Beg-packers' are begging on the streets to fund round-the-world ... Metro 'Beg-packers' are begging on the streets to fund round-the-

Beg-packers’ are begging on the streets to fund round-the-world … Metro ‘Beg-packers’ are begging on the streets to fund round-the-

“Say No to BEGPACKERS,” tulis Veronica Hanny Arsanty Tan, seorang backpackers traveller Indonesia dalam tulisannya yang diposting di Facebook 26 Februari 2018. Rupanya banyak yang sehati dengan Veronica sehingga postingannya tersebut hingga Sabtu (21/4/2018) malam, telah dibagikan hingga 5.774 kali dan 3.000 jempol, dengan 963 komentar. Intinya, Veronika sebal pada fenomena orang Indonesia yang bersikap berlebihan pada “bule” sehingga dimanfaatkan oleh mereka. Istilah “begpackers” yang ditulis Veronica tampaknya merupakan pelesetan dari “backpakers”: “beg” dalam Inggris artinya “mengemis” atau “meminta-minta”.

Kata aslinya, yakni “backpaker”, adalah istilah untuk cara berwisata alternatif yang lebih murah karena –kebalikan dari wisata yang dikelola agen wisata– backpacker lebih bersifat petualangan yang mengandalkan “kaki sendiri”: menginap di hotel-hotel murah meriah, kemana-mana mengandalkan transportasi umum, kadang benar-benar berjalan kaki, sambil menggendong ransel besar di pundak.

Namun belakangan ini rupanya ada fenomena para backpackers, umumnya dari negara-negara Eropa, di negara-negara AsiaTenggara khususnya, yang backpacker-an namun kemudian kedapatan minta-minta, bahkan mengemis di pinggir jalan. Sebagian lagi ada yang mengamen atau sekadar menumpang mobil orang alias “hitchhiking” untuk mengirit uang.

Inilah yang membuat Veronica sebal berat. “Dari semalem gw baca di instastory-nya Amrazing (seorang backpacker yang aktif di Instagram) dan bahasan di twitter soal fenomena bule kere yang belakangan sudah masuk ke Indonesia. Aassslliiii gw marah bangetttt bacanya!” tulis Veronica (tulisan dikutip dengan gaya bahasa seadanya dari postingan Veronica dengan sedikit editing agar enak dibaca, Redaksi).

Dalam tulisannya yang ditulis dalam versi Indonesia dan Inggris, Veronica mengaku kesal pada warga Indonesia yang mudah terkesan pada orang kulit putih –atau sebut saja “bule” untuk mudahnya– sehingga para backpackers bule kere ini memanfaatkannya.

Veronika memosting tulisannya disertai 12 foto –enam foto lainnya berupa screenshoot percakapan pro kontra fenomena begpacker– yang memperlihatkan bule-bule backpacker yang antara lain mengamen, mengemis, minta tumpangan, atau menulis di kertas besar yang intinya meminta sumbangan karena kehabisan dana.

Postcomended   Rumah Produksi Amerika Serikat Berniat Merepro “Pengabdi Setan”

Misalnya salah satu foto yang disebut di Pekalongan, menunjukkan foto seorang polisi dengan dua bule. Teks-nya menuliskan, yang laki-laki asal Ceko dan yang perempuan asal Slovakia (kredit foto yang tertulis: dokumen Polsek Wiradesa, Pekalongan). Dari keterangan foto dan komentar-komentar Facebooker di postingan tersebut, diketahui bahwa polisi Wiradesa patungan untuk memberi bekal dua bule tersebut.

Dalam kolom komentar ada yang menyebutkan bahwa informasi di Youtube menyebutkan pasangan suami istri ini kehabisan bekal karena si istri, di luar rencana malah masuk rumah sakit, sehingga uang mereka habis.

Ada juga cerita yang tertulis di screenshoot, bahwa guru-guru yang piknik ke Bali menggunakan kapal Ferry, memberi makan dan tumpangan bus pada backpacker bule. Kondisi ini memunculkan juga pendapat, termasuk pendapat Veronica, bahwa orang Indonesia terlalu memuja bule, sehingga kadang rela dimanfaatkan.

“Dan bodohnya lagi, kita orang Indonesia masih gampang dibegoin sama mereka ‘kasihan, yah selama bisa dibantu apa salahnya’… Woyyyyyy… mulailah belajar untuk membedakan antara yang beneran minta bantuan ato yang ‘ngerjain’ loe,” seru Veronica, kesal.

