Internasional

Belgia Selidiki Kelompok “Hak-untuk-Mati” yang Sarankan “Bubuk Bunuh Diri”

Share the knowledge

Kelompok "hak-untuk-mati" disebut telah mempromosikan "bubuk bunuh diri", yang membuat mereka yang ingin mati tidak perlu melibatkan dokter untuk melakukan euthanasia dan tidak ditemukan unsur criminal didalamnya (gambar dari: https://www.sbs.com.au/yourlanguage/node/1213654?language=it)

Kelompok “hak-untuk-mati” disebut telah mempromosikan “bubuk bunuh diri”, yang membuat mereka yang ingin mati tidak perlu melibatkan dokter untuk melakukan euthanasia dan tidak ditemukan unsur criminal didalamnya (gambar dari: https://www.sbs.com.au/yourlanguage/node/1213654?language=it)


Jaksa Penuntut Umum Belgia akan menyelidiki kelompok “hak-untuk-mati” yang telah menawarkan saran penggunaan “bubuk bunuh diri”. Kelompok bernama “Last Will” ini pada 2018 telah diblokir otoritas Balanda.

Kelompok Last Will, yang memiliki sekitar 23 ribu anggota yang membayar dengan usia rata-rata 69 tahun, telah diblokir otoritas Belanda tahun lalu karena membantu sekitar 1.000 orang membeli obat yang mematikan itu, tetapi terus menawarkan saran tentang cara mencari celah hukum untuk mendapatkannya.

Dilansir laman The Guardian, kantor kejaksaan di Flanders timur, Belgia, membuka penyelidikannya terhadap kegiatan kelompok itu menjelang pertemuan dengan 700 cabang Belgia yang kuat di kota Flemish, Ghent, pada 24 Juni 2019 ini.

Jaksa mengatakan kepada surat kabar De Morgen bahwa penyelidikan itu masih pada tahap awal dan bahwa fokus awal adalah pada sifat yang tepat dari zat mematikan yang sedang dipromosikan tersebut.

Postcomended   2 Januari dalam Sejarah: Runtuhnya Jaringan Spionase Nazi Terbesar di AS

Eutanasia oleh para dokter dibolehkan secara hukum (legal) di Belgia dan Belanda, ketika pasien-pasien dengan pikiran sehat berada dalam “penderitaan yang tak tertanggungkan” dan telah berulang kali mengajukan permintaan untuk mati.

Namun, para juru kampanye “hak-untuk-mati” tersebut bersikeras bahwa keharusan melibatkan dokter menjadi penghalang bagi mereka yang ingin mengakhiri hidup mereka pada waktu yang mereka pilih sendiri.

Pada September 2017, Last Will mengumumkan telah menemukan obat “pilihan terakhir” yang dapat dibeli secara legal dan akan memberikan kematian secara damai, sebuah klaim yang telah ditentang oleh beberapa orang yang telah menyaksikan penggunaannya.

Kelompok itu diberi tahu Maret lalu bahwa akan melanggar hukum Belanda jika melanjutkan rencana untuk membantu sekitar 1.000 anggotanya untuk bunuh diri melalui penyediaan “bantuan materi”.

Nasihat itu mengikuti penyelidikan jaksa atas kematian seorang wanita berusia 19 tahun yang telah membeli bubuk itu secara online. Tidak ada tindak pidana yang dapat ditemukan atas apa yang dilakukan Last Will.

Postcomended   Asian Games 2018, Reog, dan Tarian Nusantara Dipromosikan di Hiroshima

Hukum Belgia mirip dengan Belanda dalam mengkriminalkan mereka yang membantu bunuh diri untuk membeli obat mematikan untuk tujuan bunuh diri.

Euthanasia yang dibantu dokter dilegalkan pada 2002 di Belgia dan negara itu meliberalisasi undang-undangnya pada 2014 menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengizinkan eutanasia anak-anak. Tiga anak berusia sembilan, 11 dan 17, sejak itu telah ditidurkan. Mereka menderita kondisi yang tidak dapat disembuhkan di mana mereka diharapkan akan mati dalam waktu singkat.

Dalam 19 tahun sejak dokter diberikan hak untuk membunuh pasien secara hukum, lebih dari 10.000 orang telah di-eutanasia di Belgia. Total deklarasi eutanasia adalah 2.357 pada 2018, naik 1,8% dari tahun sebelumnya. Gwendolyn Portzky, direktur Flemish Center for Suicide Prevention, mengatakan, organisasinya takut Last Will akan mendorong orang untuk berpikir untuk bunuh diri.

Postcomended   18 Juli dalam Sejarah: Adolf Hitler Terbitkan Manifesto Politiknya dalam "Mein Kampf"

Investigasi kriminal pertama di bawah undang-undang euthanasia yang direformasi diluncurkan tahun lalu terhadap tiga dokter dari Flanders timur yang terlibat dalam kematian seorang wanita berusia 38 tahun dengan sindrom Asperger, suatu bentuk autisme. Keluarganya telah mengajukan tuntutan pidana dengan tuduhan bahwa banyak “penyimpangan” yang terjadi pada proses euthanasia-nya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top