Bahrain Bela Australia, Oman Merasa Saatnya Akui Israel: Ada Apa dengan Arab?

Internasional
Share the knowledge

YouTube The Counterrevolution? Watch (3:35) Uploaded by: TRT World,Jun 8, 2017 47.32KViews·1.12KLikes·0Comments We question the nature of the pan-Arab sanctions imposed on Qatar by examining the Gulf's policies in Egypt, Libya, Yemen, Bahrain and Tunisia. Subscribe: ht... Images may be subject to copyright. Find out more
YouTube The Counterrevolution? Watch (3:35) Uploaded by: TRT World,Jun 8, 2017 47.32KViews·1.12KLikes·0Comments We question the nature of the pan-Arab sanctions imposed on Qatar by examining the Gulf’s policies in Egypt, Libya, Yemen, Bahrain and Tunisia. Subscribe: ht… Images may be subject to copyright. Find out more

Bahrain telah membela keputusan Australia untuk mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel. Sebelumnya, pada Oktober, sesama negara kecil di jazirah Arab, Oman, menyatakan sudah saatnya mengakui Israel. 

Liga Arab, seperti dikutip laman Al Jazeera, sebenarnya telah mengeluarkan kritik yang menganggap Australia “secara terang-terangan bias terhadap posisi dan kebijakan pendudukan Israel”. Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid bin Ahmed al-Khalifa, melalui akun Twitter-nya, menyatakan ketidaksetujuannya.

“Sikap Australia tidak (akan) berdampak pada tuntutan Palestina yang sah, pertama di antara mereka adalah Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, dan itu tidak bertentangan dengan Prakarsa Perdamaian Arab,” cuitnya, Sabtu (15/12/2018).

Sebelumnya, di hari sama, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengeluarkan pernyataan bahwa Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibu kota Israel. Dengan begitu, Australia –meskipun hanya mengakui Yerusalem Barat– telah menjadi satu dari sedikit pemerintahan di seluruh dunia yang mengikuti jejak Presiden AS, Donald Trump.

Menanggapi pengakuan Israel, pejabat Israel yang tidak bersedia disebutkan identitasnya, seperti dilansir laman Times of Israel, menganggap pengakuan hanya Yerusalem Barat oleh Australia merupakan sikap setengah hati, karena Israel menginginkan seluruh Yerusalem seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

Postcomended   Mendadak Banyak Tikus di Lingkungan Rumah? Bisa Jadi Pertanda Ini

Sikap Bahrain ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Belakangan ini al-Khalifa berkali-kali mengeluarkan pernyataan yang menyatakan dukungannya kepada Israel. Awal bulan ini, setelah Israel melancarkan operasi militer untuk menghancurkan terowongan lintas-perbatasan yang dibangun oleh Hizbullah dari Libanon ke Israel, Menteri Luar Negeri Bahrain ini menyebut terowongan itu sebagai “ancaman menyolok” bagi stabilitas Lebanon.

Bahrain juga mengatakan, Israel memiliki hak untuk membela diri terhadap Iran, dimana Bahrain menyalahkan Iran karena memicu kerusuhan di dalam perbatasannya. Sikap Bahrain ini bagai isyarat bahwa jazirah Arab, khususnya kubu Arab Saudi, kian mesra dengan Israel.

Oktober silam, negara Arab kecil lainnya, Oman –yang bahkan awalnya dekat dengan Iran; musuh bebuyutan Arab Saudi– juga terindikasi akan mengakui Israel. Ini ditandai dengan terbangnya Netanyahu diam-diam ke ibukota Oman, Muscat, untuk bertemu dengan Sultan Oman, Qaboos bin Said.

Ini menandai kunjungan pertama oleh seorang pemimpin Israel dalam lebih dari 20 tahun ini ke negara Teluk kecil, sekutu AS yang pada masa lalu telah memfasilitasi negosiasi antara AS dan Iran. Sebelumnya, Netanyahu telah seringkali sesumbar tentang terjalinnya hubungan pemanasan dengan negara-negara Arab yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Dan rupanya sekarang terbukti.

Postcomended   Dipotret Warga Menyetir Bentley-nya Sambil Teleponan, David Beckham Ditilang

Sehari setelah pertemuan rahasia antara para pemimpin kedua negara itu, pejabat Oman mengatakan, sudah waktunya untuk mengakui keberadaan Israel. “Saya akan mengatakan ini untuk pertama kalinya: Israel adalah negara yang hadir di wilayah ini dan kita semua tahu itu,” kata Menteri Luar Negeri Oman, Yusuf Bin Alawi, pada konferensi Dialog Manama di Bahrain, Sabtu (27/10/2018), seperti dilansir laman Bloomberg.

Pada bulan sama, Miri Regev, Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Israel, melakukan perjalanan ke Uni Emirat Arab (UEA) dengan delegasi Israel di sebuah turnamen judo, dan menteri komunikasi Netanyahu menuju ke UEA untuk konferensi keamanan.

Status Yerusalem, rumah bagi situs-situs yang suci bagi agama Islam, Yahudi, dan Kristen, adalah salah satu hambatan terbesar bagi perjanjian damai antara Israel dan Palestina, dimana terdapat keinginan agar Yerusalem Timur diakui sebagai ibu kota negara Palestina. Hambatan ini terjadi karena Israel dengan didukung AS tidak mau mengakui Palestina sebagai negara.

Postcomended   Gara-gara Unjuk Rasa, Satu Asteroid Mungkin Bakal Membanting Bumi

Israel menganggap semua Yerusalem adalah miliknya, termasuk sektor timur yang dianeksasi Israel dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional setelah perang 1967. PBB mengatakan status Yerusalem harus diselesaikan melalui negosiasi.***

 


Share the knowledge

Leave a Reply