Brilliant Ads on Twitter:

Brilliant Ads on Twitter: “internetsegura.br: On internet some things are not what they seem to be. Know how to surf safe. http://t.co/LLBitAo11j” twitter.com600 × 400Telusuri gambar “internetsegura.br: On internet some things are not what they seem to be. Know how to surf safe.”

Serupa dengan suplemen yang meningkatkan vitalitas kita dan seringkali membawa efek samping itu, demikian pula halnya dengan perkembangan teknologi informasi.

Di satu sisi akses terhadap informasi menjadi semakin mudah dan karenanya memberi banyak manfaat, di sisi lain kemudahan itu membawa pergeseran tata nilai. Kehadiran media sosial yang semakin mengurai sekat-sekat ruang dan waktu selain berdampak positif memudahkan akses informasi dan komunikasi, juga semakin membuka ruang bagi terjadinya benturan pemikiran dan kepentingan antar individu maupun kelompok.

Debat panjang di media sosial telah melahirkan warna baru dalam gaya komunikasi kita. Disadari atau tidak, kebanyakan kita telah terjebak dalam pro dan kontra dan nyaris tidak menyisakan pilihan lain selain keduanya.

Untuk sekedar memberi contoh, bila seseorang pro kepada Habib Riziek Syihab maka citra yang dimunculkan adalah ia sepenuhnya baik. Siapapun yang mengkritiknya akan dianggap tidak berfihak kepada Islam atau bahkan lebih jauh, akan dianggap anti Islam.

Sebaliknya, bila seseorang pro kepada Ahok, maka citra yang dimunculkan juga sama bahwa ia sepenuhnya baik, dicarikan pembenaran atas kesalahannya, dan fihak yang mengkritiknya seringkali dianggap sebagai kaum fundamentalis yang anti toleransi.

Seiring dengan semakin militannya masing-masing fihak dengan kebenaran versi mereka, mesin kreatifitas merekapun semakin produktif menghasilkan gelar-gelar busuk untuk “musuh” di seberang sana. Bila anda cukup aktif di media sosial dan rajin mengikuti perkembangan berita soal dua tokoh ini, anda tentu akan familiar dengan istilah-istilah berikut : kecebong, bani serbet, taikers, kaum tanpa sumbu, antek asing dan aseng, dan seterusnya.

Postcomended   Denmark Menjadi Negara Eropa Kelima yang Melarang Burqa

Begitupun dengan istilah-istilah berikut : sumbu pendek, bani sorban, onta, penghuni bumi datar, laskar fentung dan entah apa lagi. Tidak perlu bertanya gelar-gelar itu dibuat oleh siapa untuk siapa.

Sekali lagi, bila anda cukup aktif di media sosial anda tentu mengetahuinya. Kisah perseterun mereka memang telah “basi” sejak beberapa bulan terakhir, namun perdebatan panjang antar pendukung masing-masing masih terus bergemuruh hingga kini.

Habib Riziek dan Ahok sejatinya hanyalah ikon dari sebuah konsep kebenaran yang sedang dipertentangkan. Dan kasus Habib Riziek vs Ahok dengan pendukung fanatiknya hanyalah satu dari sekian banyak contoh pola komunikasi negatif di media sosial.

Bukan soal kebenaran itu yang penulis persoalkan disini melainkan soal etika berdialog yang tak lagi etis. Ruang untuk mengutarakan pendapat yang minim kontrol di media sosial telah melahirkan watak kolektif negatif pada sebagian kita. Bullying masal terhadap seseorang yang berseberangan ide dengan sebuah komunitas seakan telah menjadi sesuatu yang lumrah saja.

Kasus adik Afi Nihaya Faradisa yang pada mulanya meroket namanya lewat tulisan-tulisannya yang viral namun kemudian tercoreng karena kasus plagiarisme adalah contoh lain betapa barbar nya pola komunikasi via media sosial.

