Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

Arab Saudi Bakal Deportasi Lagi Ratusan Rohingya, Warganet Tak Heran

Share the knowledge

 

https://www.youtube.com/watch?v=PC3-QnbSg-0

Orang-orang Rohingya di pusat penahanan Shumaisi (di Jeddah), menunggu untuk  dideportasi (gambar dari: YouTube)

Arab Saudi berencana mendeportasi 250 pria Rohingya ke Bangladesh. Satu kelompok aktivis mengatakan kepada Al Jazeera, Ini akan menjadi deportasi paksa kedua oleh Riyadh tahun 2019 ini. Arab Saudi adalah rumah bagi hampir 300 ribu Rohingya, 

Nay San Lwin, koordinator kampanye untuk Koalisi Rohingya Merdeka, mengatakan kepada Al Jazeera, mereka mendesak pihak berwenang Saudi untuk menghentikan deportasi. Orang-orang itu, kata Lwin, akan menghadapi hukuman penjara di Bangladesh pada saat kedatangan mereka.

Berita yang ditautkan Al Jazeera di jejaring sosial Facebook ini, memancing warganet berdengung. Akun atas nama Anoop Nambiar memberi komentar: “Orang Rohingya kebanyakan adalah (memang) orang Bangladesh.” 

Sementara itu Jibril Bello menulis: “Kerajaan (Arab Saudi) tidak mempraktikkan Islam yang benar.” Senada, Mathias Nigatu mengatakan: “Keluarga kerajaan terlindung dalam Islam tetapi tidak religius.” Sedangkan akun Samiya Dahir menulis seraya menyertakan emoji menangis: “Saya tidak terkejut.”

Nay San Lwin mengatakan bahwa mayoritas Rohingya yang berada di Saudi memiliki izin tinggal dan dapat tinggal di Arab Saudi secara hukum. “Tetapi para tahanan ini, yang ditahan di pusat penahanan Shumaisi (di Jeddah), belum diperlakukan seperti saudara Rohingya mereka. Sebaliknya, mereka diperlakukan seperti penjahat.”

Postcomended   Kelaparan Kembali Memburuk di Afrika bahkan Amerika Selatan

Menurut satu video yang diperoleh Lwin, Rohingya, yang sebagian besar tiba di negara itu beberapa tahun yang lalu, sedang dipersiapkan untuk dibawa ke bandara internasional Jeddah pada Minggu (20/1/2019) di mana mereka kemudian akan naik penerbangan langsung ke Dhaka, ibukota Bangladesh.

Lwin menambahkan bahwa banyak dari Rohingya memasuki Arab Saudi menggunakan dokumen palsu setelah mendapatkan paspor milik negara-negara seperti Pakistan, Bangladesh, India dan Nepal melalui penyelundupan.

Siapa Rohingya?
Myanmar mencabut Rohingya dari kewarganegaraan mereka pada 1982, menjadikan mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Di bawah Undang-Undang Kewarganegaraan 1982, Rohingya tidak diakui sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis negara itu; membatasi hak mereka untuk belajar, bekerja, bepergian, menikah, memberikan suara, mempraktikkan agama mereka, dan mengakses layanan kesehatan.

Arab Saudi berhenti mengeluarkan izin tinggal kepada Rohingya yang memasuki negara itu setelah 2011. Lwin mengatakan bahwa beberapa aktivis hak asasi manusia telah mengajukan banding ke pemerintah Saudi selama dua tahun terakhir dan bahwa dia secara pribadi telah melakukan pendekatan kepada pejabat dan diplomat Saudi untuk melakukan intervensi.

Postcomended   2 Agustus dalam Sejarah: Ketika Saddam Husein Menekuk Kuwait dan Memberi Alasan AS Menjatuhkannya

“Ketika Rohingya ini tiba di Bangladesh, mereka bisa dipenjara,” katanya. “Arab Saudi harus menghentikan deportasi ini dan memberikan mereka izin tinggal seperti para Rohingya lainnya yang tiba di negara itu sebelumnya.”

Tahun lalu, Middle East Eye (MEE) melaporkan bahwa tahanan Rohingya sedang dipersiapkan untuk dideportasi tidak lama setelah Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, mengunjungi Arab Saudi. Beberapa tahanan yang ditahan di pusat penahanan Shumaisi mengatakan mereka telah tinggal di Kerajaan sepanjang hidup mereka dan telah dikirim ke fasilitas setelah polisi Saudi menemukan mereka tanpa dokumen identitas.

Digambarkan sebagai “minoritas paling teraniaya di dunia”, sekitar satu juta Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh pada akhir 2017 ketika tentara Myanmar melancarkan kampanye brutal terhadap mereka.
PBB menuduh tentara pemerintah dan umat Buddha setempat membantai keluarga, membakar ratusan desa dan melakukan pemerkosaan massal.

Postcomended   Negara-negara Maju G7 Kucurkan Rp 300 M Lebih untuk Padamkan Kebakaran Amazon

Myanmar membantah tuduhan itu, dan mengatakan bahwa pasukan keamanan memerangi pemberontak bersenjata. Namun, banyak dari pengungsi yang tinggal di kamp-kamp yang sempit dan tidak bersih di Bangladesh mengatakan mereka takut kembali ke Myanmar tanpa hak yang dijamin seperti kewarganegaraan, akses ke perawatan kesehatan, dan kebebasan bergerak.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top