Internasional

Anjing, Ancaman Terbesar Spesies Terancam Punah di Alam Liar

Share the knowledge

 

Anjing peliharaan yang dibiarkan liar berburu kangguru. Peneliti melibat bahaya ketika anjing peliharaan manusia menjadi liar dan menjadi predator bagi spesies hewan liar (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=lBY0NziL6M8)

Anjing peliharaan yang dibiarkan liar berburu kangguru. Peneliti melibat bahaya ketika anjing peliharaan manusia menjadi liar dan menjadi predator bagi spesies hewan liar (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=lBY0NziL6M8)

Anjing dikenal sebagai “teman terbaik” manusia. Namun para ilmuwan mengatakan mereka juga jenis hewan yang telah berkontribusi pada kepunahan hampir selusin spesies burung dan binatang liar, termasuk yang terancam punah.

Artinya, mereka telah menjadi predator terburuk ketiga yang diperkenalkan manusia setelah kucing dan tikus. Sekarang anjing bahkan dikatakan mengancam hampir 200 spesies di seluruh dunia, beberapa di antaranya sangat terancam punah, studi menunjukkan.

Namun anjing dan anjing-anjing liar, kata para ahli konservasi, sangat sedikit mendaparkan perhatian.
Dalam sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan pada anjing di Chili, para penulis mengatakan: “Konservasionis di Chili dan di tempat lain melihat urgensi dalam mengendalikan dampak anjing terhadap satwa liar.”

Ditemukan bahwa pemilik anjing tidak peduli dengan masalah ini dan banyak yang membiarkan anjing mereka hidup liar. “Pemangsaan dan penganiayaan oleh anjing telah didokumentasikan untuk sebagian besar mamalia darat yang lebih besar yang menghuni Chili, termasuk tiga spesies canid sendiri (mamalia dari keluarga anjing) dan tiga spesies rusa,” Eduardo Silva-Rodriguez, salah satu penulis studi tersebut, kepada BBC.

Satu miliar anjing
Diperkirakan ada satu miliar anjing peliharaan di seluruh dunia baik yang dibiarkan hidup menggelandang (liar) maupun yang sepenuhnya tergantung pada manusia. Tidak ada angka pasti untuk anjing liar dan anjing peliharaan yang menggelandang, tetapi ahli konservasi mengatakan jumlah mereka pasti meningkat.

“Ini masalah serius,” Piero Genovesi, kepala unit spesialis spesies invasif di badan konservasi IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources ) mengatakan kepada BBC. “Ketika populasi manusia meningkat, jumlah anjing akan bertambah, dan masalah ini bisa menjadi lebih buruk.”

Postcomended   26 September dalam Sejarah: Demonstrasi Jantung Buatan Pertama, Dilakukan pada Anjing

Ancam Hewan Langka

Dari sekitar 200 spesies yang dikatakan terancam oleh anjing yang hidup liar, 30 di antaranya digolongkan sebagai hewan yang terancam punah, 71 terancam punah, dan 87 rentan dalam Daftar Merah Spesies IUCN yang berisiko tinggi.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Konservasi Biologis, hampir setengah dari spesies ini adalah mamalia, 78 di antaranya adalah burung, 22 reptil, dan tiga amfibi. Wilayah yang paling terkena dampak adalah Asia, Amerika Tengah dan Selatan, serta Karibia dan sebagian Oceania.

Para ahli mengatakan, anjing-anjing terlantar dan yang diizinkan berkeliaran bebas, telah memengaruhi satwa liar dalam lima cara umum. Mereka menjadi predator dan membunuh hewan liar, mengganggu ekosistem, menularkan penyakit ke satwa liar, menjadi pesaing dalam mendapatkan mangsa, dan juga kawin campur dengan spesies yang terkait erat.

