Internasional

Bantai Minoritas Muslim Vietnam, Dua Bos Terakhir Khmer Merah Dihukum Seumur Hidup

 

https://www.rte.ie/news/2014/0807/635598-cambodia/

Khieu Sampan dan Nuon Chea (sumber foto: rte.ie)

Pengadilan internasional menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada dua pemimpin terakhir rezim komunis Khmer Merah yang secara brutal memerintah Kamboja pada tahun 1970-an. Keduanya dihukum pada Jumat (16/11/2018) untuk kesalahan melakukan kejahatan genosida terhadap minoritas Vietnam dan Muslim Cham, dan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Nuon Chea (92) dan Khieu Samphan (87) dijatuhi hukuman seumur hidup penjara, hukuman sama yang sudah mereka jalani sebelumnya untuk kejahatan terhadap kemanusiaan terkait pemindahan paksa dan penghilangan massal. Mereka dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan setidaknya 1,7 juta orang dari 1975 hingga 1979. Nuon Chea meyakinkan seorang pewawancara bahwa mereka hanya membunuh orang jahat, bukan yang baik.

Nuon Chea dianggap sebagai ideolog utama Khmer Merah dan tangan kanan pemimpin akhir kelompok itu, Pol Pot. Sedangkan Khieu Samphan adalah mantan politikus komunias Kamboja yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Kamboja periode 1976 sampai 1979.

Putusan yang dibacakan di ruang sidang oleh Hakim Nil Nonn menetapkan bahwa Khmer Merah melakukan genosida terhadap minoritas Vietnam dan Cham. Para pakar (sebelumnya) telah memperdebatkan apakah penindasan terhadap Chams, minoritas etnis Muslim yang anggotanya telah melakukan perlawanan kecil tetapi sia-sia melawan Khmer Merah, sebesar genosida. Anggota komunitas Cham hadir di antara kerumunan besar penonton yang menghadiri sidang sesi Jumat.

Pengadilan menemukan Khieu Samphan tidak bersalah melakukan genosida terhadap Cham, karena bukti tidak kuat, meskipun ia dihukum karena genosida terhadap minoritas Vietnam lainnya.

Postcomended   Riz Ahmed, Muslim dan Asia Pertama yang Memenangkan Emmy Awards

Khmer Merah berusaha mencapai utopia agraria dengan mengosongkan kota-kota untuk membangun komunitas pedesaan yang luas. Sebaliknya kebijakan radikal mereka ini mengarah pada apa yang disebut “genosida otomatis” melalui kelaparan, kerja paksa dan eksekusi.

Kejahatan terhadap keyakinan kemanusiaan meliput kegiatan di kamp kerja dan koperasi yang didirikan oleh Khmer Merah. Pelanggaran-pelanggaran ini meliputi pembunuhan, pemusnahan, deportasi, perbudakan, pemenjaraan, penyiksaan, penganiayaan atas dasar politik, agama dan rasial, serangan terhadap martabat manusia, penghilangan paksa, pemindahan paksa, kawin paksa, dan perkosaan.

Pelanggaran berdasarkan Konvensi Jenewa mengatur kejahatan perang termasuk pembunuhan yang disengaja, penyiksaan, atau perlakuan tidak manusiawi. Salah satu penonton pada sidang hari Jumat adalah Sum Rithy, 65 tahun, yang mengatakan dia telah dipenjara selama hampir dua tahun di bawah Khmer Merah, yang menuduhnya sebagai mata-mata untuk CIA.

Dia selamat dari kematian hanya karena dia adalah seorang mekanik terampil yang bisa memelihara mesin dan generator milik para penculiknya itu. Rithy mengatakan tiga saudara kandungnya dibunuh oleh Khmer Merah, juga dituduh sebagai mata-mata CIA, sementara ayahnya meninggal karena kelaparan.

Postcomended   Cemooh Tawaran F-16 dari AS, Kian Mesra dengan Rusia dan Cina

“Hari ini, saya sangat senang bahwa kedua pemimpin Khmer Merah ini dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara. Putusan itu cukup adil bagi saya dan korban-korban lainnya di Kamboja,” katanya. “Tadi malam, aku tidak bisa tidur karena aku takut Nuon Chea dan Khieu Samphan mati sebelum putusan ini diumumkan.”

Nuon Chea dibawa oleh ambulans, sedangan Khieu Samphan dengan mobil van ke gedung pengadilan dari penjara terdekat di mana mereka ditahan. Nuon Chea, yang menderita masalah jantung, diizinkan pindah dari ruang sidang ke ruang tahanan terpisah.

Khieu Samphan hadir untuk seluruh sidang dan dengan bantuan dua penjaga keamanan dia berdiri saat vonis dibaca, dengan tidak menunjukkan emosi yang jelas. Pengacara Nuon Chea mengatakan mereka akan mengajukan banding, dan Khieu Samphan diperkirakan akan melakukan hal sama.

Pada 2010, pengadilan memvonis Kaing Guek Eav, yang dikenal sebagai Duch, yang menjadi kepala sistem penjara Khmer Merah untuk menjalankan pusat penyiksaan Tuol Sleng yang terkenal di Phnom Penh.

Postcomended   Siswa SMA Amerika Bagi-bagikan Kue yang Diduga Mengandung Abu Neneknya

Ada kekhawatiran sistem politik akan menggagalkan hasil pengadilan ini dari melakukan penuntutan lebih lanjut. Namun Perdana Menteri lama Kamboja, Hun Sen, telah menyatakan bahwa dia tidak akan mengizinkan kasus lebih lanjut untuk maju, seraya mengklaim bahwa mereka (kedua terpidana) akan menyebabkan ketidakstabilan. Hun Sen adalah mantan komandan Khmer Merah yang membelot ketika kelompok itu berkuasa dan dipasang di pemerintahan setelah Khmer Merah digulingkan oleh invasi Vietnam.***

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top