Injakbalik: KAPITALISME : PENYEBAB KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN ! Injakbalik KAPITALISME : PENYEBAB KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN !

Injakbalik: KAPITALISME : PENYEBAB KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN ! Injakbalik KAPITALISME : PENYEBAB KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN !

Berbagai lembaga internasional telah mendefinisikan beragam kategorisasi kemiskinan di negara maju dan negara berkembang. Pengkategorian antara negara maju dan negara berkembang itu melahirkan apa yang disebut sebagai kesenjangan global. Beberapa negara tumbuh lebih cepat dan hidup lebih sejahtera dibanding negara lainnya yang cenderung lebih lambat, rakyatnya hidup dalam penderitaan kemiskinan dan perang yang tak berkesudahan.

Dari masalah besar itu, kemudian tokoh-tokoh dunia yang umumnya dari negara berkembang, memandang bahwa masalah kemiskinan dan kesenjangan global berpusat pada satu masalah, yaitu kapitalisme. Kapitalisme dituding sebagai penyebab negara maju untuk menguasai sumber-sumber daya yang belimpah yang dimiliki oleh negara berkembang, bahkan beberapa tokoh mengatakan kalau kapitalisme adalah penyebab utama dari penjajahan atau imperialisme.

Pasca-Perang Dunia II, kesenjangan antar-negara berkembang dengan negara maju semakin terasa. Ada negara-negara yang rakyatnya hidup dalam kesengsaraan berkepanjangan, harapan hidup rendah, pendidikan rendah, diskriminasi gender, hingga pemerintahan yang otoriter.

Sementara di berbagai belahan dunia lain, ada negara yang makmur, rakyatnya memiliki daya beli yang baik, angka harapan hidupnya tinggi, pendidikan tinggi, dan tidak ada diskriminasi gender dan umunmya mereka adalah negeri yang demokratis.

Upah Buruh & Jerat Kemiskinan - Koran Perdjoeangan Koran Perdjoeangan 12105911_418632385000529_8289539699625744014_n

Upah Buruh & Jerat Kemiskinan – Koran Perdjoeangan Koran Perdjoeangan 12105911_418632385000529_8289539699625744014_n

Dari sini kemudian organisasi-organisasi interasional mulai mendefinisikan dan mengindikasikan sebuah negara dapat dikatakan maju atau berkembang, apakah rakyat negara itu sejahtera atau tidak. Organisasi seperti Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan sampai harus turun tangan langsung untuk menanggulangi kemiskinan di negara-ngara berkembang.

Tetapi, para ekonom dan pemikir pro-kapitalisme, justru mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh oraganisasi-organisasi internasional itu adalah kesalahan, karena di beberapa negara berkembang, masih ada orang-orang kaya.

Selain itu, kategorisasi kemiskinan global justru akan menjadikan gap antara negara miskin dan sejahtera semakin jauh, padahal untuk mengukur kesejahteraan tidak bisa secara kolektif tetapi harus secara individu. Oleh karena itu lahirlah berbagai penelitian dari para pemikir dan ekonom kapitalis, bahwa kesetaraan global hampir atau bahkan sudah tercapai.

Postcomended   Pemerintah Memberi Anggaran, Urus Sertifikasi Halal Bakal Murah

Kapitalisme, Membawa Kesenjangan?

Kapitalisme lahir tidak serta merta tiba-tiba, ia lahir dari proses perkembangan pemikiran tentang pembebasan; pembebasan dari feodalisme, pembebasan dari teokratisme, dan pembebasan dari monarkisme, dan semua terbingkai dalam satu pemikiran, liberalisme. Tetapi, liberalisme awal muncul hanya sebagai lawan dari sistem politik lama, mendobrak struktur sosial yang tradisional, dan membaharui konsep tentang negara, sehingga liberalisme lebih menekankan pada aspek politik dan sosial saja.

KEMISKINAN | sieg heil sieg heil - WordPress.com Kemiskinan hadir karena banyak faktor penyebab, yakni diantaranya: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, ...

KEMISKINAN | sieg heil sieg heil – WordPress.com Kemiskinan hadir karena banyak faktor penyebab, yakni diantaranya: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, …

Seiring perkembangan, liberalisme yang meruntuhkan nilai-nilai lama itu masuk ke dalam sistem ekonomi. Liberalisme menolak feodalisme yang mendasarkan ekonomi pada kekuasaan atas tanah yang lazimnya juga diintervensi oleh negara. Karena itulah liberalisme menginginkan setiap individu memiliki hak untuk berusaha tanpa intervensi dari negara, dan menyerahkan kegiatan ekonomi sepenuhnya kepada pasar. Dari sinilah kapitalisme lahir, dari rahim liberalisme.[1]

Lalu apa itu kapitalisme? Soekarno dalam Indonesia Menggugat, yang ditulisnya dari dalam penjara ketika di Sukamiskin, Bandung, karena dituduh sebagai pemberontak oleh kolonial Belanda, menjelaskan kapitalisme sebagai berikut:

“Kapitalisme adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Kapitalisme timbul dari ini cara produksi, yang oleh karenanya, menjadi sebab nilai lebih tidak jatuh kepada tangan kaum buruh melainkan jatuh ke dalam tangan kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital, dan indurtielle reserve-armee. Kapitalisme mempunyau arah kepada verelendung.” [2]

Menurut perspektif Soekarno yang dituangkan dalam Indonesia Menggugat itu, kapitalisme pada dasarnya bertujuan untuk verelendung (memiskinkan kaum buruh), dengan cara memisahkan mereka (buruh) dari alat produksi, sehingga keuntungan atau surplus dari hasil produksi tidak jatuh kepada kaum buruh. Begitupun juga kapital atau modal produksi akan terus-menerus terakumulasi, tersentralisasi hanya kepada kaum pemodal, sehingga menciptakan apa yang Soekarno sebut sebagai industrielle reserve-armee (tentara kaum penganggur).