“Melalui perangkap kamera kami, kami telah menemukan bahwa anjing memasuki gua tempat lynx (kucing liar yang terancam punah) mengambil hewan mangsa milik lynx, dan kami memiliki rekaman yang menunjukkan anjing memakan bangkai,” kata Izabela Wierzbowska, seorang ilmuwan di Universitas Jagiellonian di Polandia.

“Kami juga telah memperhatikan bahwa lynx menjadi sangat terganggu ketika mengetahui bahwa ada predator lain di gua yang memakan mangsanya.” Penelitian telah menunjukkan bahwa anjing berkontribusi pada kepunahan setidaknya delapan spesies burung, termasuk puyuh Selandia Baru.

Postcomended   24 April dalam Sejarah: Snuppy, Anjing Kloning Pertama Dilahirkan di Korsel

Bukti Anjing Bunuh Spesies Terancam Punah

Gambar anjing liar yang memburu dan membunuh spesies yang terancam punah di berbagai belahan dunia juga muncul di media sosial. Di antara yang paling mencolok adalah macan tutul salju yang diburu oleh tiga anjing liar di Tibet dan seekor beruang kutub yang dikepung tiga anjing yang hidup bebas.

Di Chili, hampir 70% pudu, rusa terkecil di dunia, yang dibawa ke pusat rehabilitasi, diserang oleh anjing, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Oryx. Sebuah penelitian di lebih dari 30 taman nasional Brasil menemukan bahwa 37 spesies asli dipengaruhi oleh keberadaan anjing peliharaan.

Di negara bagian Rajasthan India, kurang dari 100 bustard besar India, spesies yang terancam punah, terancam oleh anjing. “Masalah ini telah terjadi dan berkembang di wilayah Himalaya India selama lebih dari 10 tahun sekarang,” kata Abi Vanak, pakar spesies invasif, yang telah menulis sejumlah laporan tentang masalah ini. Dia sekarang mempelajari seberapa jauh anjing masuk ke cagar harimau di India.

Anjing dan penyakit
Beberapa ahli mengatakan bahwa satwa liar di banyak bagian dunia telah terkena transfer penyakit dari anjing, dan ini adalah masalah yang jauh lebih signifikan.

Arnulf Koehncke, direktur konservasi spesies WWF Jerman mengatakan, perburuan langsung oleh anjing tidak lebih mengancam dibanding penyebaran penyakit dari anjing ke hewan liar, terutama rabies dan virus anjing. “Telah terjadi wabah penyakit ini berulang-ulang di antara serigala Ethiopia yang terancam punah, misalnya, serta rabies di India dan Nepal.”

Di Eropa, para ahli menghadapi tantangan berbeda. Mereka khawatir anjing liar dan bebas mulai kawin dengan serigala. “Itu menimbulkan ancaman bagi serigala,” kata Moritz Klose, dari WWF. Jika ini terus tumbuh, kata dia, kita akan kehilangan kemurnian gen serigala.

Postcomended   Riset: Tidur Cukup dan Berkualitas Ternyata Tak Cukup

Namun solusi dengan memberantas mereka masih kontroversial dan bahkan dilarang di beberapa negara. “Kampanye pembunuhan untuk mengurangi atau menghilangkan populasi anjing tidak hanya tidak manusiawi tetapi juga tidak efektif, menciptakan kekosongan populasi yang dengan cepat diisi oleh masuknya anjing baru dari area lain,” kata Kelly O’Meara, Wakil Presiden Hewan Pendamping di Humane Society International.

“Kunci untuk mengatasi konflik dengan cara yang efektif dan berkelanjutan adalah secara bertahap mengurangi populasi anjing melalui program manajemen anjing yang manusiawi, yang melibatkan pemandulan dan sterilisasi anjing untuk mengekang jumlah keseluruhan, dan kemudian vaksinasi massal untuk memastikan populasi sehat dan bebas penyakit.”

Konservasionis mengatakan bahwa meskipun beberapa penelitian telah menunjukkan masalah yang ada, belum ada proposal komprehensif yang memuat upaya mencari solusi dari masalah terebut.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top