Lifestyle

Aplikasi Buatan Polisi Jepang Diunduh Ramai-ramai oleh Para Wanita

Share the knowledge

Sering terperangkap dalam transportasi umum yang dipadati laki-laki? Wanita Jepang kini punya solusi dengan mengunduh aplikasi "Digi Police" dengan fitur "repel groper" (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=twxuDoXmcpc)

Sering terperangkap dalam transportasi umum yang dipadati laki-laki? Wanita Jepang kini punya solusi dengan mengunduh aplikasi “Digi Police” dengan fitur “repel groper” (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=twxuDoXmcpc)

Satu aplikasi ponsel pintar yang dikembangkan oleh polisi Jepang, telah diunduh secara luas oleh para wanita yang berusaha melindungi diri mereka sendiri dari diraba-raba di kereta api pada jam sibuk.

Aplikasi bernama “Digi Police” ini sebenarnya telah dikeluarkan polisi Tokyo tiga tahun lalu, tetapi beberapa bulan lalu ada fungsi baru yang ditambahkan ke dalamnya, yakni aplikasi untuk menakuti para penganiaya perempuan di tempat padat dan sibuk, seperti di kereta api.

Sejak itu, aplikasi tersebut dilaporkan telah diunduh ratusan ribu kali, sesuatu yang tidak biasa untuk aplikasi seluler yang dikembangkan oleh pemerintah, laman AP News melaporkan.

Postcomended   Tunda Penerapan Tarif Mobil Impor Enam Bulan, AS Tak Segagah Kelihatannya

Wanita di kereta yang penuh sesak dan tempat-tempat umum lainnya di Jepang sering menghadapi pelecehan seksual, tetapi biasanya terlalu takut untuk meminta bantuan karena rasa malu.

Dengan aplikasi ini, para korban dapat menekan ikon “repel groper” (tolak peraba-raba) untuk menghasilkan pesan tertulis yang mengatakan “Ada groper di sini. Tolong bantu”. “Dengan menekan lagi, pesannya berubah menjadi merah dan sebuah suara akan muncul berulang kali yang mengatakan, “Tolong berhenti!”

Aplikasi ini mencakup alarm dan dapat memberi tahu alamat email yang ditunjuk ketika digunakan. Fitur ini juga dapat digunakan oleh anak-anak dan orang tua mereka. Pengguna juga dapat menemukan area yang rawan kejahatan dan kantor polisi di peta.

Postcomended   Rusia Kirim Bomber ke Venezuela, AS Histeris

Kejahatan kekerasan jarang terjadi di Jepang, tetapi meraba-raba –mulai dari “menggesek-gesek” korban hingga meletakkan tangan di bawah pakaian mereka– adalah kejadian sehari-hari yang dianggap sebagai gangguan sepele. Karenanya pihak berwenang memasang poster-poster di stasiun dan di dalam gerbong untuk mengingatkan penumpang bahwa meraba-raba adalah kejahatan.

Polisi Metropolitan Tokyo mengatakan, 2.620 kejahatan seksual dilaporkan pada 2017, termasuk 1.750 kasus meraba-raba, sebagian besar di kereta atau di stasiun. Gerakan #MeToo lambat untuk ditangkap di Jepang yang sebagian besar bersifat patriarkal (laki-laki dominan), di mana berbicara sering mengundang kritik daripada simpati.

#MeToo adalah gerakan mengajak para korban kekerasan seksual untuk berani berjuang menuntut keadilan. Gerakan ini pertama kali dibawa oleh Tarana Burke, seorang aktivis asal Amerika Serikat, dan kemudian mendorong sejumlah selebritas Hollywood korban pelecehan untuk buka suara.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top