Postcomended   Mengherankan, Ducati Lebih Sayang Dovizioso Ketimbang Lorenzo

Dalam sistem kapitalis, hak milik atas alat-alat produksi, seperti lahan, pabrik, mesin, dan sumber daya ada di tangan perseorangan atau korporasi swasta, bukan di tangan negara. Akhirnya kapitalisme tidak dapat menghindarkan diri dari adanya monopoli kekuasaan dalam ekonomi, yang nyatanya lebih berbahaya dari kekuasaan diktator politik.

Tetapi menurut Ebenstein, kapitalisme memilih adanya penguasaan alat produksi oleh perseorangan karena atas dasar dua pertimbangan, yaitu:

Pertama, menurut para kapitalis, kalau kekuasaan atas alat produksi ini dikuasai oleh perorangan, maka semua orang akan memiliki kesempatan yang sama untuk berkuasa, dan upaya ini dilakukan untuk menghindari kekuasaan negara yang absolut. Kedua, kapitalis beranggapan bahwa kemajuan teknologi akan lebih mudah dicapai apabila setiap orang mengurus kepentingannya sendiri (individualis) dan setiap individu akan memiliki dorongan untuk bersaing dan akan membantu perkembangan teknologi.[3]

Dalam praktiknya untuk menghindari kekuasaan negara yang absolut atau adanya kekuasaan tradisional yang feodal, maka kapitalisme menawarkan konsep pasar bebas. Dengan konsep ini maka setiap individu memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha dan setiap individu juga mulai mengenal adanya pembagian kerja yang jelas sehingga setiap individu bisa memaksimalkan kemampuan terbaiknya, yang sebelum masa kapitalis, pembagian kerja tidak ada atau mungkin tidak jelas.[4]

Penentuan harga dalam pasar juga diharuskan netral, tidak ada campur tangan negara ataupun perintah-perintah personal dari pemilik tanah (feodal), tetapi harga di pasar semuanya ditentukan oleh prinsip dasar ekonomi, yaitu penawaran dan permintaan. Dengan begitu, kekuasaan politik negara tidak akan disalahgunakan.

Tetapi, nampaknya diakui atau tidak,  seperti yang telah dikatakan sebelumnya, kapitalisme ternyata melakukan blunder, dengan bebasnya setiap orang untuk melakukan usaha apapun, maka setiap orang memiliki hak yang sama untuk menguasai sektor ekonomi yang digelutinya, oleh karena itulah kemudian kapitalisme identik dengan monopoli ekonomi oleh perseorangan atau korporasi swasta.

Postcomended   Inilah Calon Penumpang Berbayar Pertama SpaceX untuk Keliling Bulan

Kapitalisme dan Kehadiran Negara Inti-Pinggiran

Dengan adanya persebaran modal dari negara kapitalis ke negara-negara Dunia Ketiga yang kurang atau belum maju, kemudian muncul dikotomi apa yang disebut sebagai negara inti dan negara pinggiran.

Menurut ahli sosiologi politik, Anthony M. Orum, apa yang disebut negara inti dan negara pinggiran adalah, negara inti umumnya berisi negara-negara yang sudah mapan kehidupan ekonominya, pendidikannya merata, kesejahteraan yang merata, dan indeks pertumbuhan demokrasinya maju, misalkan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan sebagainya. Sementara negara pinggiran adalah kebalikan dari negara inti, ekonominya jauh dari mapan atau sedang berkembang, pendidikan masih rendah, kesejahteraan belum merata, dan umumnya tidak demokratis dalam politik, misalkan negara-negara Dunia Ketiga.[5]

Dikotomi negara inti dan pinggiran tersebut kemudian melahirkan kesenjangan antar-negara. Negara inti yang lebih maju di segala bidang umumnya justru tidak memiliki sumber daya alam atau bahan mentah untuk industri dan pasar mereka, sehingga negara inti melakukan ekspansi modal ke negara-negara pinggiran untuk mengeruk sumber daya alamnya. Negara pinggiran umumnya masih memiliki cadangan sumber daya yang masih sangat banyak dan berlimpah, karena belum adanya eksploitasi dari industri modern.

Singkatnya, negara inti menggunakan segala kemajuannya untuk menginvestasikan modal-modal mereka ke negara-negara pinggiran yang masih memiliki potensi sumber daya alam melimpah dan rakyatnya belum terjamah pendidikan masih sangat bodoh dan mudah diadu domba dan dikuasai kemudian.

Share the knowledge