kelompok Telenggen menyerahkan diri, Yusup Aninam, Wakil Komandan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kabupaten Kepulauan Yapen, sambil menyerahkan sepucuk senjata api rakitan dan lima amunisi, juga menyatakan bergabung ke NKRI, tepatnya Mei 2017.

Anggota organisasi-organisasi separatisme Papua, termasuk OPM, terutama yang berjuang di hutan-hutan selama puluhan tahun, tampaknya sudah lelah. Terlebih melihat bahwa sekarang pemerataan mulai diberlakukan di provinsi paling timur ini.

Bupati Puncak, Papua, Willem Wandik, mengungkapkan, warga Papua mulai merasakan harga-harga yang lebih terjangkau dan adanya pembangunan fasilitas yang melancarkan transportasi.

Di Kabupaten Puncak kini terdapat bandara Ilaga. Harga BBM di Puncak dan daerah pergunungan yang dulunya Rp 50 ribu/liter (kalau sedang langka menjadi Rp 100 ribu/liter), sekarang sama dengan di Pulau Jawa, Rp 6.450 per liter dan solar Rp 5.150 per liter.

Postcomended   Puluhan Remaja Kendari Terkapar, BNN: Ini Bukan Narkotika atau Flakka

Harga semen yang biasanya bisa sampai Rp 2.500.000/sak, kini menjadi Rp 1.050.000/sak. Kondisi ini otomatis akan berdampak pada penurunan harga kebutuhan pokok.

Selain itu, jalan Trans Papua yang dulu tidak beres-beres, 2017 ini mulai terbentang mulus, khususnya Trans Papua Barat. Dari total panjang 1.070,62 km yang ditargetkan akan terbuka seluruhnya pada 2017, pemerintah sudah merampungkan sepanjang 1.058,76 kilometer. .***(ra)