Seminggu Jelang Sea Games, Polisi Malaysia Tangkap 400 Orang ... Berita Dunia645 × 410Search by image Kuala Lumpur ...

Seminggu Jelang Sea Games, Polisi Malaysia Tangkap 400 Orang … Berita Dunia645 × 410Search by image Kuala Lumpur …

Malaysia melancarkan operasi kontra terorisme, Senin (7/8/2017). Lebih dari 400 orang ditahan, termasuk sejumlah warga Indonesia. Operasi ini dilakukan untuk mengincar orang-orang yang diduga terkait ISIS. Jarang-jarang negeri jiran ini melakukan operasi semacam ini. Seorang mantan anggota Jamaah Islamiyah menyebutkan, Malaysia menerapkan pengamanan ketat atas negerinya sehingga belum pernah misalnya bom meledak sekalipun di sana.

Mengutip dari Free Malaysia Today, BBC melaporkan, sejumlah pejabat Pemerintah Malaysia mengatakan bahwa mereka yang ditahan dalam serangkaian operasi di Kuala Lumpur, terutama adalah orang-orang yang berasal dari Bangladesh, India, dan Pakistan.

Pejabat kepolisian Malaysia dari divisi kontra terorisme, Ayob Khan Mydin Pitchay, seperti dilansir BBC Indonesia, mengatakan, di antara ratusan orang tersebut ada pula warga Indonesia.

Dalam operasi tersebut, aparat juga menyita sejumlah mesin untuk membuat paspor palsu dan dokumen keimigrasian Malaysia.

Malaysia memperketat pengamanan dalam rangka menghadapi South East Asia (SEA) Games seminggu ke depan ini. Pada aksi penggerebekan tersebut, terlihat polisi mendobrak pintu dan menggiring sejumlah orang yang diborgol ke dalam bus.

Postcomended   Baju Ujung Serong di Pertemuan Bilateral Indonesia-Swedia

“Kami akan mendeteksi dan mengambil tindakan terhadap orang asing yang dicurigai memiliki hubungan dengan teroris, terutama mereka yang terlibat dalam kegiatan di Suriah,” kata Pitchay.

Sementara iti, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan, “KBRI tidak menerima notifikasi adanya WNI terlibat kasus terorisme di Malaysia.”

“Kalaupun ada WNI yang tertangkap kemungkinan karena pelanggaran keimigrasian,” ujar Lalu.

Malaysia Serius dengan Terapkan Siaga Satu

Selain dengan alasan menjelang SEA Games 19-30 Agustus 2017 mendatang, sejak ISIS mengalami kekalahan bertubi-tubi di Mosul, Irak, dan di Raqqa, Suriah, Malaysia segera menerapkan Siaga Satu. Penjagaan di semua pintu masuk, terutama di pesisir Sabah, ditingkatkan.

Malaysia menanggapi serius adanya isu petempur ISIS yang kabur ke Asia Tenggara. Terlebih sebelumnya juga telah muncul video-video berisi ancaman yang menyebutkan akan mengacaukan Malaysia dan Indonesia jika menghalangi rencana mereka membentuk khilafah.

Postcomended   Hadapi Ancaman Teroris, Polisi Dibekali Tenaga Dalam

Indonesia yang sudah kenyang dikerjai teroris, termasuk oleh dua teroris asal Malaysia, Azahari dan Noordin M.Top, menanggapi dengan lebih tenang. Sedangkan Malaysia bahkan telah menerapkan Siaga Satu.

Kecemasan Malaysia tercermin dari pernyataan Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammuddin Hussein, pada 10 Juli 2017, yang mengatakan bahwa ada laporan intelijen yang mengindikasikan bahwa militan ISIS yang kabur dari Timur Tengah berniat memindahkan basis operasi mereka ke Asia Tenggara.

Salah satu video ancaman kepada Indonesia dan Malaysia misalnya muncul tahun lalu. Seorang pria di video itu menyatakan bahwa ISIS akan berperang melawan Indonesia dan Malaysia.

“Ketahuilah, kami bukan lagi warga negara kamu (Malaysia dan Indonesia), dan kami sudah dibebaskan,” ujar pria itu. Dia juga sesumbar, “Dengan izin Dia dan kehadiran-Nya, kami akan mendatangimu dengan kekuatan militer yang tidak dapat diatasi. Ini adalah janji Allah kepada kami.”

Bungkam Terorisme dengan ISA

Ihwal penjagaan ketat Malaysia terhadap aksi terorisme pernah diungkapkan mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Nasir Abas. Hal itu dikatakan Nasir menanggapi pertanyaan mengapa aksi terorisme marak di Indonesia daripada Malaysia.

Postcomended   Merasa Tertipu, Perempuan Simpatisan ISIS Ingin Pulang

Malaysia memang memiliki seperangkat alat untuk membungkam jaringan terorisme. Negeri itu memiliki Internal Security Act (ISA) atau Undang-undang Keamanan Dalam Negeri. Dengan aturan ini, seorang tersangka teroris bisa ditangkap tanpa surat penahanan dan tanpa disidang.

Bukti penahanan tak perlu kuat, cukup bersumber dari data intelijen. Meskipun ISA sering disalahgunakan penguasa, misalnya oleh mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad saat membungkam Anwar Ibrahim, namun ISA terbukti efektif memberantas terorisme. Hal yang sepertinya sulit diadopsi Indonesia yang sangat demokratis. .***(ra)