Makan Daging Anjing – kisah pekerja lepas kisah pekerja lepas IMG-20140531-WA0017 Sekalipun daging anjing tersebut sudah dibakar dengan maha dahsyat seperti foto ...

Makan Daging Anjing – kisah pekerja lepas kisah pekerja lepas IMG-20140531-WA0017 Sekalipun daging anjing tersebut sudah dibakar dengan maha dahsyat seperti foto …

Pertama-tama mari kita sepakat, jika dipandang dari sudut pandang kuliner, keduanya sama-sama makanan berbentuk daging. Sementara definisi daging menurut KBBI adalah gumpalan (berkas) lembut yang terdiri dari urat-urat pada tubuh manusia atau binatang (di antara kulit dan tulang). Yang artinya, semua mahluk berdarah memiliki daging temasuk manusia. Tapi kenapa  hanya jenis-jenis daging tertentu yang boleh dimakan? Kenapa sapi boleh dan anjing tidak?

Kamu bisa Jawab sederhana, daging anjing haram menurut agama. Bukan saja islam yang menabukan anjing untuk dimakan, beberapa agama lain juga ada yang memiliki anggapan serupa namun dari sudut pandang berbeda. Anjing dianggap sebagai teman sejati manusia, sehingga tabu untuk dimakan. Namun jika kita tarik jauh ke belakang, ada sejarah panjang mengapa daging anjing tidak pantas untuk dimakan.

Anjing dan sapi masuk dalam dua golongan berbeda, anjing sebagai hewan domestik peliharaan yang identik sebagai hewan sahabat manusia. Sehingga tidak etis memang memakan teman sendiri. Sedangkan sapi sebagai hewan ternak yang tidak lain bertujuan untuk memuaskan hasrat perut manusia.

Kampanye anti daging anjing yang ramai beberapa waktu lalu sebenarnya menunjukan keberpihakan yang kuat kepada anjing oleh manusia sebagai mahluk yang paling bertanggung jawab dalam domestikasi serigala menjadi anjing.

Meskipun banyak yang mengklaim daging anjing adalah sumber protein yang baik untuk manusia, namun dilihat dari sejarahnya tujuan didomestikasi serigala menjadi anjing bukan untuk dimakan, melainkan sebagai pembantu. Serigala memiliki insting dan kemampuan yang sangat baik dalam berburu. Manusia memanfaatkan hewan ini untuk ikut berburu, menggembala, hingga menarik beban.

Proses domestikasi sendiri dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah penjinakan yang hanya melibatkan individu hewan, dan yang kedua adalah domestikasi yang melibatkan populasi, yang umum kita kenal dengan istilah ternak. Proses ini yang terjadi pada sapi, kambing dan hewan-hewan ternak lainnya yang kita kenal sekarang.

Postcomended   Kasus Perkosaan dan Pembunuhan Asifa Bano: Jurnalis dan Aktivis India Geram

Domestikasi sapi dilakukan untuk mempermudah aktivitas manusia dalam mencari makan kala itu. Setelah peradaban terbentuk, manusia mulai mengurangi aktivitas berburu, dan mulai melakukan inovasi dengan beternak hewan yang mereka buru. Setelah mengenal sistem perdagangan, ternak-ternak tersebut kemudian menjadi salah satu komoditi yang diperdagangkan.

Dengan kemampuan akal pikirannya, manusia memosisikan diri sebagai mahluk yang paling punya otoritas untuk menentukan segalanya yang berjalan di bumi. Kita menentukan mana hewan yang harus bekerja dan mana yang akan dimakan.

Sejak nenek moyang kita, mereka sudah menentukan mana daging yang layak untuk dikonsumsi dan diterima tubuh manusia dan mana yang tidak. Setidaknya kita bisa berterima kasih kepada mereka karena tidak salah menentukan pilihan. Daging Sapi dan sejenisnya mampu meningkatkan metabolisme tubuh manusia. Sedangkan anjing, didomestikasi hanya karena instingnya dan kini menjadi hewan sahabat manusia.

Namun tidak semua punya prinsip “tidak makan teman”, beberapa negara di Asia sangat familiar dengan daging anjing. China misalnya, mereka punya Dog Meat Festival yang digelar tiap tahunnya. Baru-baru ini bahkan Kim Jong Un, Presiden Korea Utara meminta warganya untuk mengonsumsi daging anjing. Di dalam negeri sendiri, suku Batak terkenal gemar mengonsumsi daging anjing, lapo-lapo menjamur bak restoran Padang.

Postcomended   Bangkrut, Devisa Melemah, Perekonomian Memburuk Karena Teroris

Selain anggapan tabu dan haram, alasan lain untuk tidak mengonsumsi daging anjing yang paling sering muncul adalah soal kesehatan. Anjing membawa virus rabies, tetanus, dll. Meski benar, Hemat saya anggapan-anggapan tersebut hanyalah jargon bisnis peternakan demi menjamin bisnis daging sapi tetap laris manis di pasaran.

Tidak percaya? Datanglah ke Papua, niscaya kamu akan menemukan daging anjing dan daging babi dijual bebas di pasar dengan harga yang bersaing dengan daging sapi. Mereka tidak begitu peduli soal anjuran kesehatan. Di sana, fluktuasi harga daging sapi tidak begitu menarik perhatian. Apalagi saat hari besar atau acara-acara tertentu, daging babi dan anjing laris manis bak kacang goreng.

Kalau kamu menganggap daging anjing membawa penyakit berbahaya, bagaimana dengan penyakit anthrax atau sapi gila yang bersifat zoonosis (bisa ditularkan ke manusia). Pikir lagi. Kampanye anjing bukan makanan hanya menitik beratkan pada posisi anjing sebagai hewan sahabat manusia. Itu saja. Masalah penyakit hanyalah bumbu pelengkap.

Sampai di sini, saya yakin saya sudah mulai dibenci oleh para pecinta anjing yang membaca tulisan ini. Saya terima. Tapi cobalah baca tulisan ini hingga selesai, saya yakin kalian akan bisa melihat melalui sisi yang lain. Oke, lanjut.

Untuk melarang orang mengonsumsi daging anjing berarti harus melarang konsumsi daging secara keseluruhan. Jika tidak, ini hanya akan membenturkan antara idealisme kelompok kecil pecinta hewan dengan budaya suku-suku di Indonesia yang sejak Indonesia belum terbentuk sudah mengonsumsi daging anjing. Landasan agama juga tidak bisa digunakan, mengingat Indonesia adalah negara majemuk (kalau tidak mau disebut sekuler).

Postcomended   Bak Spiderwoman, Aries Kalahkan Kecepatan Pemanjat-tebing Rusia

Pada akhirnya, Ini bukan soal mana yang boleh atau tidak boleh kita makan, tapi lebih kepada mana yang pantas untuk dimakan dan mana yang kita anggap tidak pantas untuk dimakan. Jika kita menganggap anjing atau daging-daging lainnya tidak pantas untuk kita makan, ya jangan dimakan. Tapi kita juga tidak bisa menghakimi orang lain atas selera makannya. Semua kembali kepada etika manusia sebagai mahluk berakal.

Kebijaksanaan bukannya hanya urusan otak, tapi juga harus jadi urusan perut. Memakan hewan yang sudah ratusan tahun menjadi teman manusia, sungguh bukanlah perkara yang bijak dan beretika. Namun sebagai manusia, urusan perut kadang sulit untuk diajak kompromi. Iya, kan?

Share the knowledge