Begini Nasib Anak Pelaku Bom Bunuh Diri Gereja Surabaya di “Persembunyiannya”

Nasional
Share the knowledge

 

Kerangka sepeda motor yang sudah tak berbentuk teronggok di area peristiwa bom bunuh diri di gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang menewaskan satu keluarga pelaku bom bunuh diri (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=dBoVi9QCWXw)
Kerangka sepeda motor yang sudah tak berbentuk teronggok di area peristiwa bom bunuh diri di gereja di Surabaya pada Mei 2018 yang menewaskan satu keluarga pelaku bom bunuh diri (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=dBoVi9QCWXw)

Terlempar sesaat setelah orang tuanya meledakkan diri dalam peristiwa bom bunuh diri di gereja di Surabaya pada Mei 2018, M menjadi satu-satunya yang selamat. Kini, M sedang mengikuti satu skema unik perawatan psikologis dan sosial di rumah persembunyiannya di Jakarta.

M saat ini sedang menjalani rehabilitasi bagi anak-anak tersangka teroris untuk dapat kembali menjalani kehidupan normal. Dalam laporannya Kamis (4/7/2019), laman AFP menyebutkan, M menjadi salah satu dari suatu kelompok kecil anak-anak yang dirawat di satu rumah persembunyian di Jakarta.

Di rumah ini dia bersama anak-anak lain pelaku bom bunuh diri atau yang terlibat langsung dalam plot terror, mengikuti skema unik perawatan psikologis dan sosial.

Negara dengan jumlah umat Islam (Muslim) terbesar di dunia ini sedang bergulat dengan ancaman global yang meningkat dari “serangan keluarga” yang terinspirasi ISIS ini; yakni mencari cara bagaimana mengintegrasikan kembali “jihadis” ISIS yang pulang serta kerabat mereka, ketika kelompok ekstremis ini kini kocar-kacir –tantangan yang belakangan ini juga harus dihadapi banyak negara termasuk Prancis dan Amerika Serikat (AS), AFP melaporkan.

Kepala rumah “persembunyian” itu, Neneng Heryani, yang memberi akses eksklusif kepada AFP ke kompleks yang dikelola pemerintah di pinggiran Jakarta itu, mengatakan, tidak mudah berurusan dengan (anak-anak) yang dididik orang tuanya percaya pada radikalisme. Bahkan pemboman disebutkan sebagai hal yang baik.

Postcomended   AHOOY GEBOY CIPTAGELAR ADVENTURE RIDE 2019

“Mereka diajari bahwa jihad sangat penting untuk pergi ke surga dan bahwa kamu harus membunuh orang-orang yang tidak beriman. Sangat sulit untuk mengubah pola pikir itu,” kata Neneng.

Pekerja sosial dan psikolog di sana berusaha untuk menyosialisasikan kembali anak-anak tersebut dengan konseling dan penekanan pada rutinitas sehari-hari yang normal yang mencakup belajar, kunjungan ke masjid, dan waktu bermain yang teratur.

Mendapatkan kepercayaan anak-anak tersebut tidak mudah, tetapi staf di rumah persembunyian itu percaya pendekatan mereka dapat membantu menetralkan tahun-tahun mereka dipasok radikalisme oleh orang tuanya.

Rehabilitasi yang diberikan di rumah tersebut, AFP menulis, antara lain pelajaran tentang pahlawan nasional Indonesia dan Pancasila sebagai ideologi bangsa yang menekankan persatuan dan penghormatan terhadap etnis minoritas dan agama di negara berpenduduk sekitar 260 juta yang tersebar di ribuan pulau ini.

“Kami masih mengajari mereka bahwa Alquran adalah dasar untuk segalanya dan bahwa mereka harus memercayainya. Tetapi jika kamu melanggar hak orang lain, maka itu tidak dibenarkan,” kata pekerja sosial di sana, Sri Musfiah Handayani.

Menurut Sri, kemajuan M sangat signifikan. Sekarang dia dapat berinteraksi dengan orang-orang. Saat dikunjungi, anak-anak di sana termasuk M yang mengenakan jilbab merah muda tampak ceria dan mencium tangan wartawan AFP; suatu tanda penghormatan terhadap yang lebih tua. M belum pernah sekolah di sekolah formal sebelumnya.

Postcomended   PBB Ganjar Surabaya dengan Penghargaan "Global Green City"

Indonesia menurut laporan AFP, memiliki program deradikalisasi yang lebih luas yang telah dilalui oleh sekitar 200 anak yang terkait dengan aksi militan.

“Kami perlu mendekati mereka dengan lembut karena mereka bersedia mati (untuk alasan yang diyakininya) sehingga tidak masuk akal bagi kami menggunakan kekerasan,” Suhardi Alius, kepala Badan Nasional untuk Memerangi Terorisme mengatakan kepada AFP.

Ada kecemasan bahwa anak-anak ini bisa menjadi pemicu untuk kembali ke ekstremisme di kemudian hari. Haula Noor, seorang ahli dalam keluarga yang teradikalisasi di Australian National University (ANU) kepada AFP mengatakan, ada kemungkinan kuat mereka akan jatuh kembali ke ideologi orang tuanya jika stigma tetap ada. “Kita harus memandang anak-anak ini sebagai korban sekaligus pelaku potensial,” tambahnya.

Peristiwa bom bunuh diri yang melibatkan M terjadi pada 13 Mei 2018. Serangan itu terjadi setelah keluarga lain – termasuk seorang gadis berusia sembilan dan 12 tahun yang diketahui berasal dari kelompok belajar Al-Quran yang sama, melakukan pemboman bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya, yang menewaskan mereka sendiri dan selusin jemaat, dan melukai banyak lainnya.

Pada Maret 2019, istri seorang tersangka militan Indonesia meledakkan dirinya dan anak di rumah mereka setelah kebuntuan selama berjam-jam dengan polisi. Insiden-insiden ini, sebut AFP, telah memperburuk ketakutan internasional bahwa perempuan dan anak-anak mereka akan semakin sering digunakan, karena mereka cenderung kurang menarik perhatian.

Postcomended   Bandung Akan Menggelar Festival Sejuta Wisatawan 24 September - 25 Oktober

Tulisan ini bersumber dari artikel yang dimuat di laman AFP pada Kamis (4/7/2019) dengan judul asli: Victims and perpetrators: Rehabilitating Indonesia’s child bombers. Untuk mendapatkan tulisan asli, klik pada judul.***


Share the knowledge

Leave a Reply