Menurut perempuan yang di profil Facebook-nya mengaku asal Lembang, satu daerah di utara Bandung ini, masih banyak orang Indonesia yang mendewakan orang bule, bangga kalau bisa memiliki teman bule. “Jangan salah, mereka tahu loh stigma ini, makanya mereka jadi memanfaatkan kesempatan buat ngebegoin kita,” ujarnya.

Menurut Veronica, mengisahkan pengalamannya saat backpacker-an di negeri lain, jika orang Indonesia melakukan hal yang sama di negara mereka, sudah pasti langsung ditendang, dideportasi dan bisa masuk blacklist. “Boro2 ditolongin,” tulis Veronica.

Postcomended   Hari pertama International Travel and Trade Expo (ITTE 2018)

“La wong kalo mau ngajuin visa schengen aja, loe mesti nunjukin rekening bank loe buat jaminan bahwa kita mampu travelling di sana dan tidak melakukan hal2 yang bule sana lakukan disini. Lah kita koc malah sibuk nolongin!”

Nolongin itu, tulis Veronica, harus pada tempatnya. “Oh mereka kecopetan, bantu telphon ke embassynya dan biarkan embassynya yg mengambil tindakan selanjutnya karena itu sudah jadi kewajiban mereka untuk bertanggung jawab atas warga negaranya.”

Tapi kata Veronica, “Yang gw baca, bule2 kere inj gak berani terang2an kalo di Japan dan Korea, karena polisi disana pasti langsung bertindak tegas, lah polisi disini malah patungan buat bantuin.” Di postingannya, Veronica menyebut bule-bule kere ini (misalnya) berasal dari Rusia, Slovakia, dan Jerman.

Dan karena banyak warganet yang juga membela backpacker yang disebut Veronica begpacker ini, dia dalam tulisan versi Inggris-nya menulis, yang jika diterjemahkan kira-kira: “Sebelum Anda mulai membela mereka, saya ingatkan Anda bahwa mereka tidak melakukan hitchhiking. Sangat berbeda antara hitchhiking dan begging! Anda tidak bisa minta uang begitu saja kepada orang lain dan mengamen untuk membantu perjalanan Anda. Jika Anda kehabisan uang tunai, carilah pekerjaan, apakah itu menjadi guru bahasa Inggris, guru bahasa Jerman, guru Rusia, pokoknya yang legal, tapi tidak dengan mengemis!” Di akhir tulisan versi Inggrisnya Veronica menulis, “Say No to BEGPACKER.”

Pendapat Warganet

Dakam kolom komentar di postingan Veronica, warganet menulis dengan beragam pendapat. Akun Agus Nataliya menulis: Lapor ke immigrasi langsung, biar jelas, kalau mau liburan mestinya punya duit. Ini kok aneh ya.”

Jennifer Philp menulis: “I’ve seen a few in Cambodia too. Parasites.” Sementara akun Maya Sofa punya pendapat: “Kalo minta2nya buat treveling sih kaya nya engga deh yah maap aja ini mah karna saya tidak merasa kasihan karna itu sifatnya untuk senang2, kalo misalkan dia butuh uang untuk pulang kenegaranya mungkin saya kasih walau ga seberapa dan saya pasti do’a kan supaya bule itu dapat uang untuk pulang, tapi kalo untuk liburan dan senang2 saya rasa tidak perlu.

Postcomended   Dendam, Qatar Perintahkan Toko Bongkar Rak Impor Asal Saudi Cs

Muhammad S Laba memiliki pendapat berbeda, dia menulis: “Aku gk dirugikan, biarin aja, nambah satu poin. Orang Indo ramah, murah senyum suka nolong, bertambah satu suka bantu orang kere. Nanti mrk cerita di luar, kita harum. Yg posting ini kurang kerjaan, rasist, dan ndeso.. malu2 in ah. Hapus postingan kamu. Saya di Bali 5 tahun gk kehitung brp bnyk bantu orang kepepet spt ini, aku ikhlas kok. Salah budgetting sehingga kehabisan duit itu biasa.”

Sementara Onur Kara menulis: “These people have no shame obviously, coming from wealthiest part of the world and asking for more to cover up their pleasure expences!” ***

Share the knowledge