Future Center - Encryption ThreatsHow Telegram turned into a ... futureuae.com Encryption Threats. Terrorist organizations and their operatives resorted to the instant messaging application, Telegram ...

Future Center – Encryption ThreatsHow Telegram turned into a … futureuae.com Encryption Threats. Terrorist organizations and their operatives resorted to the instant messaging application, Telegram …

Saat terjadi aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Ahad (13/5/2018), serangan bom mematikan juga terjadi di Jalalabad, Afganistan timur. Pada tanggal sama, satu orang tewas ditikam di Paris, Prancis. Ketiga peristiwa ini diklaim oleh kelompok Negara Islam (Islamic State/IS), meskipun untuk kasus Surabaya, pihak kepolisian membantahnya. IS mengklaim insiden di Surabaya dan Jalalabad melalui berbagai media propaganda, termasuk aplikasi perpesanan (messaging) Telegram. Seperti diketahui Telegram merupakan aplikasi favorit para teroris. Mengapa Telegram?

Dilansir media Inggris, Independent, para teroris telah menggunakan majalah propaganda, situs web, saluran media sosial, dan aplikasi Telegram untuk mendistribusikan saran untuk melakukan pembantaian menggunakan pisau, kendaraan, senjata, dan bom. Dalam peristiwa bom saat konser penyanyi Ariana Grande di Manchester, Mei 2017, terjadi aktivitas perayaan di Telegram.

Terkait insiden di Surabaya, Reuters melaporkan, dalam sebuah pesan yang disampaikan melalui kantor berita Amaq, IS mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Sedangkan Telegraph menulis, IS pada Minggu sore melalui aplikasi Telegram menyatakan, “Tiga serangan syahid membunuh 11 dan melukai setidaknya 41, termasuk penjaga gereja dan umat Kristen.”

Sementara itu, klaim insiden di Jalalabad mirip dengan Surabaya. AFP melaporkan, dalam sebuah pernyataan dari agensi propaganda Amaq, kelompok IS mengklaim bahwa merekalah yang melakukan serangan itu, dan menyebarkan informasinya melalui Telegram. “Sebuah misi bunuh diri menggunakan bom mobil menghantam kementerian keuangan di Jalalabad,” kata pernyataan itu, yang beredar di layanan pesan terenkripsi Telegram, dilansir AFP.

Para pejabat pemerintahan Afganistan melaporkan, sedikitnya sepuluh tewas dan lebih dari 40 terluka ketika gerilyawan meledakkan bom dan menyerbu sebuah gedung pemerintahan, Ahad, dalam serangan satu jam di sebuah kota Afghanistan timur yang diklaim oleh kelompok Negara Islam.

Serangan di kota timur Jalalabad ini adalah kekerasan mematikan terakhir yang menyerang Afghanistan ketika kelompok militan meningkatkan serangan, dan pasukan Afganistan yang didukung AS mengintensifkan serangan udara dan serangan darat. Sementara itu di Paris, seorang pria menikam satu orang hingga tewas, dan empat lainnya terluka. Belakangan diidentifikasi pria penikam itu berasal dari Chechnya, suatu negara mayoritas Muslim pecahan Uni Soviet (kini Rusia).

Postcomended   Mudah, 5 Perawatan Wajah Buat Wanita Karir Super Aktif

Mengapa Telegram?

Dilansir Huffington Post, dalam beberapa jam setelah serangan teror mematikan di Manchester, ada kesibukan aktivitas pada aplikasi favorit kelompok militan IS, Telegram; sebuah layanan pesan terenkripsi. Bahkan sebelum pihak berwenang merilis rincian tentang serangan itu, para pendukung IS membanjiri saluran pribadi dan publik pada aplikasi tersebut dengan pesan-pesan perayaan.

Lebih lanjut Huffington Post menulis, Telegram telah menjadi salah satu sarana utama IS untuk menyebarluaskan informasi dan menyatukan para pendukungnya. Ketika platform media sosial lainnya seperti Twitter dan Facebook meningkatkan upaya mereka menutup akun pro IS, Telegram bagai mengisi kekosongan itu.

