Abad ke-21 telah menciptakan satu fenomena baru, “phubbing”, yakni mengabaikan orang di depan Anda karena Anda lebih peduli pada ponsel Anda. Bisa jadi Anda pernah di-phub atau Anda yang pernah mem-phub karena tenggelam ke dalam lubang hitam Facebook atau Instagram. Tampak tidak berbahaya. Tapi awas, penelitian menyebut ini mungkin menyakiti hubungan sosial di dunia nyata; fenomena yang memicu diskusi global seputar etika berponsel.

Dilansir laman Campaign Brief, pada 22 Mei 2012, bertempat di Universitas Sydney, sebuah film pendek berjudul “A Word is Born” diputar; film pendek yang mengisahkan ketika satu tim ahli bahasa membidani kelahiran kata “phubbing”. Pemutaran film pendek itu bersamaan dengan peluncuran kamus Macquarie edisi keenam; kamus nasional Australia.

Kini kata phubbing –yang berasal dari gabungan kata “phone” dan “snubbing”) telah diadopsi sebagai salah satu kosa kata baru Inggris oleh negara-negara dengan bahasa Ibu Inggris.

Dengan perkembangan teknologi ponsel yang pesat, istilah phubbing (yang belum ada padanannya dalam Indonesia) semakin niscaya saja. Kita kini sering melihat pertemuan satu keluarga dimana anggota keluarga semuanya asyik dengan ponselnya masing-masing; dan meninggalkan para tetua dari generasi telepon putar, terbengong-bengong.

Phubbing bagaimanapun telah memperkaya kosa kata Inggris; kosa kata yang cenderung bersifat negatif. Beberapa penelitian menunjukkan, phubbing dikatakan telah membuat interaksi tatap muka menjadi kurang berarti.

Postcomended   Rayakan Hari Kopi, Kemenperin terus Tingkatkan Ekspor Kopi Nasional

Sebuah makalah yang baru diterbitkan di Journal of Applied Social Psychology menyebutkan, seperti dilaporkan kembali oleh TIME, bahkan orang-orang yang sekadar membayangkan mereka sedang di-phub pun merasa lebih negatif.

Riset lainnya, yang diterbitkan di “Computers in Human Behavior” pada 2016, menemukan bahwa mengirim pesan singkat (SMS) saat percakapan membuat pembicaraan kurang memuaskan bagi orang yang melakukannya, jika dibandingkan dengan orang yang berinteraksi tanpa ponsel.

Merasa Dikucilkan
Satu studi pada 2012 bahkan menemukan bahwa kehadiran ponsel selama percakapan, bahkan ketika tidak ada yang menggunakannya, (secara psikologis) sudah cukup untuk membuat orang merasa kurang terhubung satu sama lain.

Studi terbaru tentang masalah ini mengungkapkan, dengan membuat orang yang di-phub merasa dikucilkan, phubbing diketahui mengancam empat kebutuhan mendasar: rasa memiliki, harga diri, eksistensi yang bermakna, dan kendali/control. Para peneliti mengatakan, ini mungkin sangat berbahaya karena phubbing terjadi sepanjang waktu.

Penelitian lain menunjukkan, phubbing dapat mempengaruhi hubungan. Dua penelitian terpisah baru-baru ini menemukan bahwa ketika pasangan saling mem-phub, mereka lebih mungkin mengalami depresi dan memiliki kepuasan pernikahan yang lebih rendah.

Postcomended   Setelah WITA Homestay dan CBT Bali Berkompetisi di ASEAN

“Jika pasangan hidup Anda menelepon orang lain, itu berarti bahwa mereka memprioritaskan sesuatu yang lain di atas Anda di saat-saat kebersamaan, dan itu menyakitkan,” kata Emma Seppala, psikolog di Universitas Stanford dan Yale dan penulis “Happiness Track”. Seppala tidak terlibat dalam penelitian.

Sebuah penelitian Februari 2018 menemukan, orang-orang yang menggunakan ponsel saat makan dengan teman atau keluarga mengatakan mereka menikmati makanan lebih sedikit dan merasa lebih terganggu dan kurang terlibat daripada mereka yang tidak repot dengan teknologi di meja.

Eksperimen selanjutnya menemukan, penggunaan ponsel dapat membuat interaksi tatap muka di meja juga kurang menyenangkan. Phubbing juga dinilai dapat merusak reputasi. “Pengguna telepon umumnya dipandang kurang sopan dan kurang perhatian, dan (dipandang) sebagai pembicara yang lebih miskin,” kata Seppala.

“Anda mungkin (akan) melewatkan dampak kritis momen-momen sebagai manusia yang benar-benar membentuk apa itu kehidupan manusia. Benar-benar menakutkan bahwa kita mengganti itu semua dengan melihat ke layar,” imbuh Seppala.

Anda “Phubber” Kronis?
Jika Anda seorang “phubber” kronis, Seppälä menyarankan, membuat dan mengikuti aturan teknologi yang ketat, seperti meletakkan ponsel saat makan bersama, dapat membantu membentuk kebiasaan baru. Praktik-praktik berbasis perhatian lainnya, seperti meditasi dan perhatian, juga dapat membantu melatih kembali kapasitas perhatian Anda.

Postcomended   Cina Peringatkan AS; Akan Balas Jika Impor Baja Dibatasi

Jika Anda yang di-phub, Seppala merekomendasikan untuk mengubah perspektif terlebih dahulu. “Bersabarlah dan berbelas kasih dan jangan tersinggung, karena mereka mengikuti dorongan hati,” katanya.

Namun, imbuhnya, luangkanlah waktu untuk dengan tenang menjelaskan bagaimana phubbing membuat Anda merasa terganggu. Untuk diketahui, Seppala mengungkapkan, penelitian menunjukkan wanita dan orang dewasa yang lebih tua memiliki reaksi lebih kuat terhadap phubbing daripada pria dan remaja.(***/TIME/campaignbrief)

Sumber foto: medium.com

Share the knowledge