Bagaimanapun, plagiarisme adalah pelanggaran etika yang sangat serius dalam dunia literasi. Namun bila kritik atas pelanggaran itu menyasar pada objek yang tidak subtantif dengan kekeliruan yang dilakukan (misalnya dengan menghina fisik dan membuat meme yang melecehkan pribadi) maka kritikan itu menjadi tidak manusiawi.

Postcomended   Facebook Diblokir di Cina, Zuckerberg Diam-diam Rilis "Colourfull Balloons"

Bila saja kita mau kembali kepada pemahaman mendasar soal benar-salah maka kita akan menemukan bahwa ia (konsep soal benar dan salah itu) sangat erat kaitannya dengan pemahaman kita soal tahu dan yakin.

Tahu mengharuskan adanya data sebagai bahan pembuktian atas klaim tahu tersebut. Sebagai contoh, bila saya bertanya apakah anda tahu siapa orang tua anda? Mungkin anda akan dengan mantap menjawab “tahu!” dan andapun bisa memperkuat jawaban itu dengan menyebutkan nama ayah dan ibu anda.

Tapi bila pertanyaan itu saya lanjutkan apa buktinya bahwa mereka adalah orang tua anda? Maka anda berkepentingan untuk menunjukkan data konkret atas pengakuan anda.

Apakah akte kelahiran adalah bukti bahwa anda benar-benar anak orang tua anda? Bukankah ia tak lebih dari sebuah pengakuan bahwa benar anda adalah anak orang tua anda tanpa si pembuat akte sendiri pernah menyaksikan saat dimana anda keluar dari rahim ibu anda.

Sekali lagi, tahu mengharuskan adanya data dan mungkin data terkuat atas status anda sebagai anak orang tua anda adalah hasil tes DNA. Apakah anda memilikinya?

Bila tidak, maka logis kalau saya mengatakan bahwa anda tidak benar-benar tahu siapa orang tua anda. Anda hanya yakin bahwa mereka orang tua anda. Lalu apa yang akan anda lakukan bila ada orang yang mengingkari keyakinan anda tersebut?

Bukankah sangat logis bila kemudian anda marah atau bahkan memperkarakan orang tersebut? Ilustrasi di atas mencoba membuktikan bahwa ada saat dimana keyakinan bisa lebih kuat dari pengetahuan dan dalam banyak hal keyakinan itulah yang kita klaim sebagai kebenaran.

Postcomended   Imigran Mali Penyelamat Anak Kecil Dihadiahi Kewarganegaraan Prancis

Pada titik dimana kita tidak memiliki bukti untuk menghentikan nalar kritis seseorang terhadap objek yang kita yakini, maka disanalah toleransi dibutuhkan. Itulah mengapa tidak ada paksaan dalam agama menjadi prinsip dalam praktek keberagamaan yang diajarkan dalam Islam.

Sebelum kembali ke ide awal tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa konsep soal benar-salah serta tahu dan yakin itu, bisa berpendar dalam banyak peristiwa. Disinilah kemudian konsep kita tentang benar dan salah itu seringkali berbenturan dengan konsep benar-salahnya orang lain.

Maka selain dibutuhkan toleransi dalam hal tertentu, kita juga membutuhkan manajemen konflik. Islam mengajarkan etika berdebat dengan mengatakan bahwa bila memang harus berdebat maka berdebatlah dengan cara yang baik.

Kritik atas ide seseorang atau sebuah kelompok yang tidak subtantif apalagi mengarah kepada pembusukan citra tentu bukanlah cara yang baik dalam metode komunikasi. Apalagi bila pembusukan citra itu diiringi dengan kata-kata kasar lagi kotor.

Adalah menarik untuk mencermati solusi yang ditawarkan budayawan Emha Ainun Najib dalam acara Indnesia Lawyers Club pada 23 Mei 2017 bahwa sudah saatnya kita beristirahat dari kebiasaan memamerkan kebenaran kita dan mempertentangkannya dengan kebenaran orang lain dan akan lebih baik bila mulai sekarang kita berlomba untuk saling mengamankan satu sama lain.

Share the knowledge