https://www.vosizneias.com/wp-content/uploads/2017/05/RTSWGPP-layout-comp-2-725×457.jpg

Di tengah kecaman dunia internasional, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Presiden Joko Widodo (Jokowi), dalam beberapa kesempatan telah mengecam pernyataan Trump. Melalui akun Instagram resminya, Jokowi kembali menegaskan kecamannya. Sementara itu agamawan dan organisasi Yahudi menyatakan bahwa memang sudah seharusnya Yerusalem menjadi ibukota Israel.

Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat (AS) terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan itu melanggar resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB. Saya dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya.” Demikian tulis Jokowi, Kamis (7/12/2017).

 

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dengan mengumumkan pemindahan kedutaan besar AS ke kota suci tiga agama itu. Trump seperti sengaja tidak memedulikan tentangan sejumlah pihak.

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Trump mengatakan, “Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel; Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung,” ujarnya.

Menurutnya, Israel memiliki hak menentukan ibu kotanya. Penundaan penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel selama ini tidak membawa apapun dalam mencapai perdamaian. Sikap AS ini kata Trump, tidak mengurangi komitmen AS pada upaya penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Postcomended   Tercorengnya Nobel Perdamaian Si Anggrek Baja #StopKillingRohingyaMuslims

Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama besar: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Di kota ini terdapat situs yang disucikan tiga agama tersebut: Masjid al-Aqsa (Islam), Tembok Ratapan (Yahudi), dan Gereja Makam Kudus (Kristen).

Seorang Rabbi Yahudi yang berbasis di Indonesia, Benjamin Meijer Verbrugge, mendukung aksi Trump. Menurutnya, jika Yerusalem menjadi ibu kota Israel, tidak akan mengubah wajah Israel yang demokratik.

Dia mengatakan, tidak ada yang dilukai dengan dijadikannya Yerusalem sebagai ibu kota Israel. “Semua agama berdoa di situ. Parade gay di Yerusalem juga tidak ada masalah,” ujar sang Rabbi.

Setiap hari orang Palestina kata Ben bebas beraktivitas meski harus melewati pos pemeriksaan.

Ben mengatakan, memang sudah garisnya Yerusalem menjadi ibukota Israel. Alasannya, pusat pemerintahan Kerajaan Daud terdapat di kota itu. Bukti kerajaannya masih ada. “Jelas bahwa tanah perjanjian itu adalah milik bani Israel,” kata dia.

Monique Rijkers dari Hadassah of Indonesia, organisasi yang bergerak di bidang edukasi isu-isu Yahudi dan Israel, mengatakan, pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem hanyalah pengakuan administratif.

Postcomended   Pemimpin ISIS Tunjukkan Dirinya Masih Hidup

“Selama ini kami mengenal Yerusalem ibu kota Israel. Cuma negara-negara lain menempatkan pemerintahannya di Tel Aviv,” kata Monique, dikutip BBC Indonesia.

Namun dunia internasional umumnya mencemaskan pernyataan Trump tersebut akan memperparah konflik di Timur Tengah (Timteng). Meskipun kenyataan geopolitis seperti dikatakan Direktur Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia (UI), Muhammad Luthfi, tampaknya tidak mengarah ke sana.

Lutfi beranggapan, Timteng tidak akan terjerumus pada perang skala besar karena negara-negara pendukung Palestina saat ini dalam keadaan kurang berdaya.

Negara-negara pendukung Palestina seperti Irak, Mesir, dan Suriah, sedang kesulitan oleh masalah di negerinya sendiri. Irak hingga kini masih saja porak-poranda sejak serangan oleh AS pada 2003. Mesir terikat perjanjian Camp David. Suriah sampai sekarang masih terjebak perang saudara.

Paling-paling (yang terjadi) benturan-benturan, demonstrasi, intifadha, seperti yang pernah di era 1980-an sampai 1990-an,” kata Luthfi kepada Republika.co.id, Kamis (7/12/2017), seraya menyebut nama kelompok-kelompok pejuang pro-Palestina, utamanya Hamas atau Hizbullah.

Belum lama ini, utusan khusus Palestina untuk Inggris Raya, Manuel Hassassian, berpendapat AS sedang menabuh genderang perang di Timur Tengah.

Postcomended   Pacari Muslim, Remaja Israel Tewas di Tangan Ayahnya

“Jika dia (Trump) mengatakan niatnya tentang Yerusalem menjadi ibukota Israel, itu berarti telah menafikan solusi dua negara berdaulat (Palestina dan Israel). Dengan begitu, dia mendeklarasikan perang di Timur Tengah. Deklarasi perang melawan 1,5 miliar orang Muslim dan ratusan juta orang Kristen,” ujar Hassassian dalam sebuah wawancara dengan BBC Radio, seperti dikutip Reuters, Rabu (6/12) lalu.(***/bbc/republika/kompas)

Share the knowledge