Internasional

Belajar dari Kanada: Ganja Dilegalkan, Orang Tua Pusing Tujuh Keliling

Saat legalisasi ganja diumumkan, warga Kanada mengibarkan bendera Kanada dengan simbol daun maple diganti simbol daun ganja. (CNN)

Saat legalisasi ganja diumumkan, warga Kanada mengibarkan bendera Kanada dengan simbol daun maple diganti simbol daun ganja. (CNN)


Kecemasan melanda para aktivis kesehatan dan para orang tua ketika Kanada pada Oktober 2018 melegalkan mariyuana alias ganja. Sekitar seminggu sebelum dilegalkan, sejumlah orang tua memenuhi satu aula kecil di Thornbury, kota ski sepi di sebelah utara Toronto. Mereka sedang mempelajari jurus bagaimana cara berbicara kepada anak-anak remaja mereka tentang potensi bahaya ganja.

Di acara itu, sesi kesehatan masyarakat memiliki pesan untuk para orang tua: ganja akan legal untuk orang dewasa, tetapi tidak aman bagi kaum muda. Dan orang tua perlu menanamkan pada anak-anak mereka gagasan bahwa ganja bisa berbahaya.

“Telah terbukti bahwa otak tidak berhenti tumbuh sampai usia 25, namun kami (Kanada) secara hukum (melegalkan) menjualnya kepada mereka yang berusia 19 tahun,” kata Jenny Hanley, seorang konselor kecanduan, ketika meninggalkan rapat tersebut, seperti dilaporkan laman The New York Times. “Apa yang dipikirkan pemerintah kita?”

Kanada menjadi negara kedua yang melegalkan ganja bagi orang dewasa baik membeli, menanam dan mengonsumsi sejumlah kecilnya. Tetapi adalah kejahatan untuk memberikannya kepada yang lebih muda dari 19 atau 18 tahun –tergantung pada provinsinya– dan menetapkan hukuman hingga 14 tahun penjara jika melkarena melakukan hal itu.

Pada saat yang sama, pemerintah memulai kampanye pendidikan publik senilai 83 juta dolar, sebagian besar ditujukan untuk pemuda Kanada, yang memperingatkan bahaya ganja. Tetapi para ahli mengatakan, membujuk para remaja agar tidak melihat legalisasi ini sebagai lampu hijau untuk menggunakan marijuana, akan sangat sulit. Apalagi jika mengingat upaya antinarkoba di masa lalu pun telah menawarkan sedikit bukti keberhasilan. Dan ketika menyangkut ganja dan otak remaja, sains jauh dari jelas.

Para pejabat berpendapat bahwa mengatur pasar ganja, dan menindak penjual ilegal, akan mengurangi penggunaannya yang melonjak di kalangan remaja Kanada, yang, menurut laporan Unicef 2013, sudah menggunakannya lebih dari orang-orang muda di mana pun di dunia.

“Unsur yang paling tidak jujur ​​dari legalisasi ganja adalah bahwa hal itu (mengatur pasar ganja, dll) akan menjauhkannya dari tangan anak-anak,” kata Dr Benedikt Fischer, seorang ilmuwan senior di Pusat Ketergantungan dan Kesehatan Mental di Toronto. “Ini adalah ‘eksperimen’ besar, dalam banyak hal.”

Postcomended   Beranikah Anda? Ini Dia Wisata Menantang Badui Yang Sama Sekali Tidak Tersentuh Teknologi

Namun, para pejabat optimis. “Banyak orang muda berpendapat bahwa ini (ganja) adalah substansi yang sangat jinak tanpa risiko, organik, alami, dan obat,” kata Bill Blair, Menteri Negara yang bertanggung jawab atas legalisasi ganja, yang sebelumnya adalah seorang  kepala kepolisian Toronto. “Ketika Anda mulai memberi orang fakta untuk menggantikan mitologi dan misinformasi, orang membuat keputusan yang lebih cerdas dan lebih baik,” tambahnya.

Usia 9 Isap Ganja, Usia 15 Direhab

Tapi, seperti yang ditemukan para orang tua, memilah-milah sains dan membimbing remaja mereka itu adalah hal yang sulit. Duduk di bangku di belakang di sesi Thornbury adalah Jared Kaye (19). Dia mengisap mariyuana untuk pertama kalinya pada usia 9 tahun sementara juga mengonsumsi alkohol, dan kemudian menambahkan obat yang lebih keras. Dia memulai rehabilitasi pada usia 15 dan menjadi tunawisma.

Dia dan seorang remaja pecandu lainnya dibawa Hanley untuk tinggal di rumahnya di Ontario. “Saya sangat menyakiti keluarga saya,” kata Kaye, yang sekarang berusia 19 tahun. “Saya tidak melakukan apa pun selain melukai diri sendiri.”

Paul Thompson, seorang pengusaha dari Stratford yang menghadiri sesi itu saat sedang berlibur, menganggap ganja tidak terlalu berbahaya jika disbanding alcohol. Ketika putranya yang berusia 21 tahun ditangkap beberapa tahun lalu atas tuduhan marijuana, Thompson memutuskan menyediakan marijuana sendiri, untuk memastikan tidak dicampur obat lain.

