sumber: dailyutahchronicle.com/2018/02/16/swanson-people-glorifying-kim-jung-uns-sister-victims-propaganda/

sumber foto: dailyutahchronicle.com

Kemesraan Kim Jong Un dan Donald Trump di KTT Singapura 12 Juni lalu, bagai tersapu topan Mangkhut, ketika AS kembali menebar sanksi terhadap Korea Utara. AS menuduh Pyongyang berusaha menipu PBB.  Di sisi lain, Pyongyang mengaku konsisten ingin menyukseskan hasil KTT Singapura untuk denuklirisasi.

Amerika Serikat (AS) bahkan mengumumkan sanksi baru terhadap Korea Utara, Kamis (13/9/2018), dengan membidik satu perusahaan Cina yang CEO-nya berkebangsaan Korea Utara dan satu perusahaan saudaranya yang berbasis di Rusia.

Departemen Keuangan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan Selasa (11/9/2018), seperti dilaporkan laman CNN, bahwa kedua perusahaan teknologi informasi itu sebenarnya adalah entitas yang dikendalikan Korea Utara dan menuduh keduanya melanggar sanksi AS. Mereka adalah perusahaan yang berbasis di Rusia bernama Volasys Silver Star, dan China Silver Star yang berbasis di Cina berikut CEO-nya, Jong Song Hwa.

“Tindakan ini dimaksudkan untuk menghentikan aliran pendapatan gelap ke Korea Utara dari para pekerja teknologi informasi di luar negeri yang menyamarkan identitas mereka dan bersembunyi di balik perusahaan depan, alias, dan warga negara ketiga,” kata Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dalam sebuah pernyataan, Kamis.

Postcomended   Ini Dia Daftar Kampus Pencetak CEO di Amerika

Dia memperingatkan industri TI, bisnis, dan individu di seluruh dunia untuk mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan bahwa mereka jangan sampai secara tak sadar mempekerjakan pekerja Korea Utara untuk proyek teknologi dengan melakukan bisnis dengan perusahaan seperti yang disebutkan.

Pengumuman sanksi itu adalah tanda AS kembali meningkatkan tekanan kepada Pyongyang untuk mengakhiri program rudal nuklir dan balistiknya. Para pejabat Gedung Putih berpendapat tidak ada kemajuan dalam denuklirisasi, bahkan sejak KTT berlanngsung pun.

Pejabat pertahanan AS mengatakan, Korea Utara secara teratur menggunakan “taktik menipu untuk menghindari sanksi PBB” dengan transfer kapal-ke-kapal. Menurut pejabat itu, AS dan sekutunya telah bekerja diam-diam untuk menggagalkan penyelundupan itu.

AS telah menggunakan sanksi untuk mempertahankan tekanan pada Pyongyang agar menghentikan senjata nuklir dan program rudal balistiknya, meskipun terus terlibat dalam diplomasi.
“Amerika Serikat akan terus menegakkan dan menerapkan sanksi sampai kami mencapai denuklirisasi akhir Korea Utara yang sepenuhnya diverifikasi,” kata Mnuchin.

Dewan Keamanan PBB telah mencatat bahwa pendapatan yang dihasilkan dari pekerja Korea Utara di luar negeri berkontribusi pada senjata nuklir negara itu dan program rudal balistiknya. Pengumuman kekayaan mengatakan bahwa Korea Utara menjual berbagai layanan dan produk IT di luar negeri, termasuk pengembangan situs web dan aplikasi, perangkat lunak keamanan, dan perangkat lunak identifikasi biometrik yang memiliki aplikasi militer dan penegakan hukum.

Postcomended   Studi Orang Paling Dikagumi: Orang Malaysia Masih Belum “Move-on” dari Mahattir Muhammad

Sebelumnya, Korea Utara juiga telah menolak proposal AS tentang denuklirisasi, yang dinilai memaksa. Proposal yang disusun AS itu untuk melanjutkan denuklirisasi hingga titik akhir dan dapat diverifikasi, termasuk batas waktu realisasi proposal tersebut.

Ada pertentangan antara AS yang ingin denukliriasi dilakukan terlebih dulu, dengan harapan Korea Utara yang bersikeras agar sanksi dihapus terlebih dahulu sebelum mereka mengambil langkah lebih lanjut. Korea Utara mengeluarkan pernyataan di PBB Agustus lalu bahwa unsur-unsur pemerintah AS tidak mengikuti semangat dialog yang dibentuk selama KTT Kim-Trump di Singapura.

Menurut pernyataan itu, sementara Pyongyang telah mengambil langkah-langkah denuklirisasi praktis seperti menghentikan uji nuklir dan uji coba ICBM (intercontinental ballistic missile), dan langkah-langkah luas seperti repatriasi tawanan perang Korea-AS, namun AS menanggapi hal tersebut dengan menghasut sanksi internasional dan tekanan terhadap Korea Utara.

Postcomended   Lumba-lumba Militer Ukraina Dikabarkan Mati Kelaparan

Dilansir PressTV, Korea Utara telah mengecam seruan AS untuk memberlakukan sanksi internasional. Pyongyang mengatakan, kemajuan janji denuklirisasi tidak dapat diharapkan jika Washington mengikuti naskah akta yang ketinggalan jaman. Pyongyang telah mendesak Washington untuk mengambil tindakan timbal balik untuk isyarat niat baik.***

 

 

Share the knowledge