Sejak sekitar 2015, para analis mengatakan telah ada eksodus ekstremis ke aplikasi ini untuk mencari privasi yang lebih baik dan kebebasan dari dimatikan oleh moderator. “Kami telah melihat tren yang jelas dari meningkatnya penggunaan Telegram oleh hampir semua kelompok teror di seluruh dunia,” Gabriel Weimann, seorang profesor di Universitas Haifa di Israel dan penulis tentang ekstremisme online, mengatakan kepada HuffPost.

Munculnya Telegram sebagai bagian dari ISIS dan strategi komunikasi kelompok teroris lainnya dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bagaimana ekstremis beradaptasi dengan teknologi dalam menghadapi upaya untuk menutup kehadiran online mereka. ISIS telah lama menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan propagandanya dan merekrut pengikut, dan Weimann menjelaskan bahwa secara umum kelompok teror adalah pengguna awal platform dan layanan daring baru yang dapat mereka manfaatkan.

Postcomended   Sambut Asian Games, 75 Paket Wisata Dipasarkan

Telegram bekerja seperti WhatsApp, menggunakan enkripsi end-to-end untuk melindungi informasi bersama. Telegram mengklaim memiliki lebih dari 100 juta pengguna, dan menawarkan fitur seperti “pesan yang merusak diri sendiri” untuk memastikan privasi yang lebih baik. Pengguna dapat berkomunikasi baik secara langsung, di grup pribadi, atau di saluran.

Aplikasi ini awalnya dimulai pada 2013 sebagai sarana untuk menyediakan layanan pesan yang lebih aman, dengan penciptanya Pavel Durov menyatakan bahwa aplikasi itu dimaksudkan untuk mencegah layanan keamanan Rusia mengakses komunikasi antar pengguna.

Durov adalah semacam Mark Zuckerberg-nya Rusia. Dia menjadi terkenal pada 2006 setelah mendirikan VKontakte, platform media sosial di Rusia yang lebih populer daripada Facebook. Ketika Kremlin menindak kebebasan internet dan menekan Durov, dia memutuskan untuk melarikan diri dari negaranya pada 2014 dan menjual sahamnya di perusahaan itu yang diperkirakan mencapai ratusan juta dollar AS.

Durov kini adalah warga negara Kepulauan Karibia, St Kitts dan Nevis, serta pendukung setia untuk privasi online. Dalam satu wawancara, Durov telah meremehkan keberadaan kaum radikalis di Telegram dan mengatakan bahwa mereka berada di platform tersebut secara sah.

Dia menolak gagasan memberikan akses pintu-belakang kepada petugas keamanan, dan mengklaim bahwa meskipun Telegram benar-benar ditutup, tak akan berarti banyak untuk menghentikan teroris berkomunikasi.

Meskipun Durov menentang campur tangan pemerintah dan pembatasan kebebasan online, Telegram melakukan upaya untuk menutup saluran-saluran pro IS setelah serangan November 2015 di Paris dan sejak itu telah menutup ratusan akun lebih.

Postcomended   Pemeran "Spider-Man: Homecoming" Nyaris Menangisi Reaksi Netizen

Namun jika dibandingkan Twitter yang telah menutup lebih dari 360.000 akun untuk yang mempromosikan terorisme sejak pertengahan 2015, apa yang dilakukan Telegram taka da apa-apanya.

Pergeseran ke Telegram juga merupakan bagian dari gerakan ISIS yang lebih besar terhadap jaringan pribadi dan apa yang disebut “dark web”; situs hitam. Para ahli mengatakan, ketika perusahaan media sosial lambat dalam mengatasi ekstremisme di platform mereka, kelompok teroris semakin mahir mengubah strategi komunikasi mereka.

“Kurva belajar (mereka) sekarang sangat cepat, setelah butuh bertahun-tahun untuk beradaptasi dengan platform baru atau media baru. Sekarang mereka melakukannya dalam beberapa bulan,” kata Weimann.

Agustus tahun lalu, Indonesia sempat memblokir aplikasi ini. Namun Durov bersikap kooperatif. Dia bahkan menerima undangan untuk datang ke Indonesia. Pada 10 Agustus 2017, blokir pun dicabut. Waktu itu disebutkan, 11 domain yang dicurigai digunakan teroris di Telegram, telah bebas dari filtering.(***/huffpost/independent/AFP/reuters/telegraph/kompas)

Share the knowledge