Masalah Pajak yang Membelit Google di Indonesia - Kompas.com Kompas Tekno

Masalah Pajak yang Membelit Google di Indonesia – Kompas.com Kompas Tekno

Pendapatan negara yang paling besar adalah dari pajak. Pajak yang dikeluarkan atau dibayarkan oleh rakyatnya besarnya pajak akan disesuaikan dengan benda atau objek yang kena pajak. Yang membayar pajak bukan hanya pemilik kendaraan dan rumah saja, melainkan orang yang berpenghasilan, karena jenis pajak bukan hanya pajak barang saja, melainkan juga pajak penghasilan dan juga pajak usaha. Indonesia pun terus mengontrol progres perpajakannya dan ternyata di tahun ini, perpajakan mengalami surplus.

Tanda kenaikan progres pajak adalah dihitung dari banyaknya tingginya pendapatan pajak daripada pengeluaran negara. Bisa diibaratkan keuntungan yang didapatkan dari harga jual lebih besar daripada harga beli. Progres positif inilah yang selalu dinanti-nantikan, karena akan memperbaiki perekonomian negara. Memang tidak mudah untuk meningkatkan progres perpajakan negara. Namun jika tidak segera diperbaiki sistemnya maka akan mengakibatkan hutang negara semakin banyak. Hutang yang nantinya akan dibebankan kepada rakyat, karena operasional negara adalah dari jangan pajak rakyat.

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia, menyatakan bahwa surplus pajak Indonesia pada April 2018 meningkat sebesar 24,2 triliun rupiah. Sebuah nilai surplus yang lumayan bagus dan menjadikan awal perkembangan sektor pajak Indonesia yang mulai membaik. Padahal pada bulan sebelumnya surplus pajak Indonesia hanya sampai di angka 17, 2 triliun saja. Selisihnya dengan bulan ini adalah 7 triliun rupiah. Sejauh selisih yang cukup besar dan menguntungkan.

Postcomended   Daimler Kibarkan Bendera Perang pada Tesla

Mulyani menyatakan bahwa perpajakan mengalami surplus yang cukup siginifikan. Di mana beliau menyatakan bahwa kenaikan perpajakan itu termasuk dalam keseimbangan primer. Keseimbangan primer ini didapatkan dari tingginya sisa pendapatan pajak negara dikurangi dengan belanja negara.

Perpajakan mengalami surplus memiliki persentase sebanyak 22 %. Peningkatan yang cukup besar dan berarti. Setelah sebelumnya tidak mengalami peningkatan sama sekali. Untuk rincian peningkatan pajak di tahun ini adalah peningkatan sebanyak 17, 2% untuk Pajak Penghasilan non migas atau PPh no migas dan 4,1 % untuk PPN atau Pajak Pertambahan Nilai.

Dari peningkatan sektor pajak tahun ini, ada juga peningkatan lain yang dikaji oleh Sri Mulyani, yaitu peningkatan pada PNBP atau Penerimaan Negara Bukan Pajak. Dari catatan yang diperoleh, PNPB yang didapat adalah 133, 6 triliun. Bisa digunakan untuk kas negara. Di mana kas tersebut akan digunakan untuk biaya operasional negara yang lainnya. Terlebih bisa digunakan untuk mencicil hutang luar negeri.

Postcomended   Terungkap: 50 Juta Akun Facebook Disalahgunakan Cambridge Analytica

Dengan mengatur keuangan negara, dipastikan hutang luar negeri bisa diperkecil. Pajak rakyat yang ditarik pun bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Tentunya juga untuk keperluan rakyat.

Sri Mulyani akan terus memantau kenaikan sektor pajak ini, sehingga perpajakan mengalami surplus dengan lebih seimbang lagi. Pemberlakuan tax amnesti sangatlah bermanfaat.