Grup PSA yang memroduksi Peugeot, Citroen, Opel dan Vauxhall, tak sanggup menghadapi ancaman AS

Arogansi Donald Trump yang mengatur-atur siapa harus berbisnis dengan siapa, tak hanya mulai membuat Cina berang, melainkan juga sekutu dekatnya, Jerman. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) ini mengeluarkan peringatan bahwa setiap perusahaan yang berdagang dengan Iran akan dilarang berbisnis dengan AS. Beijing dan Berlin bergeming, namun sejumlah perusahaan Eropa goyah.

Reaksi Beijing dan Berlin yang disampaikan Rabu (8/8/2018), mengisyaratkan meningkatnya kemarahan dua negara mitra AS ini, atas ancamannya untuk menghukum bisnis dari negara-negara ketiga yang terus beroperasi di republik Islam tersebut.

AS melakukan hal tersebut sebagai sanksi terhadap Iran yang menurutnya tetap mengembangkan nuklir. Sanksi AS yang diumumkan Selasa, menarget pembelian dolar AS, perdagangan logam, batu bara, perangkat lunak industri, dan sektor otomotif Iran.

Beijing merasa tidak punya alasan menuruti AS, dan mengatakan bahwa kerjasamanya dengan Iran telah direstui PBB. “Cina telah secara konsisten menentang sanksi sepihak dan yurisdiksi bersenjata panjang,” kata kementerian luar negeri Cina.dalam pernyataan faks kepada Reuters.”

Kerja sama komersial Cina dengan Iran, imbuh kementerian tersebut, terbuka, transparan, masuk akal, adil, dan sah; tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. “Hak hukum China harus dilindungi,” tambahnya.

Sementara itu pemerintah Jerman mengatakan, sanksi AS terhadap Iran yang memiliki efek ekstra-teritorial, melanggar hukum internasional, dan Jerman mengharapkan Washington untuk mempertimbangkan kepentingan Eropa saat memberikan sanksi tersebut.

Postcomended   28 Agustus dalam Sejarah: Lokomotif Uap Generasi Awal Dipacu dengan Kuda dan Kalah

Pengesahan kembali sanksi AS atas Iran mengikuti keputusan Trump awal tahun ini yang menarik AS keluar dari kesepakatan 2015 yang mencabut berbagai embargo terhadap negeri Mullah itu. Sanksi kali ini dijatuhkan lagi AS untuk menghukum Iran yang secara sepihak dituduh AS kembali membangun bom atom.

Trump melalui akun Twitter-nya, Selasa, mengatakan, “Ini adalah sanksi paling menggigit yang pernah dikenakan, dan pada bulan November akan naik ke tingkat yang lain. Siapa pun yang berbisnis dengan Iran TIDAK akan berbisnis dengan Amerika Serikat. Saya meminta DAMAI DUNIA, tidak kurang!”

Namun begitu, ancaman Trump efektif terhadap perusahaan-perusahaan, sementara pemerintah negara-negara Eropa membujuk Teheran untuk terus menghormati kesepakatan itu, seraya berjanji untuk mencoba mengurangi pukulan sanksi AS, sekaligus mendesak perusahaan-perusahaan negara mereka untuk tidak mundur.

Tapi itu terbukti sulit. Sejumlah perusahaan Eropa telah meninggalkan Iran, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat mengorbankan bisnis mereka dengan AS. Di antara mereka yang menunda rencana berinvestasi di Iran adalah perusahaan minyak utama Perancis, Total; serta produsen  mobil-mobil besar seperti PSA (Peugeot, Citroen, Opel, dll), Renault, dan Daimler.

Postcomended   6000-an Lagi Produk Cina Bakal Ditarif oleh Trump, Termasuk Kasur dan Bir

Perusahaan rekayasa Denmark, Haldor Topsoe, salah satu produsen katalis industri terkemuka di dunia, mengatakan Rabu, mereka akan memangkas sekitar 200 pekerjaan dari 2.700 tenaga kerjanya di Iran karena sanksi baru AS tersebut yang membuatnya sangat sulit bagi pelanggan di sana untuk membiayai proyek baru.

Kepala eksekutif grup reasuransi Munich Re mengatakan mungkin akan meninggalkan bisnis Iran mereka di bawah tekanan AS, tetapi menggambarkan operasi itu sangat kecil.
Namun Turki, bagaimanapun, mengatakan akan terus membeli gas alam dari Iran.

Iran Menolak Negosiasi

Di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dikutip oleh sebuah surat kabar Iran mengatakan, rencana AS mengurangi ekspor minyak Iran hingga nol tidak akan berhasil. Para pejabat AS telah mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa mereka bertujuan menekan negara-negara untuk berhenti membeli minyak dari Iran dalam upaya untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklir dan rudal dan keterlibatannya dalam konflik regional di Suriah dan Irak.

Sementara itu ekspor Cina mengalami percepatan bahkan ketika Trump meningkatkan perang perdagangan. “Mereka (AS) tidak dapat berpikir bahwa Iran tidak akan mengekspor minyak dan yang lainnya akan mengekspor.”

Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengisyaratkan bulan lalu bahwa Iran dapat memblokir Selat Hormuz, rute pelayaran minyak utama, jika AS berusaha untuk menghentikan ekspor minyak Iran. Bukannya melemah, Trump malah balik mengancam Iran akan menghadapi konsekuensi serius jika mengancam AS.

Postcomended   Bagai Ingin Kucilkan AS, Jepang dan Eropa Tandatangani Perjanjian Dagang Raksasa

Dalam beberapa jam sebelum sanksi diberlakukan pada hari Selasa, Rouhani telah menolak tawaran dari administrasi Trump untuk melakukan negosiasi, dan mengatakan Tehran tidak dapat bernegosiasi sementara Washington sendiri telah mengingkari kesepakatan 2015.

“Jika Anda menikam seseorang dengan pisau dan kemudian Anda mengatakan Anda ingin berbicara, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menghapus pisau itu,” kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi pemerintah.***

Share the knowledge