AS dan Iran Saling Tuding Sebagai Penyebab Ketidakstabilan Global

Internasional
Share the knowledge

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=lQVrbAzOaUI)
AS vs Iran (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=lQVrbAzOaUI)

AS dan Iran telah menuduh satu sama lain mendorong ketidakstabilan global karena kedua negara mengirim diplomat top mereka ke Venezuela, negara yang politiknya sedang bergolak. Seperti diketahui, baik Iran maupun AS mendukung kubu berbeda di negeri Latinos ini.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, pada Jumat (19/7/2019) terbang ke Venezuela setelah mengakhiri perjalanannya di New York, AS. Republik Islam ini diketahui mendukung pemerintahan sosialis pimpinan Nicolas Maduro, ketika AS dan negara-negara koalisinya memasang pimpinan versi mereka, Juan Guaido.

Begitu tiba di ibu kota Venezuela, Caracas, Zarif menyalahkan Washington sebagai pemicu kerusuhan tidak hanya di Teluk Persia –di mana insiden yang melibatkan drone dan tanker minyak telah membawa kawasan itu ke tepi konflik– tetapi juga Amerika Latin.

“Perlawanan rakyat Venezuela terhadap Amerika Serikat (AS) sangat penting bagi rakyat dunia dan rakyat Venezuela. Tanpa campur tangan AS, rakyat Venezuela tahu bagaimana hidup bersama dan bagaimana bergaul satu sama lain,” kata Zarif dalam komentar yang dikutip oleh CNN.

Lebih lanjut Zarif mengatakan, di mana pun langkah AS, dia membawa ketidakstabilan dan rasa tidak aman. “Kami tidak tahu di mana pun di dunia ini bahwa (kehadiran) AS telah membawa stabilitas atau keamanan. Ke mana pun mereka pergi mereka menyebabkan ketidakstabilan, tekanan pada orang-orang dan (peningkatan) radikalisme dan terorisme,” cecar Zarif.

Laman Newsweek melaporkan, hubungan antara AS dan Iran kian menegang setelah keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Kesepakatan ini secara signifikan membatasi kegiatan nuklir Iran, dan sebagai imbalannya, AS dan sekutunya menarik sanksi ekonomi terhadap negeri para Mullah tersebut.

Postcomended   Menperin Airlangga Beberkan Strategi Pemerintah Genjot Daya Saing Industri

Iran mematuhi perjanjian itu, menurut banyak laporan oleh Badan Energi Atom Internasional, tetapi Trump menarik diri darinya pada Mei 2018, menuduh Iran menggunakan aset yang tidak dibekukan untuk mendanai kelompok-kelompok militan dan mengembangkan program rudal balistiknya. Tehran berulang kali membantahnya.

Satu tahun kemudian, AS mulai mengirim militer tambahan ke Timur Tengah untuk mencegah apa yang diklaimnya sebagai ancaman yang ditimbulkan oleh Iran. Sekitar waktu yang sama, Washington juga berusaha  mengakhiri pertikaian politik selama berbulan-bulan di Amerika Selatan dengan mendukung pemberontakan yang diserukan pemimpin Majelis Nasional Venezuela yang dikendalikan oposisi Juan Guaido terhadap Maduro.

Namun upaya tersebut gagal dan Washington dengan cepat menyalahkan kekuatan asing seperti Cina, Rusia dan Iran, yang terus mengakui Maduro sebagai presiden dan mendukung pemerintahannya di tengah krisis ekonomi yang diperburuk oleh sanksi AS.

Sejak itu, faksi-faksi yang menentang Venezuela telah memasuki pembicaraan dan AS tampaknya mengalihkan fokus kebijakan luar negerinya ke Iran, menuduhnya menarget kapal-kapal komersial yang mengangkut minyak di Teluk Oman ketika Tehran mulai memperkaya persediaan uraniumnya di luar level yang diuraikan dalam kesepakatan yang ditinggalkan Washington.

Pada Jumat, tanpa janjian tentunya, Sekretaris Negara Mike Pompeo juga menuju ke Amerika Latin. Setelah mendarat di Buenos Aires, dia memperbarui kritik terhadap aktivitas Iran di wilayah tersebut. Ditanya tentang pengaruh Moskow, Beijing dan Tehran di Caracas, Pompeo mengatakan kepada agen berita Infobae di Argentina, pada Jumat, “Kami berharap setiap kekuatan asing akan pergi,” ujarnya.

Postcomended   Cina Buktikan Musisi Uighur Ini Masih Hidup

“Kami ingin rakyat Venezuela mengendalikan nasib mereka sendiri. Kami pikir itu yang terbaik. Pada akhirnya, saya yakin bahwa rakyat Venezuela akan mengambil kembali negara mereka.”

Sementara Uni Eropa (UE), Prancis, Jerman dan Inggris telah mendukung Guaido pada saat yang sama ketika Rusia dan Cina mendukung Maduro di Venezuela, semua kekuatan ini masih mendukung perjanjian nuklir Iran yang mereka tandatangani pada 2015, seraya mengutuk kepergian AS.

Moskow dan Beijing, khususnya, telah menuduh Washington dengan sengaja meningkatkan ketegangan dengan Tehran karena ekonominya hancur oleh pembatasan perdagangan yang diberlakukan secara sepihak.

Dalam contoh terbaru dari gejolak di Teluk Persia, Trump mengklaim Kamis bahwa Angkatan Laut AS menembak jatuh satu drone yang diduga melecehkan salah satu kapal perangnya dan, beberapa jam setelah Garda Revolusi Iran merilis rekaman pada Jumat dengan tujuan membantah klaim Trump, kelompok elit merampas sebuah kapal tanker minyak berbendera Inggris yang dituduh mematikan transpondernya ketika melewati Selat Hormuz.

Langkah itu dilakukan berminggu-minggu setelah Inggris menangkap supertanker Iran yang dituduh berusaha mengangkut minyak ke Suriah melalui Selat Gibraltar, sebuah pelanggaran nyata terhadap sanksi UE.

Postcomended   6 Juni dalam Sejarah: Azan dalam Bahasa Arab Kembali Disahkan di Turki

“Tidak seperti pembajakan di Selat Gibraltar, tindakan kami di Teluk Persia adalah untuk menegakkan aturan laut internasional. Seperti yang saya katakan di NY (New York), itu adalah Iran yang menjamin keamanan Teluk Persia & Selat Hormuz. Inggris harus berhenti menjadi aksesori untuk #EconomicTerrorism of US,” Zarif bercuit pada Sabtu (20/7/2019).

“US #EconomicTerrorism adalah ancaman global,” tambahnya. “Saya di Venezuela untuk menghadiri pertemuan #NAM yang diarahkan untuk membentuk respons global terhadap unilateralisme. Dalam keterlibatan Iran dengan dunia, kami tidak menyerukan penggulingan para pemimpin, atau ‘mendukung’ mereka –keputusan untuk RAKYAT suatu bangsa.”***


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work