Internasional

Ben Gomes: Masa Depan Internet Bukan pada Robot AI dan Mobil Swakemudi #SURUHGOOGLEAJA

Ben Gomes, a Google fellow, in front of a wall at the company’s California headquarters that shows search terms.  Credit Peter DaSilva for The New York Times

Ben Gomes, a Google fellow, in front of a wall at the company’s California headquarters that shows search terms. Credit Peter DaSilva for The New York Times

Perusahaan-perusahaan rintisan alias startup, belakangan ini terkesan fokus pada pegembangan robot kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dan mobil swakemudi. Namun Kepala Pencarian Google, Ben Gomes, berpendapat masa depan internet ada di pemahaman yang lebih baik tentang bahasa umum, dan ini dibutuhkan di negara berkembang dengan tingkat melek huruf yang rendah.

“Pengenalan ucapan dan pemahaman bahasa adalah inti dari masa depan pencarian dan informasi,” kata Gomes. “Tapi ada banyak masalah sulit seperti memahami cara kerja referensi, memahami apa yang dia (she, he, atau it) rujuk pada kalimat. Ini sama sekali bukan masalah sepele untuk dipecahkan dalam bahasa, dan itu hanya salah satu dari jutaan masalah yang harus dipecahkan dalam bahasa.”

Gomes berbicara kepada The Guardian menjelang ulang tahun ke-20 Google pada 24 September, lebih dari tujuh tahun setelah Google meluncurkan layanan suara pertamanya sebagai text-to-text sederhana untuk pencarian (“hallo Google”).

Postcomended   Ketakutan Muncul Seiring Tren Penggunaan Teknologi Pengenalan Wajah

Sekarang dengan telah dibangun ke dalam mesin pencarian Google serta asisten suara AI-nya yang tertanam dalam miliaran smartphone di seluruh dunia, pengenalan suara telah menjadi penting di negara-negara berkembang dengan tingkat melek huruf yang rendah.

“Tidak jelas bagi kami bahwa apa yang tampak seperti teknologi canggih di Barat, tampaknya seperti hal dasar yang Anda butuhkan di negara-negara seperti India. Jadi itu semacam membalik pembicaraan saja,” kata Gomes, yang lahir di Tanzania dan dibesarkan di Bangalore, India.

Menurut Gomes, banyak bahasa di negara berkembang tidak pernah benar-benar memiliki keyboard umum. “Saya belajar bahasa Hindi selama 10 tahun, tetapi saya tidak tahu cara mengetikannya, jadi suara jauh lebih mudah digunakan daripada mengetik.”

Postcomended   Hugh Hefner Pemilik Kerajaan Playboy Meninggal di Usia 91

Upaya Google untuk memahami bahasa bukanlah hal baru. Pada 2000, Google memulai dengan “koreksi ejaan”; yang sedikit lebih rumit daripada hanya menambahkan kamus. Setelah itu, Google menggarap apa yang disebut Gomes sebagai “pelunakan kata-kata”.

Banyak masalah sulit menghalangi komputer untuk benar-benar memahami bahasa pada tingkat manusia, tetapi bagi Gomes, masa depan terletak pada “anggapan bahwa bahasa akan menjadi lebih mudah digunakan untuk mencari informasi”.

“Anda (suatu hari nanti) akan dapat mengajukan pertanyaan yang jauh lebih canggih dan dengan cara yang lebih canggih (juga). Anda benar-benar dapat melakukan percakapan dengan Google,” ujar Gomes.

Siapa Gomes? Gomes adalah insinyur yang bertugas meningkatkan apa yang Anda lihat di Google. Dari salah satu sudut kantor yang paling penting tetapi justru kurang dikenal di Googleplex di Mountain View, Gomes bertanggung jawab membentuk saran otomatis yang didapat pengguna saat mereka mulai mengetik pertanyaan, dan beberapa baris teks dan tautan yang mereka dapatkan kembali, yang disebut Google “the snippet” (cuplikan). Dia melihat semburan digital dari 1 miliar pertanyaan pencarian harian Google.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top