“Saya pikir alkohol menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar,” kata Thompson, orang tua tunggal. “Saya tidak percaya ganja itu adiktif. Orang yang kecanduan memiliki masalah (lain) yang lebih dalam,” katanya, defensif.  Yang membingungkan adalah bahwa kedua pria itu ada benarnya.

Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan marijuana pada remaja dapat merusak fungsi otak untuk beberapa waktu setelah ganja telah meninggalkan tubuh mereka, dan kekhawatiran yang dikemukakan oleh beberapa ahli adalah bahwa banyak remaja menggunakan ganja untuk mengobati diri sendiri untuk kecemasan atau depresi.

Postcomended   Tersadar Setelah Operasi Jantung, Arnold Schwarzenegger: “I’m Back!”

Risiko pada Otak Muda

Sebagian besar ilmuwan setuju bahwa risiko terhadap otak muda adalah yang terbesar bagi mereka yang mulai merokok pada usia 12 tahun atau lebih muda, yang merokoknya secara teratur dan memilih mariyuana berkhasiat tinggi. Merokok ganja juga berbahaya bagi orang muda dengan riwayat keluarga penyakit mental serius, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar.

Tetapi bagi orang-orang muda yang mulai bereksperimen dengan narkoba tersebut pada usia yang lebih muda, risiko kerusakan jangka panjang pada otak mereka yang sedang tumbuh, berkurang. “Ini adalah pernyataan yang masuk akal untuk mengatakan bahwa itu bisa berdampak pada otak yang sedang berkembang,” kata Matthew Hill, ahli saraf Universitas Calgary yang telah mempelajari cannabinoids selama 18 tahun, dilansir The New York Times.

Sementara itu sejumlah penelitian menemukan bahwa penggunaan ganja secara teratur oleh remaja mengubah struktur otak dan fungsi kognitif jangka panjang, (namun) penelitian lanjutan menyanggah temuan tersebut dan menyimpulkan bahwa penggunaan alkohol, merokok, dan latar belakang keluarga, adalah penyebab utama dalam penurunan IQ.

Satu analisis terbaru dari 69 penelitian pada pengguna ganja muda dan sering, yang diterbitkan di JAMA Psychiatry, menemukan bahwa efek negatif pada fungsi kognitif menghilang setelah 72 jam bebas obat. “Ganja berkorelasi dengan banyak hal,” kata James MacKillop, rekan dari direktur pusat penelitian ganja obat Universitas McMaster di Hamilton.

Namun kata MacKillop, mempelajari apakah itu terkait secara kausal adalah hal yang jauh lebih rumit. “Jika Anda menggunakan ganja saat berusia 12 atau 13, mungkin ada banyak hal lain yang terjadi,” lanjutnya. “Mungkin ada pengawasan orang tua yang buruk, lebih banyak stres kehidupan awal atau disorganisasi keluarga.”

Yang membuat makin membingungkan, tidak ada strategi tertentu untuk menghentikan anak-anak muda dari mencoba ganja. Beberapa unit kesehatan masyarakat telah mengadopsi strategi pengurangan-bahaya, yang mendesak para remaja menghabiskan lebih banyak hari-hari “tanpa kanabis” dan tidak mengemudi dalam keadaan teler. Namun yang lain memberitakan tidak ada pantangan.

Postcomended   Akses Internet Pendiri Wikileaks Diputus Kedutaan Ekuador

Peneliti pencegahan narkoba mengatakan mereka tahu di sebelah mana yang tidak berhasil dari kampanye anti-narkoba. Sebagai contoh, studi di Amerika Serikat menemukan, program DARE yang populer, yang mengirim petugas polisi ke sekolah untuk mengajar anak-anak bagaimana mengatakan “tidak” terhadap narkoba, tidak berpengaruh ataupun menjadi lebih buruk. Namun dalam beberapa kasus, meningkatkan penggunaan alkohol, rokok, dan obat-obatan lainnya.

Rebecca Haines-Saah, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Calgary, yang mempelajari penggunaan kanabis oleh remaja dan pencegahan bahayanya, mendorong orang tua untuk berbicara kepada anak-anak mereka secara dini dan teratur tentang konsekuensi dari semua zat, termasuk kafein. “Jika kita tidak jujur ​​kepada anak-anak, mereka akan menemukan informasi di tempat lain,” katanya.

Dengan legalisasi ganja di Kanada, banyak orang tua bertanya-tanya seberapa mengkhawatirkannya menjadi seorang remaja di negeri tersebut. Menurut laporan biro sensus baru-baru ini, 32,7 persen remaja telah merokok ganja dalam tiga bulan sebelumnya, misalnya. Pada pertemuan Thornbury, Kaye mengatakan dia pikir orang tua harus mengambil pendekatan individual.

Orangtuanya, katanya, sangat ketat, yang memicu sifat pemberontakannya. “Bagi saya, saya butuh cinta,” kata Kaye. “Aku harus merasa diperhatikan.” Nasihat Kaye  tampak lebih seperti panduan untuk menjadi orang tua, daripada pencegahan narkoba. “Terbukalah kepada anak-anakmu. Cobalah memiliki hubungan yang dekat sehingga mereka merasa nyaman memberi tahu Anda apa yang mereka coba dan apa yang dilakukan teman-teman mereka.”***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top