Internasional

AS Akan Tarik Sisa Diplomatnya dari Venezuela di Tengah Kekacauan Akibat Listrik Padam yang Dituding Didalangi AS

Share the knowledge

 

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyalahkan AS sebagai dalang padamnya listrik Venezuela selama enam hari terakhir ini (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=2AalcrFhkcQ)

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyalahkan AS sebagai dalang padamnya listrik Venezuela selama enam hari terakhir ini (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=2AalcrFhkcQ)

Di tengah kekacauan akibat padamnya listrik di hampir seluruh Venezuela, AS menyebutkan akan menarik semua personel diplomatiknya dari Venezuela minggu ini. Atas insiden padamnya listrik yang telah berlangsung lima hari ini, Presiden Maduro menuduh AS telah melakukan serangan siber yang membuat listrik padam.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengumumkan rencana penarikan semua diplomatnya itu Senin (11/3/2019) malam, menyusul situasi yang memburuk di negara itu setelah berbulan-bulan kerusuhan politik. Ini dilakukan mengikuti keputusan Washington pada 24 Januari lalu.

Dilaporkan Reuters, keputusan ini memerintahkan agar staf kedutaan mulai dikurangi hingga minimum, di negara Amerika Selatan yang dilanda krisis perebutan posisi presiden ini.

“Keputusan ini mencerminkan situasi yang memburuk di Venezuela serta kesimpulan bahwa kehadiran staf diplomatik AS di kedutaan telah menjadi kendala pada kebijakan AS,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan. Tidak ada rincian lebih lanjut kapan personil akan ditarik dari kedutaan di Caracas.

Kongres Venezuela Senin menyatakan “keadaan waspada” atas pemadaman listrik lima hari yang telah melumpuhkan ekspor minyak negara anggota OPEC ini, dan membuat jutaan warga negara berjuang mencari makanan dan air.

Postcomended   25 CEO Amerika dengan Bayaran Tertinggi 2018: Dibayar 200 Kali Gaji Karyawannya

Padam Akibat Serangan Siber

Akibat pemadaman listrik ini, sejak Selasa (5/3/2019) Venezuela juga menghentikan kegiatan sekolah dan bisnis. Maduro menuding AS ada di balik padamnya listrik. Menurutnya, salah satu fasilitas pembangkit listrik negaranya menjadi sasaran serangan siber teknologi tinggi.

Berbicara dalam demonstrasi anti-imperialis di Ibu Kota Caracas, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan, serangan itu dilakukan dengan menggunakan senjata berteknologi tinggi yang hanya dimiliki AS.

“Hari ini kami telah memulihkan pasokan listrik di 70 persen wilayah negara ini, tetapi pada siang hari, serangan siber lain dilakukan terhadap salah satu fasilitas, yang hingga saat ini bekerja dengan sempurna. Untuk alasan ini, semua kemajuan yang telah kami capai pada pertengahan sore terputus,” jelasnya seperti dilansir kantor berita Anadolu, Minggu (10/3/2019).

21 Orang Meninggal

Pemadaman listrik selama lima hari ini, dilaporkan pada Senin (11/3/2019) telah mengakibatkan 21 orang tewas. Enam diantara korban tewas adalah bayi dan jumlahnya diperkirakan akan bertambah. Pernyataan ini disampaikan dokter Jose Manuel Olivares.

Postcomended   AS Pindahkan Kedutaannya ke Yerusalem, Presiden RI: Ini Melanggar Resolusi PBB

Olivares adalah juga seorang politisi pendukung kelompok oposisi, yang memantau dampak pemadaman listrik nasional terhadap sistem dan pelayanan kesehatan di Venezuela.

Pada Selasa (12/3/2019), pemerintah Venezuela memerintahkan sekolah dan toko tetap tutup. Geng motor pro pemerintah, yang dikenal sebagai “colectivos”, berkeliaran di jalan-jalan gelap untuk menegakkan ketertiban dengan todongan pistol sementara beberapa peristiwa penjarahan terjadi secara sporadis di tengah-tengah keputusasaan.

Warga Venezuela yang putus asa terpaksa mengambil air dari sungai yang tercemar dan pipa-pipa drainase, ketika pemadaman listrik di seluruh negara itu memasuki hari keenam.

Warga yang mengisi botol-botol air minum dari pipa drainase yang mengalir ke Sungai Guaire yang kotor telah diperingatkan untuk hanya menggunakan air tersebut untuk menyiram toilet atau membersihkan lantai. Dokter berharap dapat memindahkan pasien yang perlu dioperasi ke rumah-rumah sakit yang memiliki generator listrik, sehingga dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Sebagian negara itu dilaporkan sudah kembali dialiri listrik hari Senin (11/3), tetapi laporan itu belum dapat dikukuhkan kebenarannya. Media juga belum dapat memastikan laporan korban tewas dan penjarahan yang merajalela di Venezuela karena masalah jaringan komunikasi.

Postcomended   Tesla Andalkan Arab Saudi untuk Cabut dari Bursa Efek

Pemadaman listrik menambah ketidakpuasan warga di negara yang sudah mengalami hiperinflasi dan krisis politik ini setelah pemimpin oposisi, Juan Guaido, diangkat secara sepihak menjadi presiden sementara pada Januari 2019, setelah dia menyatakan pemilu 2018 yang memenangkan  Maduro sebagai penipuan. Penetapan Guaido sebagai presiden sementara didukung oleh AS dan negara-negara sekutu Eropanya.(***/dariberbagaisumber)

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top